Dunia Mulai Bingung Karena Kehabisan Lahan Pemakaman

Dunia Mulai Bingung Gara-gara Kehabisan Lahan Pemakaman

Naviri Magazine - Perang atau bencana alam bisa membuat banyak negara kebingungan. Namun, ada hal yang mungkin tak terduga, yang juga bisa membuat banyak negara kebingungan. Yaitu makin sempitnya lahan pemakaman.

Manusia membutuhkan “tempat tinggal” tidak hanya saat masih hidup, tapi juga setelah mati. Setelah mati, sebagian mereka perlu dikubur, dan hal itu membutuhkan lahan. Meski lahan yang dibutuhkan relatif sempit, namun bagaimana pun lahan yang ada akan terus berkurang karena terus digunakan untuk mengubur orang mati. Akibatnya, lahan pemakaman makin sempit dan terancam habis.

Survei BBC tahun 2013 menunjukkan bahwa hampir setengah dari kompleks pemakaman di Inggris akan kehabisan tempat dalam 20 tahun ke depan. Terbatasnya lahan pemakaman membuat harga tanah makin melambung. Dua tahun berselang, banyak orang Inggris kemudian beralih ke metode kremasi.

“Pihak berwenang setempat harus berusaha mencari lahan untuk kuburan baru yang harganya mahal. Tapi mereka pun masih harus menutupi biaya pemeliharaan kompleks kuburan lama,” kata Tim Morris, Kepala Eksekutif Pengelola Pemakaman dan Manajemen Krematorium di Inggris.

Selain metode kremasi, solusi lain yang ditempuh di Inggris adalah daur ulang liang lahat. Caranya, jasad lama diangkat, dibersihkan, dan dikubur lebih dalam. Setelah itu, ruang di bagian atas digunakan untuk menampung jenazah baru.

Di negara Eropa lainnya, seperti Jerman, praktik daur ulang kuburan telah dijalankan dengan regulasi yang berbeda: sepetak makam menampung jenazah dalam jangka waktu yang lebih cepat, sampai akhirnya digunakan untuk jenazah baru.

Di kompleks kuburan di pulau San Michele, Venesia, Italia, kebijakannya lebih ekstrem lagi. Begitu jenazah membusuk, ia akan dipindahkan dari liang lahat. Kebijakan ini diambil, karena jumlah orang yang ingin mengubur jenazah keluarganya di kompleks pemakaman tersebut sudah melampaui batas wajar.

Makin sempitnya lahan kuburan juga dirasakan Israel. Pemerintah merespons dengan membangun terowongan berisi kuburan model bertingkat. Kendati demikian, proyek ini ditentang oleh sejumlah kelompok Yahudi Ortodoks.

Problem keterbatasan lahan kuburan juga merambah ke kota-kota Asia, sampai-sampai memaksa beberapa orang untuk mengubah tradisi pemakaman keluarganya. Bahkan Jepang, yang mengenal tradisi kremasi, masih membutuhkan lahan pemakaman lengkap dengan bangunan kijing makam. Sebab, abu jenazah yang telah disimpan di dalam sebuah guci, dirumahkan lagi di sebuah area pemakaman keluarga.

Baca juga: Ritual Kematian Paling Aneh dan Mengerikan Sepanjang Sejarah

Related

World's Fact 927469852305441672

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item