Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Orang Kadang Berbohong

 Ini Penjelasan Ilmiah Mengapa Orang Kadang Berbohong

Naviri Magazine - Adakah orang yang tidak pernah berbohong? Mungkin ada, tapi kita sulit menemukannya, karena sepertinya kebanyakan orang—bahkan termasuk kita—sesekali berbohong.

Berbohong sepertinya telah menjadi bagian sehari-hari manusia, bahkan kadang anak kecil pun bisa berbohong. Kenapa manusia mengenal aktivitas berbohong, dan mengapa mereka kadang berbohong?

Penelitian oleh Robert S. Feldman (2002), dari Fakultas Psikologi Universitas Massachusetts, menjabarkan alasan orang melakukan kebohongan. Dalam percakapan sehari-hari, kebanyakan orang berbohong agar terlihat menyenangkan dan kompeten.

Ia mengamati perilaku ketika 121 pasang mahasiswa bertemu, dan diminta mengobrol. Di akhir sesi, mereka harus mengidentifikasi percakapan yang direkam secara diam-diam.

“Sangat mudah berbohong,” kata Feldman atas hasil penelitiannya, seperti ditulis Eurek Alert.

Sebanyak 60 persen orang dewasa setidaknya melakukan satu kebohongan dalam durasi 10 menit percakapan. Rata-rata dari mereka malah melakukan kebohongan dua sampai tiga kali. Responden perempuan cenderung melakukan kebohongan agar lawan bicaranya terlihat baik dan merasa nyaman. Sebaliknya, pria condong berbohong agar dirinya terlihat lebih baik.

Jenis kebohongan yang teridentifikasi kebanyakan adalah kebohongan ringan, tapi sebagian kecil lainnya merupakan kebohongan ekstrem. Misalnya, mengaku sebagai bintang dari sebuah band rock.

Di dalam artikel yang berbeda, seorang psikolog klinis, David J. Ley, menjabarkan enam faktor yang mendasari kebohongan.

Pertama, karena para pembohong menganggap sebuah kebohongan penting dilakukan. Kedua, berbohong untuk mengendalikan situasi dan mendapat reaksi timbal balik yang diharapkan. Intinya, jika berkata jujur, para pembohong ini merasa telah menyerahkan kendali mereka pada lawan bicaranya.

“Ketiga, mereka ingin membuat lawan bicaranya merasa nyaman, karena para pembohong takut ditolak ketika berkata jujur,” tulis Ley dalam laman Psychology Today.

Alasan keempat adalah untuk menutupi kebohongan lainnya. Para pembohong merasa ketika mengakui kebohongan, orang-orang tak akan lagi simpati padanya. Alih-alih jujur, mereka merasa perlu kembali berbohong untuk menutupi kebohongan sebelumnya.

Alasan kelima: mereka tidak sengaja berbohong, karena ingatannya merekonstruksi kejadian sedemikian rupa sehingga mereka sendiri percaya bahwa hal tersebut benar adanya.

“Terakhir, pembohong sering berharap bisa membuat sesuatu menjadi nyata dengan mengucapkan kebohongan berulang, dan mempercayainya sekeras mungkin.”

Baca juga: Membaca Kepribadian Orang yang Menyukai Warna Hitam

Related

Psychology 3393898321613067868
item