Dilema Deposito, Jumlah Uang Bertambah tapi Nilainya Merosot

Dilema Deposito, Jumlah Uang Bertambah tapi Nilainya Merosot

Naviri Magazine - Dibanding investasi lainnya, deposito adalah investasi yang aman. Karena, bahkan umpama bank tempat kita menyimpan deposito mengalami kebangkrutan, dana deposito kita akan dijamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan), sehingga uang deposito kita tidak hilang.

Namun, apakah menabung di deposito cukup aman dalam menjaga nilai uang? PT Bahana TCW Investment Management, salah satu perusahaan investasi, menghitung kinerja antar aset selama 10 tahun terakhir, hingga September 2016. Mereka membandingkan kinerja saham, surat utang negara, inflasi, dan bunga deposito.

Mereka yang menempatkan uang pada investasi saham, mendapatkan keuntungan atau imbal hasil total 249,6 persen, atau rata-rata tumbuh 15 persen per tahun. Investasi surat utang negara (SUN), mendapat keuntungan 201,3 persen, dengan rata-rata pertumbuhan 12 persen.

Keuntungan itu jauh melampaui bunga deposito selama sepuluh tahun, yang hanya 59,2 persen atau rata-rata 4,6 persen per tahun. Keuntungan dari deposito bahkan lebih kecil dari inflasi yang mencapai 76,4 persen selama sepuluh tahun. Jika dibandingkan dengan inflasi makanan, bunga deposito malah tampak jauh tertinggal. Dalam sepuluh tahun terakhir, inflasi makanan mencapai 141 persen.

Artinya, menyimpan uang terlalu lama di deposito hanya akan membuat nilai uang itu menurun, meskipun secara jumlah ia bertambah. Nilai yang dimaksud di sini adalah daya beli dari uang. Misal, tahun 2007 uang Rp10.000 bisa digunakan membeli beras 2 kilogram. Tahun ini, uang segitu hanya bisa dipakai untuk membeli beras satu kilo. Nilai uang berkurang karena inflasi.

Nah, data selama sepuluh tahun terakhir menunjukkan bahwa menabung di deposito tak bisa menjaga nilai daya beli uang. Sebab inflasi masih lebih tinggi dari total bunga deposito itu sendiri.

“Orang-orang kaya terdahulu itu kaya karena mereka berinvestasi, bukan hanya menabung,” ujar Budi Hikmah, ekonom yang juga Direktur PT Bahana TCW Investment Management.

Meski begitu, Budi menolak menyebut deposito tak berguna. Menurutnya, deposito baik digunakan untuk menjaga likuiditas. Tetapi bukan pilihan tepat untuk anak muda yang produktif.

Dalam sepuluh tahun itu, volatilitas deposito tampak paling stabil. Jika dicermati, standar deviasi deposito terendah dibandingkan saham, SUN, dan inflasi, yakni hanya 0,3 persen. Semakin besar angka standar deviasi, berarti semakin tinggi volatilitas. Ini terjadi pada saham, standar deviasi saham tercatat 21,5 persen.

Untuk jangka pendek, investasi saham tentu berbahaya, tetapi untuk jangka panjang, volatilitas tinggi itu tak menjadi masalah. Budi mengatakan, dalam setiap periode 4,8 tahun, pokok investasi saham akan bertambah dua kali lipat. Angka 4,8 tahun itu didapat dengan cara membagi 72 dengan keuntungan rata-rata per tahun.

“Rule 72 ini digunakan untuk melihat berapa lama waktu yang kita butuhkan agar nilai pokok investasi mencapai dua kali lipat,” jelas Budi.

Mari kita lihat deposito. Dengan rata-rata bunga 4,6 persen per tahun, dibutuhkan hampir 16 tahun agar pokok simpanan di deposito berganda.

Selama sepuluh tahun terakhir, suku bunga deposito relatif dekat dengan inflasi inti. Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung menetap atau persisten di dalam pergerakan inflasi, dan dipengaruhi faktor fundamental. Angka inflasi inti ini yang biasa digunakan Bank Indonesia untuk merumuskan kebijakan moneter.

“Deposito jelas tidak bermanfaat bagi masyarakat muda, sebab tergerus inflasi, apalagi inflasi makanan,” imbuh Budi.

Baca juga: Bisakah Hidup Tanpa Kerja, dan Hanya dari Bunga Deposito?

Related

Money 7475110154126122993
item