Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno (Bagian 2)

Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sesudah itu, dua dari mereka mendapatkan penglihatan-penglihatan; mereka tidak dapat tidur dan mereka datang kepada rekan-rekannya, dan menceritakan mimpi-mimpi mereka, kepada perkumpulan, rekan-rekan mereka, monster-monster.

Mereka melaporkan bahwa di dalam mimpinya, mereka tampaknya sedang menyaksikan sebuah taman dimana “para tukang kebun” sedang mengairi dua ratus pohon dan tunas-tunas raksasa bertumbuh dari akar-akarnya. [Tiba-tiba taman itu menjadi terbakar] sehingga taman itu dihancurkan dan keseluruhan air itu menguap.

Kemudian mereka pergi kepada para raksasa untuk menceritakan kepada mereka mimpi-mimpi itu. (Saran diberikan untuk mencari juru tulis Henokh untuk menafsirkan mimpi-mimpi itu.) “Mari kita mencari Henokh, sang juru tulis, dan dia akan menafsirkan bagi kita mimpi-mimpi itu…”

Kemudian Ohya mengumumkan kepada para raksasa, “Aku juga malam ini mendapatkan mimpi lain dan lihatlah, Penguasa Surga turun ke bumi [dan memutuskan akhir dari hidup kita]. Seperti itulah akhir dari mimpiku.”

Mendengar ini, semua monster dan raksasa-raksasa menjadi ketakutan dan memanggil Mahway (Raksasa). Dia datang untuk menemui para raksasa yang memohon kepadanya, dan mengutus dia kepada Henokh, sang juru tulis. Mereka (para raksasa) berkata kepadanya, “Pergilah kepada Henokh supaya dia dapat berbicara kepadamu dan kembalilah dengan berkata kamu telah mendengar suaranya.”

Ohya berbicara kepada Mahway, dan berkata kepadanya, “Dia (Henokh) akan mendengarkan dan menafsirkan mimpi-mimpi itu dan mengatakan kepada kita berapa lama kita, para raksasa, dapat hidup dan menguasai bumi.”

(Sesudah perjalanan melalui langit di atas langit, Mahway melihat Henokh dan berbicara kepadanya mengenai permintaannya). Mahway melayang di udara seperti angin yang kuat, menggunakan tangan-tangannya seperti sayap-sayap elang. Dia meninggalkan dunia hunian dan melintasi padang belantara Ketandusan yang besar.

Henokh melihatnya dan memberinya salam. [Mahway mengatakan kepada Henokh mengenai tujuannya, dan berkata kepadanya bahwa dia akan berbicara dengannya.] Pergi kesana dan kemari Henokh datang kedua kalinya kepada Mahway (sesudah dia, Henokh, memperingatkan Mahway tentang terbang terlalu dekat ke matahari).

Mahway berbicara kepada Henokh dan berkata bahwa “para raksasa dan seluruh monster di bumi menunggu perkataan-perkataannya. [Jika penghukuman para malaikat yang jahat telah dijalankan (oleh Pemelihara Ilahi)] dari hari-hari kemuliaan surgawi mereka, dapatkah engkau setidaknya memastikan bagi kami bahwa jumlah hari-hari yang kami lalui dengan melakukan kerusakan akan ditambahkan kepada kehidupan kami. Kami ingin mengetahui arti dari dua ratus pohon-pohon yang turun dari surga.”

(Henokh, setelah menerima permintaan Mahway, berusaha untuk mengajukan permohonan kepada Elohim, tetapi sia-sia. Karena itu, dia menunjukkan kepada Mahway, lempengan loh yang penuh berisi firasat mengenai penghakiman yang akan datang, namun yang menawarkan pengharapan untuk masa depan melalui pertobatan.)

Juru tulis, Henokh, memberikan Mahway sebuah salinan lempengan yang lain (bukan yang dicelupkan dalam air) yang berisi tulisan tangan (Henokh sendiri). Tulisan di atas lempengan itu berisi:

“Dalam nama Elohim yang besar dan yang kudus, pesan ini dikirim kepada Shemihaza dan semua rekannya. Biarlah diketahui olehmu (para raksasa dan monster-monster) bahwa engkau tidak akan meloloskan diri dari penghakiman karena semua hal yang telah engkau perbuat, dan bahwa istri-istrimu, anak-anak mereka, dan istri-istri anak-anak mereka [tidak akan lolos,] dan bahwa oleh perbuatanmu di atas bumi, telah ditetapkan atasmu suatu penghakiman surgawi.

“Bumi menangis keras dan berkeluh-kesah mengenai engkau dan perbuatan anak-anakmu, dan mengenai kerusakan yang telah engkau perbuat. Hingga malaikat surgawi, Raphael, tiba, lihatlah kehancuran sedang datang oleh sebuah banjir besar yang akan menghancurkan semua makhluk yang hidup, baik yang ada di padang belantara dan lautan-lautan.

“Arti dari [mimpi-mimpi/hal-hal ini adalah jalan penghakiman] karena semua kejahatanmu. Tapi jika engkau sekarang melepaskan ikatan-ikatan yang mengikat engkau kepada kejahatan dan berdoa (untuk pengampunan), (engkau mungkin diselamatkan).”

Henokh tampaknya juga melihat suatu penglihatan pada satu saat. Dia mengatakan, “Ketakutan yang besar menguasai aku, dan aku jatuh tersungkur dengan wajah ke tanah. Aku mendengar suaranya: ‘Dia (Henokh) tinggal di antara umat manusia tapi tidak belajar dari atau bergantung kepada mereka.’” (Kemungkinan Henokh sedang berbicara tentang peristiwa ketika malaikat turun ke bumi untuk memanggil dia ke surga.)

Malaikat yang jatuh

Dari tulisan-tulisan Ibrani kuno, Torah, Kitab Henokh, dan Kitab Yobel, kita mendapatkan informasi yang detail mengenai peristiwa Pemberontakan Para Malaikat. Kemudian dari Kitab Para Raksasa, kita mendapatkan tambahan sumber informasi lainnya yang sinkron dengan tulisan-tulisan kuno tersebut.

Berikut ini akan kita lihat sinkronisasi yang ada di antara kitab-kitab ini, untuk memberikan gambaran jelas tentang apa yang terjadi pada zaman Pra-Banjir Besar, dan dampak kehancurannya.

Kitab Henokh 6:1-8: Dan terjadilah, setelah anak-anak manusia bertambah banyak pada hari-hari itu, anak-anak perempuan yang cantik dan rupawan telah lahir bagi mereka.

Dan para malaikat, anak-anak surgawi, memandangi dan bernafsu kepada mereka, dan berkata satu sama lain, “Lihatlah, kita akan memilih bagi diri kita sendiri istri dari antara anak-anak manusia, dan akan melahirkan anak-anak bagi kita.”

Dan Semjâzâ, pemimpin mereka, berkata kepada mereka, “Aku takut bahwa mungkin kamu tidak bersedia melakukan perbuatan ini, dan aku sendiri akan menderita karena dosa besar ini.”

Kemudian semua menjawab dia dan berkata, “Kita semua akan bersumpah, dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan, bahwa kita tidak akan membatalkan rencana ini, tapi akan menjalankan rencana ini.”

Kemudian mereka semua bersumpah bersama-sama, dan mengikatkan diri satu sama lain dengan kutukan; mereka semuanya ada dua ratus malaikat.

Dan mereka turun di Ardîs, yaitu puncak Gunung Hermon; dan mereka menyebutnya Gunung Hermon, karena mereka telah bersumpah di atasnya dan mengikatkan diri bersama-sama dengan kutukan.

Dan ini adalah nama-nama pemimpin mereka: Semjâzâ, yang adalah pemimpin mereka, Urâkibarâmêêl, Akibêêl, Tâmiêl, Râmuêl, Danel, Ezêqêêl, Sarâqujâl, Asâêl, Armers, Batraal, Anânî, Zaqêbê, Samsâvêêl, Sartaêl, Turêl, Jomjâêl, Arâzjâl. Ini adalah pemimpin dua ratus malaikat, dan semua yang lainnya ada bersama mereka.

Kitab Henokh 7:1-6: Dan mereka mengambil istri bagi diri mereka sendiri, dan masing-masing memilih seseorang untuk dirinya sendiri, dan mereka mulai mendekati perempuan-perempuan itu, dan mengajari mereka mantra dan ilmu sihir, dan memperkenalkan mereka cara pemotongan akar-akaran dan kayu-kayuan (obat-obatan, racun, ramuan-ramuan sihir, psikotropika; Yunani: pharmakeia; asal-usul nama farmasi).

Dan mereka mengandung dan melahirkan raksasa besar yang tingginya tiga ribu ells (300 hasta ~ 135 meter).

Mereka melahap semua hasil jerih payah manusia sampai-sampai manusia tidak dapat bertahan lagi.

Kemudian para raksasa berbalik menyerang manusia untuk memakan mereka (kanibalisme, pengorbanan manusia).

Dan mereka mulai berbuat dosa kepada burung-burung dan binatang-binatang, kepada binatang-binatang yang merayap, dan ikan-ikan, dan saling memakan daging mereka sendiri, dan meminum darahnya (kanibalisme, pengorbanan manusia).

Dan bumi mengeluh karena kejahatan mereka.

Kitab Henokh memberitahukan kepada kita bahwa para malaikat yang jatuh ini mengajarkan “pengetahuan Surgawi yang terlarang” dan menyebabkan banyak terjadinya dosa dan kerusakan di Bumi:

Kitab Henokh 8:1-4: Dan Azâzêl mengajari manusia membuat pedang dan pisau dan perisai dan baju zirah, dan memperkenalkan logam-logam di bumi dan mengajari mereka seni melakukan pekerjaan logam: gelang dan ornamen, cara menggunakan antimoni (logam berwarna putih perak yang digunakan sebagai kosmetik), dan cara mempercantik alis mata, dan segala jenis batu-batu berharga dan semua zat pewarna.

(Azazel mengajar kaum laki-laki untuk berperang, dan mengajar kaum perempuan untuk menggunakan kosmetik dan berbagai jenis perhiasan untuk memikat kaum laki-laki.)

Dan ada kejahatan yang besar dan mereka berdosa, dan semua jalan hidup mereka rusak.

Amêzârâk mengajarkan semua ilmu sihir dan cara memotong akar-akaran, Armârôs mengajarkan cara melepaskan mantra sihir, Baraq’âl mengajarkan astrologi, Kôkâbêl mengajarkan pengetahuan akan tanda-tanda, Temêl mengajarkan cara melihat bintang-bintang, dan Asrâdêl mengajarkan lintasan bulan serta tipu muslihat manusia.

Dan dalam penghancuran umat manusia, mereka berteriak keras, dan suara mereka mencapai surga.

Kitab Henokh 9:6-9: Lihat apa yang telah dilakukan Azâzêl, bagaimana dia telah mengajarkan segala hal yang jahat di bumi, dan telah menyingkapkan rahasia kekal yang tersimpan di surga.

Dan Semjâzâ yang kepadanya telah Engkau berikan kuasa untuk menjadi kepala rekan-rekannya telah memperkenalkan ilmu sihir.

Dan mereka telah pergi bersama-sama kepada anak-anak perempuan manusia dan telah tidur dengan mereka, dengan wanita-wanita itu, dan telah mencemarkan diri mereka, dan telah menyingkapkan kepada mereka segala jenis dosa. Dan wanita-wanita itu telah melahirkan raksasa, dan dengan demikian seluruh bumi telah penuh dengan darah dan kejahatan.

Dan sekarang, lihatlah, jiwa-jiwa yang telah mati, menangis dan meratap ke pintu gerbang surga, dan suara erangan mereka naik, dan mereka tidak dapat melarikan diri dari kejahatan yang dilakukan di bumi.

Baca lanjutannya: Kisah Para Raksasa yang Hidup di Zaman Kuno (Bagian 3)

Related

Mistery 9195830506857440222
item