Rahasia Menguasai Banyak Bahasa, dan Manfaatnya

 Rahasia Menguasai Banyak Bahasa, dan Manfaatnya

Naviri Magazine - Berapa bahasa yang mampu kita kuasai? Mungkin, kebanyakan orang rata-rata menguasai dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sebagian ada pula yang mampu berbahasa Prancis, bahasa Jepang, atau bahasa Mandarin.

Bagi rata-rata kita, belajar bahasa asing termasuk proses yang sulit. Meski begitu, ada orang-orang yang mampu menguasai berbagai bahasa di dunia, hingga jumlah bahasa yang dikuasainya mencapai puluhan. Mereka biasa disebut polyglot atau hyperglot.

Jika kita mengetahui cara kerja otak, kita akan memahami bahwa mempelajari bahasa bagi sebagian orang adalah sesuatu yang sulit.

Setiap manusia memiliki sistem memori yang berbeda, sedangkan menguasai bahasa memerlukan segenap kekuatan memori otak. Di dalam otak, terdapat memori prosedural yang berfungsi menyempurnakan logat bicara dan memori deklaratif yang berkemampuan mengingat kata-kata baru (suatu bahasa punya sedikitnya 10.000 kata baru, ditambah gramatika).

Kata-kata dan struktur kalimat tersebut kemudian harus diucapkan sepersekian detik, sehingga harus diprogram dalam memori ‘eksplisit’ dan ‘implisit’.

Tantangan itu, jika dilakukan, ada ganjarannya. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa seseorang yang mampu bercakap dalam berbagai bahasa dapat meningkatkan intensitas perhatian dan ingatannya. Hal ini kemudian berimbas pada penundaan kepikunan.

Studi terhadap kaum imigran yang dilakoni Ellen Bialystik di Universitas York, Kanada, menemukan bahwa kepikunan orang-orang yang berbicara dua bahasa berlangsung lima tahun lebih lambat dari mereka yang hanya berbicara satu bahasa. Penundaan makin lambat jika seseorang dapat berbincang tiga bahasa (6,4 tahun) dan empat bahasa atau lebih (9 tahun).

Menurut hipotesa masa kritis, manusia punya waktu sejenak semasa kanak-kanak untuk mempelajari bahasa baru. Jika masa itu telanjur lewat, sejumlah pakar syaraf menilai akan sulit bagi sebagian orang untuk bisa belajar bahasa baru dan menguasainya dengan lancar.

Akan tetapi, sebagaimana ditemukan Bialystok dalam kajiannya, penilaian itu terlalu dibesar-besarkan. Dia menunjukkan bahwa hanya ada sedikit penurunan kemampuan untuk mempelajari bahasa baru selagi manusia bertambah tua.

Nah, pertanyaannya sekarang, bagaimana para hyperglot dapat menguasai begitu banyak bahasa? Dan bisakah kita mencoba meniru mereka?

Jawaban singkat dari pertanyaan itu adalah motivasi. Sebagian besar insan hyperglot sangat termotivasi untuk mempelajari bahasa baru. Mereka gemar melancong dari satu negara ke negara lain sembari belajar bahasa setempat.

Namun, sekalipun berbekal motivasi besar, orang awam nyatanya kesulitan berbincang dalam bahasa asing secara meyakinkan.

Bunglon budaya

Seperti yang telah disuarakan para ahli psikologi, bahasa yang kita ucapkan lekat kaitannya dengan identitas. Pendapat yang mengatakan berbahasa Prancis membuat Anda romantis dan berbahasa Italia membuat Anda bersemangat, memang klise.

Namun, nyatanya, setiap bahasa berhubungan dengan norma-norma budaya yang mempengaruhi perilaku. Beragam kajian membuktikan bahwa orang-orang yang berbicara multi-bahasa kerap memperlihatkan perilaku berbeda, sesuai dengan bahasa yang mereka utarakan.

Bahasa yang berbeda juga dapat membangkitkan kenangan hidup yang berlainan pula, sebagaimana dialami penulis Vladimir Nabokov ketika menyusun otobiografinya. Penulis sohor asal Rusia itu memaparkan kisahnya dalam tulisan berbahasa Inggris dengan kesulitan.

“Memori saya sudah disetel pada satu kunci, yaitu bahasa Rusia. Namun, dipaksa bermain pada kunci lain, yaitu bahasa Inggris,” ujarnya.

Ketika akhirnya otobiografi itu rampung, Nabokov memutuskan untuk menulis ulang kisah-kisah masa kecilnya dalam bahasa Rusia. Begitu bahasa itu mengalir, kenangannya terbuka dengan rincian dan perspektif baru.

“Tulisan versi bahasa Rusia yang dia kerjakan berbeda jauh, sehingga dia merasa perlu menerjemahkan ulang ke bahasa Inggris,” kata Aneta Pavlenko, akademisi Universitas Temple di Philadelphia, AS, yang menulis buku berjudul The Bilingual Mind.

Berlatih selama 15 menit, empat kali sehari, juga disarankan. Richard Simcott, yang mengajari teknik berbahasa asing, bahkan menyarankan melatih percakapan atau mendengarkan musik pop berbahasa asing.

Di AS, Australia, dan Inggris, ada pendapat bahwa berbahasa asing tidak perlu, karena dunia menggunakan bahasa Inggris. Namun, kaum hyperglot membantah anggapan itu. Mereka meyakini keuntungan berbahasa asing sangat banyak, termasuk menjalin hubungan pertemanan di seluruh dunia.

Baca juga: Perlu Tahu, 8 Huruf ini 'Tidak Dianggap' Dalam Bahasa Inggris

Related

Science 6544402620831589035
item