Impian Generasi Milenial: Traveling dan Keliling Dunia!

Impian Generasi Milenial: Traveling dan Keliling Dunia!

Naviri Magazine - Masing-masing generasi tampaknya memiliki impian besarnya sendiri. Generasi X mungkin punya impian memiliki rumah sendiri. Sementara generasi Milenial punya impian besar lain, yaitu traveling dan keliling dunia. Kenyataannya, kegiatan traveling saat ini memang sudah menjadi gaya hidup banyak orang, khususnya generasi Milenial.

Untuk bisa mencapai impian itu, generasi Milenial bahkan rela mengorbankan banyak kesenangan, seperti meninggalkan ponsel, meninggalkan acara televisi di Netflix, sampai meninggalkan aktivitas seks.

Hal ini dibuktikan survei terbaru yang dilakukan Contiki Tours. Lebih dari setengah generasi milenial yang disurvei, tepatnya 57 persen menyatakan demikian. Studi ini menjaring 1.500 partisipan di Amerika Serikat. Seluruhnya adalah milenial, berusia antara 18 hingga 35 tahun.

Sebagai catatan, definisi milenial yang digunakan survei ini berbeda dengan definisi milenial menurut Pew Research Center—orang yang lahir antara tahun 1981 sampai 1996.

Menukil Bustle, mereka ditanya, rela mengorbankan apa demi bisa menjelajah dunia gratis. Sebanyak 57 persen menyatakan rela tidak berhubungan seksual selama sekitar enam bulan demi keliling dunia.

Studi ini dilakukan oleh Contiki Tours. Perusahaan jasa perjalanan dengan fokus pelanggan milenial.

Sepertinya, seks bukanlah satu-satunya hal yang akan tersingkir karena tekad bulat untuk melancong. Dari 1.500 peserta survei, 80 persen juga mengaku rela setop mengakses pengaliran film Netflix selama enam bulan.

Sebanyak 73 persen milenial mau berhenti minum alkohol. Sementara 77 persen lain rela tak jajan kopi lagi selama beberapa bulan.

Belum berhenti sampai di situ, ada 60 persen milenial yang bersedia menghapus karbohidrat dari menu sehari-hari.

Para milenial juga menyatakan rela menyerahkan ponsel mereka demi bisa menjelajah dunia. Walaupun hanya 41 persen saja yang menyatakan demikian.

Padahal, banyak milenial zaman sekarang yang susah menjauh dari ponsel. Bisa jadi, ini karena kesempatan rehat sejenak dari media sosial yang ditawarkan perpelancongan.

Sambil menyelam minum air, dengan meninggalkan ponsel mereka bisa mempraktikkan detoks digital, sekaligus mendapat pengalaman baru. Soal dokumentasi, tak perlu khawatir karena toh masih bisa pergi membawa kamera.

Contiki juga menyelisik bagaimana milenial merencanakan perjalanan. Seperti halnya kebanyakan orang, membandingkan harga tiket dan akomodasi sudah jadi semacam kebiasaan yang wajib dilakukan.

Menurut survei mereka, 83 persen milenial jalan-jalan satu sampai lima kali dalam setahun. Sementara 35 persen lainnya melancong tiga sampai lima kali setahun.

Artinya, generasi ini hampir selalu sibuk mencari destinasi baru dan merencanakan perjalanan. Sekitar 33 persen dari mereka mengakses YouTube dan menggulir lini masa Instagram dua sampai empat jam, hanya untuk mencari inspirasi destinasi.

Kemudian, mereka menghabiskan setidaknya satu sampai tiga jam untuk mencari tempat makan terbaik. Setengah milenial yang disurvei mengaku menghabiskan waktu yang kurang lebih sama mencari hotel yang tepat.

Selain survei Contiki, Hilton Hotels & Resorts juga pernah mengadakan survei serupa. Hasilnya mengungkap, jalan-jalan dan menemukan hal baru adalah aktivitas yang paling disukai para milenial.

Malah, 75 persen profesional muda di AS melihat perjalanan dinas sebagai "bonus" pekerjaan. Sebanyak 65 persen dari mereka menganggapnya simbol status.

Karenanya, 40 persen dari mereka enggan menerima pekerjaan yang tidak memungkinkan mereka bepergian untuk keperluan dinas. Sementara 56 persen dari mereka sibuk mencari alasan agar bisa pergi dinas.

Informasi soal pilihan milenial ini mungkin penting untuk industri pariwisata. Pasalnya, menurut estimasi Pew Research Center, pada 2019 milenial akan mendominasi Amerika Serikat, melibas generasi baby boomers.

Dari segi populasi, jumlah milenial tahun 2019 diprediksi mencapai 73 juta. Sementara baby boomers hanya 72 juta.

Forbes pernah mewawancarai pendiri For the Love of Travel, Tara Cappel. For The Love Travel adalah perusahaan rintisan milenial yang menawarkan personalisasi saran perjalanan, serta menghubungkan pelancong dengan komunitas dan penduduk lokal daerah tertentu.

Menurut Cappel, maskapai penerbangan, jaringan hotel, dan pengelola tempat wisata perlu memahami karakter milenial agar bisa menarik minat mereka.

"Saya pikir cara nomor satu untuk menarik para milenial adalah menawarkan dan melakukan sesuatu yang sangat unik, sehingga orang merasa terdorong untuk membagikannya di media sosial mereka," ujar Cappel.

Menurutnya, generasi milenial sangat menghormati dan bergantung pada pendapat teman-teman sebaya mereka. "Kalau kami melihat sesuatu yang sangat keren dalam akun media sosial teman, itu jauh lebih kredibel daripada iklan majalah atau laman blog yang disponsori," lanjutnya.

"Dalam dunia daring yang kadang membuat kewalahan, konten yang kami tahu bisa kami percayai adalah milik teman-teman kami," pungkas Cappel.

Baca juga: Alasan Banyak Wanita Cantik yang Memilih Tidak Menikah

Related

Lifestyle 5174299488621517702
item