Mengenal Demonologi, Studi yang Mempelajari Setan dan Iblis

Mengenal Demonologi, Studi yang Mempelajari Setan dan Iblis

Naviri Magazine - Demonologi adalah studi dan klasifikasi serta sifat-sifat pada demon secara sistematis. Demonologi juga merupakan salah satu cabang studi dari ilmu teologia. Bahkan demonologi dipelajari secara mendalam oleh Gereja Katolik Roma dalam pembinaan terhadap para pastor (dalam hal ini yang lebih terfokus dalam pembelajaran untuk menjadi seorang exorcist).

Jika ditelusuri dari akarnya, demonologi berasal dari kepercayaan Semit Kuno dan teks-teks suci Kristen, yang kemudian berkembang menjadi suatu konsep yang imajinatif. Di mana dalam studinya, demonologi berusaha untuk mengklasifikasikan demon-demon yang ada dengan suatu sistem tertentu.

Dalam prosesnya, tidak terdapat suatu dasar yang empiris atau “benar-benar ilmiah” untuk pengklasifikasian tersebut. Hal inilah kemudian yang membuat studi demonologi menjadi studi dengan konsep yang imajinatif, karena demon adalah suatu entitas yang imajiner, dan sangat tidak mungkin dihubungkan dengan akal sehat.

Studi demonologi juga telah dipercaya eksis sejak ribuan tahun yang lalu, baik pada kebudayaan timur maupun barat. Namun, studi ini kemudian lebih berkembang di kebudayaan barat karena studi-studi terdahulu direkam secara tertulis dalam bentuk buku/teks yang akhirnya masih bertahan hingga sekarang dan menjadi dasar bagi studi demonologi berikutnya.

Studi demonologi di barat pada zaman terdahulu pada umumnya mengambil dasar dari karya-karya literatur dari teks-teks kuno kepercayaan Abrahamik, catatan ahli teologia, maupun tulisan dari penelitian demonologist terdahulu (yang pada zaman dulu merupakan orang yang memiliki pemahaman sangat tinggi dalam teologia).

Sedangkan kebudayaan di timur umumnya lebih melalui oral tradition/tradisi lisan yang diturunkan secara turun-temurun dari leluhur (mitos, cerita rakyat, kebudayaan, kepercayaan, dll) dan sangat jarang terekam secara tertulis dalam buku ataupun teks sejenisnya.

Oleh karena itu, jangan heran jika hampir 80 persen dari semua sumber tertulis tentang demonologi yang ada pada zaman sekarang berkaitan erat dengan pandangan dari kepercayaan Abrahamik, terutama teologia Kristen (agama mayoritas di Barat saat itu).

Arti Demon adalah makhluk/entitas supernatural yang bukan manusia, dan “biasanya” digambarkan sebagai pribadi yang jahat, licik, dan memiliki kekuatan untuk mendatangkan hal yang buruk kepada manusia.

Sebenarnya, arti demon jika ditinjau dari akarnya, yaitu Daemon, tidak mengandung konotasi negatif ataupun buruk bagi manusia. Tetapi, dalam perkembangannya, terutama dalam kepercayaan peradaban Mesopotamia Kuno dan agama Abrahamaik, termasuk demonologi Kristen abad kuno dan pertengahan, demon dianggap sebagai roh kotor yang bisa menyebabkan kesurupan, yang harus ditangani dengan exorsisme.

Dalam okultisme Barat dan pemahaman sihir Renaisans, yang merupakan pencampuran paham tentang sihir pada zaman Yunani-Romawi, demonologi Yahudi, dan sudut pandang teologi Kristen, demon adalah entitas supernatural yang dapat dipanggil dan dikendalikan. Banyak demon dalam studi terhadap literatur awalnya dipercaya merupakan malaikat yang jatuh/dibuang.

Batasan tipe demon yang dipelajari dalam demonologi

“It is not a science, but an imaginative concept.” --Jesse Penn-Lewis

Dalam studi demonologi, tidak ada suatu tata aturan/prinsip-prinsip yang secara khusus mengatur ataupun membatasi tipe demon yang dipelajari; mana yang termasuk demon ataupun mana yang bukan. Tetapi, pada dasarnya, “makhluk/entitas“ yang termasuk dalam kategori demon dalam studi demonologi pada umumnya memiliki beberapa karakteristik berikut:

• Malaikat-malaikat dalam tradisi kepercayaan Abrahamik yang dibuang/jatuh ke dunia.

• Roh/spirit yang menyerupai manusia, hewan, atau makhluk hidup lainnya, yang biasanya berkaitan dengan mitos, sihir dan guna-guna (witchcraft). Contoh: Satyr (Yahudi), Shikigami (Jepang), Nagual, Wayob (Mesoamerika).

• Roh-roh yang berasal dari kepercayaan animisme, bangsa semit kuno, pagan, dan kepercayaan agama lainnya. Contoh: Djinn/Jin (Arab), Pazuzu, Tiamat (Mesopotamia Kuno), Torngarsuk (Inuit).

• Roh-roh yang memiliki pengaruh ideologi yang kuat pada kultur ataupun kepercayaan suatu suku/masyarakat tertentu. Contoh: Asura (India), Abyzou (Yahudi), Wewe Gombel (Jawa dan Sunda).

Kepercayaan mengenai keberadaan demon sebenarnya sudah berlangsung ribuan tahun yang lalu. Selain dari yang telah disebutkan di atas, studi demonologi juga sangat beragam, dan banyak mendapat pengaruh dari berbagai budaya maupun paham dari peradaban-peradaban yang ada di dunia, yang kemudian menghasilkan suatu cakupan studi yang lebih luas dan interkultur (demon pada satu kultur di suatu peradaban bisa mirip bahkan sama dengan demon pada kultur peradaban lainnya).

Beberapa contoh studi demonologi dalam beberapa peradaban:
• Mesopotamia Kuno
• Demonologi Yahudi
• Demonologi Kristen (Christian/Biblical Demonology)
• Tradisi Islam (Demons in Islam)
• Tradisi Buddha (Demons in Buddhism)
• Tradisi Hindu (Demon in Hinduism)
• Occultisme
• Zoroastranisme
• Dan lain-lain.

Baca juga: Nama-nama Setan dan Iblis dari Seluruh Dunia

Related

Science 309461906489059437

Recent

item