Misteri Asal Usul Emas dan Logam Mulia Lain di Bumi

Misteri Asal Usul Emas dan Logam Mulia Lain di Bumi

Naviri Magazine - Ada beberapa logam mulia di Bumi, semisal emas, perak, tembaga, hingga platinum. Logam-logam mulia itu memiliki harga yang tinggi karena kekuatan atau keindahannya, juga karena jumlahnya yang terbatas atau sedikit. Artinya, logam-logam itu tidak bisa dibuat seenaknya seperti umumnya logam lain.

Yang masih jadi pertanyaan, dari mana sebenarnya asal usul emas dan logam-logam mulia lain tersebut? Selama hampir 60 tahun, para ilmuwan dan peneliti mencari asal-usul logam mulia yang ada di Bumi.

Seperti yang kita ketahui, logam-logam tersebut mempunyai keunikan tersendiri. Seperti halnya emas dan perak yang termasuk dalam logam mulia, dan platinum yang menjadi unsur logam murni paling kuat, dimana nilai kekerasannya hanya satu tingkat di bawah berlian (10 mohs) bila diukur menggunakan Hardness Tester.

Setelah banyak mengamati dan meneliti, kini para ilmuwan dapat memberikan kesimpulan atau kemungkinan terkait asal usul logam mulia yang ada di bumi.

Ilmuwan dari MIT mengklaim berhasil menemukan galaksi kerdil kuno, yang dinamakan Retikulum II. Galaksi ini berlokasi sekitar 98 ribu tahun cahaya dari Bumi. Galaksi tersebut diyakini memiliki bintang yang banyak mengandung unsur logam mulia tersebut.

Menurut salah satu ilmuwan dari MIT, Anna Frebel, produksi unsur-unsur tersebut (unsur berat dan berharga) membutuhkan begitu banyak energi, dan ini membuat produksi dalam skala percobaan menjadi tidak mungkin. Karenanya, ia mengatakan harus menjadikan bintang atau benda kosmos sebagai laboratorium penelitian ia dan timnya.

Galaksi Reticulum II mengorbit kepada Bima Sakti, dan merupakan galaksi kerdil yang letaknya paling dekat yang pernah ditemukan. Galaksi ini dianggap sebagai salah satu kandidat terbaik untuk mendeteksi materi gelap yang masih sulit dipahami. Berdasarkan penemuan tersebut, galaksi ini menjadi tempat terbaik untuk meneliti dan menemukan asal-usul logam di alam semesta.

Dengan menggunakan teleskop Magellan di Las Campanas Observatory di Chile, para peneliti dan ilmuwan mengamati cahaya bintang pada galaksi tersebut. Dari hasil pengamatan tersebut, tim menyimpulkan galaksi ini mengandung sejumlah besar unsur r-proses (istilah yang digunakan untuk menyebut unsur-unsur berat dan berharga seperti emas, perak, uranium, atau platinum).

Hasil pengamatan tersebut dikuatkan oleh fisikawan Hans Suess dan Harold Uret pada 1957, yang menunjukan beberapa jenis neutron dapat membentuk unsur-unsur tersebut. Tim juga menyebutkan bahwa di alam semesta ada suatu tempat yang dapat membentuk unsur-unsur tersebut, karena memiliki kondisi lingkungan yang ekstrem.

Berdasarkan penelitian dan pengamatan tersebut, para ilmuwan dan peneliti juga memberikan hipotesis yang masuk akal, yaitu ledakan bintang raksasa dan gabungan dari neutron bintang-bintang yang ada di alam semestalah yang membentuk unsur tersebut.

Hipotesis itu merupakan skenario yang paling mungkin menjadi teori yang bisa diajukan untuk pembentukan unsur r-proses. Namun, mereka belum memiliki bukti, sehingga terbentuknya unsur tersebut masih menjadi misteri.

Jurnal Nature, yang mempublikasikan hasil penelitian tersebut, menyebut bahwa hipotesis Suess dan Urey mungkin benar karena neutron yang terbentuk dari penggabungan bintang mungkin jadi sebab asal usul terbentuknya unsur-unsur berharga di alam semesta.

Hal tersebut diungkapkan oleh Enrico Ramirez-Ruiz, dari Universitas California, yang meskipun tidak terlibat dalam penelitian namun ikut dalam diskusi panel tentang penelitian ini.

Yang masih menjadi misteri selanjutnya, bagaimana semua unsur logam tersebut setelah terbentuk dan akhirnya ada dalam perut bumi. Tim juga mempunyai hipotesis tentang hal tersebut. Saat ledakan bintang pada galaksi kerdil terjadi, unsur logam di dalamnya tertanam pada asteroid yang kemudian diangkut ke bumi.

Baca juga: Mengenali Keuntungan dan Risiko Berinvestasi Emas Batangan

Related

Science 6378469111489552269
item