Kontroversi Ilmuwan yang Menghidupkan Kembali Makhluk Mati

 Kontroversi Ilmuwan yang Menghidupkan Kembali Makhluk Mati

Naviri Magazine - Bagi sebagian ilmuwan, bisa menghidupkan kembali makhluk yang telah mati—khususnya hewan—adalah impian yang menggoda. Pasalnya, jika hal itu bisa terwujud, hewan-hewan yang punah bisa diciptakan kembali. Tujuannya tentu demi kondisi alam yang baik, sebagaimana ketika hewan-hewan itu belum punah.

Dalam film Jurassic Park, John Hammond menghidupkan kembali aneka dinosaurus untuk membangun taman margasatwa impiannya. Juga mungkin mengesankan jika bisa melihat kawanan mamut atau harimau taring pedang dalam sebuah kebun binatang purba. Namun, di dunia nyata, upaya menghidupkan kembali hewan punah tidak dimaksudkan sekadar demikian.

“Jika ingin membangun kebun binatang, sebaiknya tak usah,” kata ahli ekologi Ben Novak seperti dikutip David Shultz. “Awapunah harus ditujukan untuk pemulihan dan fungsi ekologi.”

Kita harus ingat bahwa spesies-spesies yang punah, seperti mamut, punya fungsi ekologi di masanya. Ketika mamut punah, padang rumput Arktik purba habitat mereka perlahan-lahan berubah jadi padang tundra dan taiga berlumut, yang melepaskan sejumlah besar karbon dioksida ke atmosfer.

Menurut ahli biologi Harvard, George Church, menghidupkan lagi mamut diklaim bisa berarti memperlambat perubahan iklim.

“Ada pelepasan karbon dioksida dua kali lebih banyak di tundra yang berisiko daripada di semua hutan dunia,” katanya dikutip David Shultz. Padang tundra yang tandus juga bisa dikembalikan jadi padang rumput yang subur.

Akan tetapi, menurut Carl Zimmer, yang sebenarnya lebih mendesak dilakukan adalah mencegah kepunahan massal. Bagaimanapun, proses menghidupkan kembali hewan punah menelan banyak biaya dan waktu, sementara urgensinya rendah. Upaya itu akhirnya hanya mengalihkan kita dari tugas besar yang semestinya dilakukan: konservasi.

Dan lagi, spesies-spesies yang punah itu telah kehilangan habitat aslinya. Jika pun spesies punah itu bisa dihidupkan kembali dan bisa hidup di habitat baru, hal ini juga membikin masalah-masalah baru. Bisa saja spesies rekayasa itu menjadi inang bagi virus yang justru bisa memusnahkan spesies lain.

Masalah lain yang menghampiri, tentu saja soal etika. Sebagian orang menentang ide upaya menghidupkan kembali hewan punah, karena dianggap menyamakan diri dengan Tuhan. Karenanya, pakar DNA purba dari Copenhagen University, Tom Gilbert, sebagaimana dikutip Tom Mueller, memberi kita satu pertanyaan terkait bijak atau tidaknya menghidupkan kembali spesies yang telah punah.

“Jika kita dapat mengklon mamut, kita dapat mengklon semua yang telah mati, termasuk nenek kita. Tapi apakah kita benar-benar ingin menghidupkan kembali nenek kita yang telah mati?”

Baca juga: Dunia Geger Gara-gara Lahirnya Sepasang ‘Bayi Super’ di Cina

Related

Science 8681799424090680486
item