Kisah Hijrah di Zaman Nabi Muhammad, dari Mekkah ke Madinah

Kisah Hijrah di Zaman Nabi Muhammad, dari Mekkah ke Madinah

Naviri Magazine - Karena kondisi politik yang bergejolak, Nabi Muhammad SAW memutuskan untuk meninggalkan Mekkah dan hijrah ke Madinah. Pada waktu itu, masyarakat Mekkah sangat menentang dan memusuhi orang-orang Islam. Sementara di Madinah sudah banyak orang Islam, dan hijrah ke sana bisa menjadi cara untuk memperoleh suasana hidup yang lebih tenang.

Pada waktu itu, Umar bin Khattab juga ikut hijrah dari Mekkah ke Madinah, karena waktu itu dia sudah memeluk Islam.

Setelah masuk Islam, tidak seperti kaum Muslimin lain yang sembunyi-sembunyi dalam memeluk keyakinan baru mereka, Umar bin Khattab justru terang-terangan mengumumkan keislamannya di depan kaum Quraisy yang menentang dakwah Rasulullah.

Ia memang sosok yang disegani, sehingga para penentang dakwah Rasulullah tidak ada yang berani menyentuhnya. Hal ini membuat kaum Muslimin yang semula tidak berani melaksanakan salat di dekat Kakbah menjadi leluasa beribadah di sana.

“Ketika Umar memeluk Islam, ia berperang dengan Quraisy sampai ia memenangkan perjuangan itu demikian jauh, sehingga ia masuk Ka’bah di mana ia salat dan kita bersamanya,” kata Abdullah bin Mas’ud, seperti dikutip Muhammad Husain Haekal dalam Umar bin Khattab (2002).

Keberanian Umar juga tergambar saat kaum Muslimin hijrah ke Yatsrib atau yang kemudian bernama Madinah. Mereka berangkat diam-diam karena menghindari gangguan kaum Quraisy yang tak menghendaki ajaran Islam.

Ali bin Abi Thalib, seperti dikutip Husain Haekal, menyebutkan bahwa ketika semua kaum Muhajirin (Muslim Makkah yang melakukan hijrah) melakukannya secara diam-diam, Umar justru melakukannya dengan terang-terangan sambil membawa pedang dan menyelempangkan busur panah. Sementara tangannya menggenggam anak panah dan sebatang tongkat komando.

Sebelum hijrah, ia pergi ke Kakbah melakukan tawaf, sementara orang-orang Quraisy berada di beranda Kakbah. Ia tawaf sebanyak tujuh kali, menuju Maqom Ibrahim, dan salat. Kepada kaum Quraisy yang menentang Islam, yang ia datangi satu-persatu, Umar berkata:

“Wajah-wajah celaka! Allah menista orang-orang ini! Barang siapa ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim atau istrinya menjadi janda, temui aku di balik lembah itu.”

Namun Husain Haekal menambahkan bahwa cerita Umar tersebut tidak ada dalam kisah yang diriwayatkan Ibnu Hisyam, Ibnu Sa’d, dan at-Tabari. Menurut mereka, Umar berangkat hijrah secara diam-diam, sama seperti kaum Muslimin lainnya.

“Dia melakukan itu [hijrah secara diam-diam] bukan karena lemah atau takut, yang memang tak pernah dikenalnya selama hidupnya, tetapi dia laki-laki yang penuh disiplin. Dia mengikuti jemaah dan meminta yang lain juga mengikuti mereka,” tulis Husain Haekal.

Baca juga: Kisah Mengharukan Nabi Muhammad dan Seorang Pengemis Buta

Related

Moslem World 7088890579304045888
item