Di Mesir, Punya Rambut Keriting Dianggap Kesalahan

Di Mesir, Punya Rambut Keriting Dianggap Kesalahan

Naviri Magazine - Setiap orang tidak bisa memilih seperti apa bentuk fisiknya, apa warna matanya, atau bentuk rambutnya. Semua itu diwarisi dari gen yang berasal dari orang tuanya. Karenanya, ada anak yang terlahir dengan kulit putih atau gelap, ada yang memiliki mata biru atau hitam, ada pula yang memiliki rambut lurus atau keriting.

Sayangnya, ada sebagian orang yang sepertinya sulit menerima kenyataan itu. Salah satunya di Mesir. Seperti umumnya di tempat lain, di Mesir juga ada sebagian orang berambut keriting. Namun, mereka yang berambut keriting dianggap seperti telah melakukan kesalahan, dan diminta meluruskan rambutnya.

Tempo hari, BBC menulis berita tentang Eman El-Deeb, wanita 26 tahun yang pindah dari Mesir karena sudah tidak tahan terhadap ejekan yang ditujukan padanya terkait rambut keritingnya. Di Mesir, ia sempat bekerja di sebuah bank. Setiap hari, salah satu kolega mengimbau Eman untuk meluruskan rambut. Buat Eman, perkataan si rekan kerja bukan hal sepele.

Eman memutuskan pindah ke Spanyol. Di negara tersebut, rambutnya dipuja. Ia bukan satu-satunya wanita Mesir yang menderita karena rambut. Kaum milenial Mesir beranggapan negara tersebut masih berpegang pada standar kecantikan ras Kaukasia, sehingga rambut keriting kurang dihargai meski itu jenis rambut asli masyarakat Mesir. Hal itu membuat rambut keriting punya citra negatif.

"Keputusan untuk pindah itu bikin sedih. Aku tak pernah membayangkan akan pindah dari Mesir. Tapi aku lelah. Aku sudah mencapai titik, aku ingin hidup damai di tempat yang tak terganggu oleh penampilanku," kata Eman.

Pihak pertama yang merasa kurang nyaman dengan pandangan masyarakat terhadap rambut keriting ialah para orangtua. Egyptian Streets pernah memuat pengalaman Nehal Emeligy. Saat anak-anak, ia punya ritual sebelum tidur. Sang ibu akan me-roll rambut Emeligy, dan menyuruhnya tidur dalam kondisi kepala penuh roll rambut.

"Tak pernah ada yang bicara blak-blakan soal penampilanmu. Tapi adanya usaha untuk mengubah sesuatu dalam diri, itu memberi pesan bahwa kamu tak bisa tampil apa adanya. Karena itu pula, saya jadi beranggapan bahwa makin lurus rambut, itu makin baik," ujar Nehal yang sering dibawa ke salon untuk meluruskan rambut.

Karena tekanan sosial itu, para pemilik rambut keriting juga mempraktikkan sejumlah siasat agar terhindar dari ejekan. Caranya beragam, mulai dari menggunakan minyak zaitun setiap minggu agar rambut terlihat lebih teratur, sampai menggunakan berbagai produk pelurus rambut.

Datang ke salon tidak selalu jadi pilihan baik. Para pekerja di salon tak segan melontarkan komentar tidak menyenangkan saat melihat rambut pelanggan yang keriting. Terlebih apabila jenis keriting yang disebut gaya rambut afro.

Para pemilik jenis rambut ini kerap mengeluh karena pekerja salon terkesan menata rambut dengan asal-asalan. Selain menghasilkan model rambut yang tidak maksimal, perbuatan para penata rambut juga membuat si pelanggan menangis.

“Saya tidak pernah menemukan penata rambut di Kairo yang dengan senang hati menggunting dan menata rambut asli saya. Mereka tidak tahu caranya. Setiap orang diprogram untuk meluruskan rambut. Saya tetap menerima reaksi yang buruk dari orang-orang yang melihat rambut saya,” kata Nour Ibrahim dalam Egypt Today.

Orang-orang di sekitar Ibrahim menjulukinya kishin, yang artinya keras dan rusak. Perkataan itu justru sering diucapkan anggota keluarga dan penata rambut. Pada usia 12 tahun, sang ibu memberinya hair dryer, alat catok rambut, dan berbagai produk pelurus rambut. Setiap hari ia menggunakan berbagai produk tersebut

“Saya tidak memiliki rambut orang kulit putih, dan hal itu membuat saya merasa jelek. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bebas dari konsep kecantikan ideal wanita Eropa,” lanjutnya.

Pada usia 16 tahun, Ibrahim berhenti menggunakan seluruh produk tersebut, dan mulai menumbuhkan rambut aslinya. Ia tak ingin terus terjerat dalam penggunaan produk-produk mahal dan ingin menunjukkan kecantikan asli wanita Mesir.

Beberapa kasus diskriminasi ini membuat Doaa Gawish mendirikan komunitas daring Hair Addict di media sosial Facebook. Ia juga merupakan korban ejekan bentuk rambut. Komunitas ini bertujuan sebagai kelompok dukungan bagi para korban perisakan lain. Mereka juga ingin memotivasi para anggota untuk merawat bentuk asli rambut.

Di Mesir, harapan-harapan ini tersemai perlahan. Semisal adanya salon seperti The Curly Studio, yang dikhususkan untuk wanita berambut keriting. Egypt Today mengisahkan bahwa salon tersebut hendak membebaskan tamunya dari produk-produk berbahan kimia dan panasnya peralatan kecantikan, yang biasa digunakan untuk meluruskan rambut.

Baca juga: 10 Ciri Rambut dan Rahasia Kepribadian di Baliknya

Related

World's Fact 4316359653725220202

Recent

item