Jenis-jenis Pekerjaan yang Banyak Dimasuki Generasi Milenial

Jenis-jenis Pekerjaan yang Banyak Dimasuki Generasi Milenial

Naviri Magazine - Minat pada bidang pekerjaan tertentu tampaknya berbeda dari generasi ke generasi. Satu generasi mungkin berminat pada bidang pekerjaan seputar pertanian, lalu generasi lain—karena perkembangan zaman—lebih minat pada bidang pekerjaan lain. Generasi milenial, misalnya, kini meminati bidang pekerjaan yang lekat dengan teknologi, karena hidup di zaman yang sarat teknologi.

Siapakah generasi milenial? Pada awalnya, batas waktu kelahiran mereka tak cukup kuat untuk ditegaskan, kecuali hanya disebut generasi setelah Gen-X.

Menurut United States Census Bureau, generasi milenial adalah kelompok kelahiran 1982 hingga 2002. Tetapi menurut Pew Research Center pada Maret 2018, rentang kelahiran milenial lebih pendek—1981 hingga 1996.

Jadi, bila melibatkan kelahiran 2002, orang tersebut kini berusia 16 tahun. Itu artinya, menurut klasifikasi Badan Pusat Statistik (BPS), sudah setahun masuk golongan angkatan kerja.

Menyelisik Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) keluaran Agustus 2017, angkatan kerja kelompok milenial mencapai 54 juta orang. Porsinya hampir sepertiga dari total seluruh angkatan kerja di Indonesia yang berjumlah 192 juta orang.

Angkatan kerja milenial pada kategori usia 15-24 dan 25-34 yang menganggur masing-masing 22,9 persen dan 6,2 persen. Kategorinya adalah pengangguran terbuka yang berarti orang tersebut sedang tidak bekerja, sedang mencari pekerjaan, atau baru keluar dari pekerjaan karena kemauan sendiri dan kehilangan pekerjaan.

Generasi angkatan kerja milenial kerap disebut tak pernah sejalan dengan kode etik dan tata cara bekerja yang sudah lazim selama ini. Kesimpulan dari riset global yang dilakukan oleh Manpower Group berjudul Millennial Careers: 2020 Vision pada 2016 menggambarkan hal itu.

Generasi milenial disebut punya lima prioritas dalam memilih pekerjaan. Masing-masing adalah besaran gaji, kepastian kerja (tidak berisiko dipecat), masih bisa berlibur, punya rekan kerja menyenangkan, dan waktu kerja yang fleksibel.

Menurut ahli manajemen, Profesor Rhenald Kasali, generasi milenial begitu erat terhubung dengan internet dan media sosial. Mereka tak suka komunikasi satu arah.

Dalam bekerja, mereka lebih suka mengedepankan kegembiraan, bepergian lintas negara, dan sangat erat pada gawai.

"Perusahaan yang masih mendefinisikan urusan manusianya dengan konsep human resource (HR) bakal kewalahan menghadapi generasi millennials. Sebaliknya, perusahaan yang memperlakukan karyawannya sebagai human capital akan menganggap generasi millennials sebagai aset dan penentu masa depan," tulis Rhenald dalam kolomnya pada Jawa Pos.

Berangkat pula dari hasil riset global di atas, sejumlah kalangan menyebut generasi milenial lebih cocok bekerja di dunia digital yang kebetulan terjadi pada zaman mereka. Namun, di Indonesia, angkatan kerja milenial masih mendominasi sektor-sektor pekerjaan konvensional.

Dari 54 juta angkatan kerja milenial, setengahnya bekerja di sektor formal, dan setengah lainnya mencari nafkah di sektor informal atau swasta. Rentang pekerjaan tersebar di berbagai jabatan dan bidang pekerjaan.

Meski secara persentase sektor kalah, para milenial justru lebih banyak terjun di satu bidang pekerjaan dalam sektor informal; empat puluh persen berada di sektor informal bidang pertanian, kehutanan, dan perikanan.

Sementara pada sektor formal, angkatan kerja milenial paling banyak bekerja di bidang industri pengolahan (24,3 persen). Menurut BPS, industri pengolahan adalah unit produksi yang meliputi kegiatan ekonomi dan produksi barang atau jasa.

Di bidang informasi dan komunikasi, yang digadang sangat lekat dengan dunia digital, sayangnya tak mendapat porsi yang cukup besar. Hanya 1,4 persen milenial yang berkarier di bidang ini pada sektor formal, sedangkan di sektor informal 0,75 persen.

Baca juga: Bisnis Orang Kaya: Jual Beli Properti Mewah di Berbagai Negara

Related

Career 390713938994689920
item