Ini Gambaran Kinerja Instrumen Investasi 4 Tahun Terakhir

Ini Gambaran Kinerja Instrumen Investasi 4 Tahun Terakhir

Naviri Magazine - Bagi yang masih awam investasi, tentu masih bingung akan memilih investasi apa untuk mengembangkan uang yang dimiliki. Karena, keliru meletakkan uang dalam investasi yang merugi hanya akan memberikan kerugian. Tak jauh beda dengan investasi yang hanya memberi imbal hasil sedikit.

Tiap instrumen investasi memiliki kinerja yang berbeda-beda. Hal ini tentu bisa menyulitkan kamu yang baru akan berinvestasi, dan masih ragu apakah akan investasi atau tidak.

Bila kamu masih ragu dengan kinerja instrumen investasi yang ada, berikut ini adalah gambaran kinerja selama empat tahun terakhir.

Pertama deposito, selama empat tahun terakhir, akumulasi bunga (imbal hasil) sudah mencapai 31,05%.

Artinya, rata-rata per tahun adalah 7,76% (Oktober 2014-Oktober 2018). Kenaikan suku bunga acuan (BI7DRR) yang masif di 2018 menjadi salah satu penyebab kenaikan suku bunga simpanan seperti deposito.

Sementara itu, harga emas Batangan ANTAM rata-rata per tahun naik 6,38% atau sebesar 25,53% selama empat tahun.

Lalu, bagaimana dengan imbal hasil di pasar keuangan? Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memberi imbal hasil rata-rata per tahun sebesar 3,79% atau 16,98% selama empat tahun.

Obligasi korporasi memberi hasil sebesar 8,33% atau 33,32% selama empat tahun terakhir. Sedangkan obligasi pemerintah menawarkan imbal hasil 6,77% atau 27,06% dalam empat tahun.

Reksa dana pasar uang menawarkan imbal hasil 5,46% per tahun atau 21,82% selama empat tahun. Sedangkan reksa dana pendapatan tetap sebesar 5,08% per tahun atau 20,3% selama empat tahun.

Return reksa dana saham imbal hasilnya (-0,12%) atau (-0,47%) selama empat tahun. Gabungan proteksi kesehatan dan investasi (unitlink) saham menawarkan imbal hasil sebesar 5,21% per tahun. Sedangkan unitlink pendapatan tetap dan campuran masing-masing memberi imbal hasil 5,11% dan 4,36% per tahun.

Selama beberapa tahun terakhir, ekonomi global memang sedang bergejolak. Gejolak yang terjadi pada ekonomi global tentu memengaruhi pasar keuangan di Indonesia. Sejumlah isu global itu seperti perang dagang Amerika Serikat melawan Tiongkok.

Kemudian, kenaikan suku bunga acuan oleh The Fed, Brexit, serta krisis keuangan di beberapa negara, sangat memengaruhi kondisi pasar keuangan Tanah Air.

Gejolak global, ditambah pelemahan rupiah terhadap dollar AS, serta defisit yang terjadi pada neraca perdagangan dan pembayaran, membuat seolah tercipta badai yang sempurna bagi pasar keuangan dan pasar modal dalam negeri.

Jadi, sudah menentukan keputusan untuk investasi atau belum? Bila sudah masuk, hal selanjutnya yang perlu dilakukan adalah menyusun strategi agar portofolio investasi yang dimiliki termasuk solid.

Baca juga: Begini Cara Memiliki Uang Rp100 Juta Dalam 3 Tahun

Related

Money 3045903354400522563
item