Perlu Dipahami, Menikah Bukan Jaminan Kebahagiaan

Perlu Dipahami, Menikah Bukan Jaminan Kebahagiaan

Naviri Magazine - Apakah menikah akan menjamin orang bahagia? Mungkin ya, mungkin pula tidak. Faktanya memang ada orang-orang yang bahagia dalam pernikahan, namun di waktu sama juga ada banyak perceraian.

Karenanya, menyatakan bahwa menikah pasti akan membuat orang bahagia adalah klaim yang tidak terjamin kebenarannya. Kalau memang semua orang pasti bahagia setelah menikah, tentu tidak akan ada perceraian.

Yang menjadi masalah, pernikahan kerap kali dianggap satu tolok ukur kematangan dan kesuksesan seseorang. Di banyak adat, pihak perempuan kerap kali mendapat beban lebih untuk menikah. Mereka dituntut untuk sesegera mungkin menikah agar terlepas dari stigma tidak laku, perawan tua, atau bahkan perempuan yang tidak baik.

Jennifer Aniston, seorang aktris, menulis esai brilian tentang mengapa perempuan semestinya tak perlu lagi dibebani hal semacam ini. Ia menilai saat ini perempuan mengalami objektifikasi dan dituntut untuk tunduk sesuai selera masyarakat yang patriarkis. Perempuan dituntut untuk menikah, punya anak, bisa merawat anak dan melayani suami. Pertanyaannya kemudian, apakah menikah membuat seseorang bahagia?

Dalam sebuah riset yang dilakukan oleh Pew Research, diketahui bahwa di Amerika Serikat, orang-orang yang saat ini berusia 35 tahun akan menjadi lajang untuk selamanya. Riset itu menunjukkan bahwa milenial di Amerika Serikat tak lagi menganggap pernikahan itu penting. Angka anak muda Amerika Serikat yang tidak tertarik untuk menikah terus naik empat tahun terakhir, dan tertinggi sejak 50 tahun terakhir.

Ada tiga alasan mengapa milenial di Amerika Serikat tidak tertarik untuk menikah. Pertama, mereka belum mendapatkan orang yang tepat, kedua belum stabil secara finansial, dan terakhir belum siap untuk berkomitmen panjang.

Menariknya, meski menolak menikah, banyak anak muda Amerika Serikat yang tinggal bersama pasangannya. Mereka menganggap tinggal bersama kekasih lebih stabil daripada pernikahan resmi. Perempuan dalam hal ini adalah pihak yang paling dominan menentukan sikap, karena saat ini perempuan lajang di Amerika Serikat lebih banyak daripada laki-laki yang lajang.

Sebuah lembaga statistik Korea Selatan pada 2014 merilis data survei mereka. Diketahui bahwa angka perempuan yang tidak tertarik untuk menikah di negara itu masih sangat tinggi. Sebanyak 43,2 persen perempuan di Korea Selatan menganggap pernikahan bukan hal yang penting, dan ini terjadi pada usia 30 tahunan.

Stephanie Coontz, sejarawan dari Evergreen State College di Washington, meneliti tentang sejarah dan konstruksi sosial pernikahan. Ia menemukan bahwa konsep pernikahan yang kita kenal sebenarnya sebuah konsep absurd yang memiliki banyak cela.

Dalam bukunya, yang berjudul Marriage, a History: From Obedience to Intimacy, or How Love Conquered Marriage, ia meneliti relasi lelaki dan perempuan dalam pernikahan sejak 5.000 tahun terakhir.

Coontz menyebut pernikahan dalam banyak peradaban di masa lalu terjadi karena alasan ekonomi dan politik. Juga merupakan persatuan dari dua orang yang diatur dan diselenggarakan oleh keluarga, gereja, dan komunitasnya.

Kate Bolick, penulis di The Atlantic, menyebut bahwa kerap kali perempuan merupakan pihak yang paling dirugikan dalam pernikahan. Mereka kerap kali hanya sekadar pilihan, alternatif, dan subjek ketimbang rekan setara.

Namun, seiring berjalannya waktu, perempuan mulai terdidik dan menyadari potensi diri mereka. Akibatnya, kesadaran perempuan akan pilihan untuk menentukan nasibnya sendiri pun semakin meningkat.

Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama (Kemenag) menyebutkan, angka perceraian di Indonesia lima tahun terakhir terus meningkat. Pada 2010-2014, dari sekitar 2 juta pasangan menikah, 15 persen di antaranya bercerai.

Angka perceraian yang diputus pengadilan tinggi agama seluruh Indonesia tahun 2014 mencapai 382.231, naik sekitar 100.000 kasus dibandingkan pada 2010 sebanyak 251.208 kasus. Menariknya, 70 persen dari perceraian ini merupakan gugatan dari pihak perempuan.

Baca juga: 7 Hal yang Biasa Jadi Sumber Pertengkaran Sepasang Pacar

Related

Romance 2957969179740087648

Recent

item