Kisah Kematian Umar bin Khattab, dan Kata-kata Terakhirnya

Kisah Kematian Umar bin Khattab, dan Kata-kata Terakhirnya

Naviri Magazine - Umar bin Khattab bukan hanya salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, namun juga salah satu pejuang di awal Islam. Belakangan, setelah Nabi Muhammad wafat, Umar bin Khattab menjadi salah satu khalifah, menggantikan Abu Bakar. Umar bin Khattab juga meninggal dunia, saat masih menjabat sebagai khalifah. Kematiannya akibat dibunuh seseorang bernama Abu Lu’lu’ah.

Pada tahun 23 Hijriyah atau 644 Masehi, di Madinah terdapat budak Persia bernama Firoz atau Fairuz yang nama keluarganya adalah Abu Lu’lu’i atau Abu Lu’lu’ah. Dialah orang yang membunuh Umar. Dalam pelbagai kisah yang menceritakan pembunuhan terhadap khalifah kedua tersebut, nama pembunuh yang kerap dipakai adalah Abu Lu’lu’ah.

Menurut sebagian sumber, motivasi Abu Lu’lu’ah membunuh Umar adalah dendam atas ditaklukkannya Persia oleh pasukan Muslim. Namun, terlepas dari benar tidaknya motivasi tersebut, berdasarkan catatan Syibli Nu’mani, pembunuhan terhadap Umar dilatari persoalan pajak.

Sekali waktu, Abu Lu’lu’ah datang menghadap khalifah. Ia mengeluhkan pajak yang dibebankan tuannya, Mughirah bin Syubah. Ia meminta kepada Umar untuk mendesak tuannya agar menurunkan nilai pajak tersebut.

Umar bertanya kepadanya ihwal pekerjaan yang ia lakoni. Abu Lu’lu’ah menjawab bahwa ia bekerja sebagai tukang kayu, tukang cat, dan pandai besi. Menurut Umar, pekerjaan tersebut layak untuk dibebani pajak sebesar yang ia keluhkan.

“Jumlah [pajak] itu tidak banyak dibandingkan dengan pekerjaan yang menguntungkan ini,” kata Umar.

Abu Lu’lu’ah tidak terima dengan jawaban itu. Ia pun marah dan merencanakan untuk menghabisi Umar.

Keesokan harinya, Umar pergi ke masjid hendak salat Subuh berjamaah. Di sisi lain, Abu Lu’lu’ah yang Majusi pun pergi ke masjid dengan membawa sebilah belati. Saat Umar mulai mengimami salat Subuh, Abu Lu’lu’ah tiba-tiba menerobos dari belakang dan menghunjamkan belatinya sebanyak enam kali ke tubuh Umar. Salah satunya mengenai panggul.

Sang khalifah terkapar dan berlumuran darah. Sementara Abu Lu’lu’ah, dalam kondisi terpojok, juga melukai jemaah lain dan akhirnya bunuh diri.

Umar kemudian dibawa ke rumah. Ia lalu bertanya, “Siapa pembunuhku?”

“Firoz,” jawab orang-orang.

“Segala puji bagi Allah bahwa aku tidak dibunuh oleh seorang Muslim!” jawab Umar kembali.

Mulanya kaum Muslimin sedikit terhibur karena mereka mengira Umar akan pulih. Namun, saat tabib yang memeriksanya memberikan minuman hangat berupa campuran kurma dan susu yang diberikan kepada khalifah, minuman itu keluar dari luka-lukanya.

Sebelum meninggal, Umar menyuruh anaknya, Abdullah, untuk meminta izin kepada Aisyah, istri Rasulullah, agar ia dikuburkan disamping makam Rasulullah.

“Aku mempunyai pikiran untuk mencadangkan tempat ini bagi diriku, tetapi hari ini aku mengizinkan Umar didahulukan dari padaku,” ucap Aisyah.

Setelah mendapat jawaban dari Aisyah, Abdullah buru-buru kembali menemui ayahnya.

“Berita apa yang kau bawa kepadaku, anakku?” tanya Umar.

“Yang diharapkan memberikan kepuasan kepadamu,” jawab Abdullah.

“Itu adalah keiginanku yang paling besar,” kata Umar.

Pada 25 Zulhijah 23 Hijriyah atau 3 November 644, Umar bin Khattab, sahabat Rasulullah yang semula amat keras menentang Islam dan berbalik menjadi pembela Islam yang gigih itu, akhirnya meninggal dunia.

Syibli Nu’mani menerangkan, pemakaman Umar dilakukan oleh Shuhaib bin Sinan, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin Abi Waqqas, dan Abdurrahman bin Auf, yang menurunkan jenazah sang khalifah ke liang lahat.

“Dan sang cahaya yang menyinari dunia itu tersembunyi dalam bumi untuk selama-lamanya,” tulis Nu’mani.

Baca juga: Asal Usul Nabi Adam Menurut Islam, Yahudi, dan Kristen

Related

Moslem World 6067091728288554678

Recent

item