Soal Nafkah Batin untuk Istri, yang Perlu Diperhatikan Suami

Soal Nafkah Batin untuk Istri, yang Perlu Diperhatikan Suami

Naviri Magazine - Ketika menikah, seorang suami wajib memberikan nafkah lahir dan nafkah batin untuk wanita yang menjadi istrinya. Nafkah lahir berupa uang belanja atau nafkah untuk memenuhi kebutuhannya, sementara nafkah batin berupa hubugnan seksual yang memberi kepuasan pada istri.

Dalam kondisi tertentu, suami istri harus terpisah, misal suami pergi ke luar negeri untuk bekerja. Karena terpisah tempat dan jarak yang jauh, keduanya pun tidak memungkinkan untuk sering bertemu. Dalam hal itu, suami mungkin masih bisa memberikan nafkah lahir, dalam hal ini uang, lewat transfer bank. Tapi bagaimana dengan nafkah batin?

Tidak sedikit istri yang ditinggal suaminya merantau, baik ke luar kota maupun ke luar negeri. Mayoritas karena urusan kerja. Bukan berarti salah, karena memang tuntutan ekonomi. Namun, kondisi itu jelas tidak ideal. Keluarga yang ideal adalah ketika suami istri tinggal serumah, sekamar, dan seselimut.

Suatu malam, ketika berkeliling Madinah, Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mendengar seorang wanita bersyair:

Malam ini panjang, berselimut dingin dan kegelapan
Saya tidur sendiri tanpa teman
Demi Allah, seandainya bukan karena takut kepada-Nya
Niscaya ranjang itu sudah bergoyang

Setelah menyelidiki, Umar mendapatkan informasi bahwa suami wanita tersebut telah ditugaskan sebagai tentara untuk waktu yang lama. Umar kemudian bertanya pada putrinya, Hafsah radhiyallahu ‘anha, janda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Berapa lama seorang perempuan dapat bertahan ditinggal pergi suaminya?”

“Empat bulan,” jawab Hafshah.

Lantas, Umar pun memutuskan tidak akan mengirim pria yang sudah menikah jauh dari istrinya untuk jangka waktu lebih dari empat bulan.

Inilah waktu maksimal rata-rata seorang istri bisa kuat menahan syahwatnya, kuat menahan tidak mendapat “nafkah batin” dari suaminya. Maka seyogyanya, para suami yang merantau berusaha agar pulang minimal empat bulan sekali. Jika bisa sebelum empat bulan, itu lebih baik.

Bagaimana pun, suami istri menikah pasti membutuhkan “nafkah batin” untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Pada pasangan baru, usia pernikahan sampai lima tahun, rata-rata dibutuhkan 3-4 kali sepekan. Seiring bertambahnya usia, intensitas hubungan suami istri akan menurun. Sedangkan minimalnya adalah empat bulan sekali.

Bagaimana jika selama empat bulan tidak dipenuhi? Pada wanita shalihah yang menjaga kehormatannya, ia akan tetap bertahan, lalu Allah memberikan solusi berupa mimpi basah. Sedangkan pada wanita yang tidak kuat, secara umum mereka akan memenuhi kebutuhan itu dengan caranya sendiri. Minimalnya dengan mastrubasi.

Karenanya, para suami yang merantau perlu mengupayakan untuk pulang, minimal empat bulan sekali. Kalau terpaksa karena tempatnya jauh di luar negeri, dan tidak memungkinkan pulang empat bulan sekali, harus ada target kapan ia kembali kepada istrinya, alias tidak merantau lagi.


Related

Sexology 1492882246330662447
item