7 Keterampilan yang Perlu Dimiliki untuk Membangun Pernikahan

7 Keterampilan yang Perlu Dimiliki untuk Membangun Pernikahan

Naviri Magazine - Pernikahan tidak hanya berisi canda dan tawa, juga tidak hanya berisi kebahagiaan serta hal-hal menyenangkan. Sewaktu-waktu, berbagai masalah bisa datang, pertengkaran dan konflik dengan pasangan bisa terjadi, dan masing-masing pasangan harus bisa menghadapinya dengan baik jika ingin melanggengkan perkawinan.

Kenyataannya, perkawinan memang perjalanan panjang, dan perjalanan panjang itu harus dilalui bersama-sama dengan segala suka dan duka di dalamnya. Untuk itu, masing-masing pasangan harus memiliki keterampilan tertentu, agar pernikahan yang dijalin bisa bahagia dan langgeng sampai akhir hayat.

Berikut ini tujuh keterampilan yang perlu diperhatikan dan dimiliki oleh masing-masing pasangan di dalam perkawinan.

Komunikasi

Keterampilan komunikasi bukan hanya kemampuan mengungkapkan pikiran dan perasaan. Tapi juga kemampuan untuk mendengarkan tanpa menghakimi, dan kemampuan mendukung pasangan untuk mengungkapkan perasaannya.

Saat berpacaran, pasti kalian memiliki waktu berdiskusi dan mengobrol tentang topik yang pribadi dan mendalam. Misalnya, bagaimana perasaan saat pasangan terlihat akrab dengan orang lain, apa cita-cita yang ingin dikejar, ketakutan terbesar, dan sebagainya.

Hindari menumpuk semua unek-unek hingga saat menjelang pernikahan. Perubahan terjadi secara bertahap, tidak bisa instan.

Resolusi konflik

Sekitar 69% konflik yang dialami pasangan suami istri adalah konflik yang terjadi terus menerus. Konflik ini bisa berasal dari perbedaan kepribadian, gaya hidup, dan cara didik di keluarga masing-masing. Makanya, konflik pasti terjadi dalam pernikahan.

Oleh karena itu, penting sekali menguasai seni mengatasi konflik dan mencari pemecahan yang “win-win”. Teknik yang bisa dipelajari antara lain kemampuan untuk fokus pada topik yang sedang dibicarakan, fokus pada saat ini, tidak mengungkit-ungkit kejadian yang sudah berlalu, bisa meminta maaf, dan tahu kapan harus menerapkan “time out”.

Mengetahui pasangan “luar-dalam”

Menikah adalah komitmen seumur hidup. Jadi memang, kita harus sadar betul siapa orang yang akan kita nikahi. Kenalilah luar-dalam, mulai dari nomor sepatu dan ukuran baju, hingga cara ia merasa dicintai, kebutuhannya, cita-cita, hingga ketakutan terbesarnya. Pengetahuan tentang pasangan sangat penting, agar kamu bisa memberikan respons yang sesuai dengan kebutuhan pasangan.

Misalnya, mengetahui cara-cara membuat pasangan merasa dicintai bisa menghindarkan kamu dari kesalahpahaman. Salah paham dalam arti, kamu sudah merasa menunjukkan kasih sayang dengan sering mengungkapkan kata-kata manis. Tapi ia merasa kamu tidak peduli, karena kalian jarang menghabiskan waktu bersama-sama.

Akibat perbedaan bahasa cinta antara kamu dan dia, pasangan bisa merasa tidak disayang. Kamu pun bisa frustasi, karena sudah berusaha tapi tak membuatkan hasil. Pengenalan “luar-dalam” tentang pasangan bisa menghindarkan kamu dari cerita sedih ini.

Terampil menjaga romansa dan gairah seksual

Menjaga romansa dan gairah seksual dalam hubungan juga perlu keterampilan. Tenang, bukan berarti kamu harus sudah melakukan perilaku seksual sebelum menikah.

Akan tetapi, ada baiknya kalian mulai membicarakan aktivitas seksual seperti apa yang (kira-kira) nyaman bagi kalian? Fantasi seksual seperti apa yang dimiliki, dan ingin dicoba saat sudah menikah nanti? Seperti apa batasan kenyamanan terkait hubungan seksual?

Terampil menata hidup

Setelah menikah, orang diharapkan mampu mengelola rumah tangga, termasuk mengelola keuangan, hingga kesehatan keluarga.

Oleh karena itu, dalam mempersiapkan diri untuk memasuki pernikahan, penting sekali untuk terampil mengelola uang secara bertanggung jawab, mampu menjaga kesehatan, misalnya dengan berolahraga teratur, dan mampu memiliki serta mempertahankan pekerjaan.

Memahami diri sendiri

Memahami diri sendiri artinya mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, serta mampu mengatasi kelemahan agar dapat mencapai tujuan. Keterampilan ini penting, karena saat mengetahui kekuatan diri sendiri, seseorang akan dapat “menyumbangkan” kekuatan tersebut dalam pernikahan.

Misalnya, seorang istri yang mengenali bahwa ia senang dan mampu melakukan perencanaan dapat mengambil peran sebagai perencana dalam keluarga. Sedangkan suami menyadari kurang mampu merencanakan, bisa menyerahkan perencanaan pada sang istri.

Dua orang yang mengetahui kekurangan dan kelemahan masing-masing, tentu akan lebih mudah bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Terampil mengatasi stres

Hari pernikahan memang indah, penuh nuansa kebahagiaan. Akan tetapi, dalam menjalaninya, akan banyak tantangan dan rintangan. Stres menjadi hal yang bisa hadir sehari-hari. Oleh karena itu, penting sekali untuk menguasai teknik-teknik mengatasi stres.

Salah satu contoh teknik mengatasi stres adalah dengan belajar fokus pada pernapasan (misal: square breathing), meditasi, atau teknik relaksasi progresif.

Baca juga: Sifat-sifat Penting yang Harus Dimiliki Setelah Menikah

Related

Romance 1251813773316430821
item