Waduh, Indonesia Akan Segera Kehabisan Tanah Pemakaman

 Waduh, Indonesia Akan Segera Kehabisan Tanah Pemakaman

Naviri Magazine - Filipina adalah salah satu negara yang memiliki tradisi pemakaman mirip Indonesia, yaitu menguburkan jenazah ke tanah pemakaman. Namun, belakangan, tradisi itu berubah gara-gara Filipina kehabisan ruang untuk memakamkan jenazah. Akibatnya, tradisi pemakaman di Filipina berubah, dari semula dikubur menjadi dikremasi.

Dilansir dari Inquirer, tren kremasi jenazah telah memperkuat persaingan dalam industri peti mati di Filipina, karena jumlah permintaannya makin surut.

"Beberapa keluarga yang memanfaatkan jasa pemakaman kami memilih kremasi. Peti hanya disewa untuk memperlihatkan jenazah (kepada pelayat) saja," kata Nadinee Arceo, pemilik Kapel Memorial St. Louis, yang melayani prosesi kematian mulai dari menjual peti mati sampai kremasi.

Abu hasil kremasi pun dimasukkan ke dalam guci, yang selanjutnya dikubur atau disimpan dalam krematorium. Kremasi hanya menghabiskan dana 20.000-25.000 peso, sedangkan upacara pemakaman konvensional bisa menelan biaya hingga 80.000-200.000 peso, bahkan bisa lebih.

Data Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Korea Selatan menunjukkan peningkatan tren kremasi sejak 1994. Pada 2016, ada 82,7 persen jenazah warga Korea Selatan dikremasi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Di Indonesia, liang lahat masih menjadi opsi utama. Sama halnya dengan di belahan dunia lain, lahan pemakaman di kota-kota besar semakin menipis.

Di sisi lain, makin sempitnya lahan pemakaman di Jakarta menciptakan ruang bagi bisnis pemakaman eksklusif. Sebuah pemakaman mewah milik Lippo Group bernama San Diego Hills dibuka di Karawang. Jauh dari kesan minimnya lahan, San Diego Hills memiliki fasilitas restoran, kapel, masjid, kolam renang, tempat bermain anak, danau, dan banyak lagi.

Sejak diluncurkan pada 2008, 58.000 petak di San Diego Hills telah terjual, dan baru digunakan sebanyak 51.000. Langkah San Diego Hills pun diikuti oleh pebisnis lain dengan mendirikan Al-Azhar Memorial Garden. Bedanya, taman pemakaman mewah di Kabupaten Karawang, Jawa Barat ini berbasis syariah dan khusus untuk umat muslim.

Kota-kota besar dengan kepadatan penduduk dan bangunan, memang lebih rentan menghadapi krisis lahan pemakaman.

Dilansir dari Antara, data Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta menunjukkan bahwa setiap hari ada 110 orang di ibukota membutuhkan makam. Artinya, jika dikonversi ke luas lahan, 880 meter per segi setiap hari dibutuhkan untuk pemakaman. Tingginya permintaan ini memicu praktik jual beli makam.

Baca juga: Kisah Mengharukan Bocah yang Menangisi Kematian Ayahnya

Related

World's Fact 1603522870633781919
item