Hati-hati, Terlalu Banyak Mengonsumsi Kafein Bisa Berbahaya

Hati-hati, Terlalu Banyak Mengonsumsi Kafein Bisa Berbahaya

Naviri Magazine - Kita tentu akrab dengan kafein, khususnya bagi yang biasa mengonsumsi kopi. Karena kopi adalah minuman terkenal yang lekat dengan kafein. Karena kandungan kafein pula, meminum kopi bisa membantu menyegarkan tubuh, karena kafein memang punya manfaat dalam hal itu.

Banyak pekerja yang mengonsumsi kopi di sela-sela pekerjaannya, dengan tujuan agar tidak mengantuk dan selalu segar. Ada pula yang mengonsumsi minuman energi dengan tujuan serupa. Sama seperti kopi, minuman energi juga mengandung kafein.

Sebenarnya, jika dikonsumsi secara wajar atau tidak berlebihan, kafein memang memberi manfaat. Namun, jika konsumsinya sudah melewati batas, hasilnya bisa berbahaya.

Davis Allen Cripe, seorang laki-laki berusia 16 tahun, meninggal di sekolahnya di dekat Columbia, South Carolina. Dia meninggal setelah mengonsumsi minuman berkafein tinggi dalam waktu dua jam. Dikutip dari The Guardian, ia mengonsumsi latte dari McDonald's, Mountain Dew, serta minuman energi yang diketahui berkafein tinggi.

Menurut pernyataan kantor pemerintahan South Carolina, Richland Country Coroner, mengutip dokter yang menanganinya, Davis meninggal karena serangan jantung akibat kafein yang menyebabkan aritmia, atau gangguan pada detak jantung.

Jika dilihat dari jenis minuman yang dikonsumsi Davis, menurut caffeineinformer.com, latte di McDonald's memiliki 142 mg kafein, sedangkan Mountain Dew memiliki kadar kafein hingga 121 mg.

Sedangkan pada minuman energi kadar kafein dapat mencapai 300 mg pada 473 ml minuman seperti pada Bang Energy Drink. Sehingga jika diakumulasi, maka jumlah kafein yang dikonsumsi berada di atas batas yang dianjurkan dalam mengonsumsi kafein.

Kematian karena kafein bukan baru kali ini saja terjadi. Pada 2007, seorang laki-laki berusia 28 tahun di Australia meninggal akibat serangan jantung fatal, karena dalam rentang waktu dari jam 8 pagi hingga 3 sore telah mengonsumsi 7-8 minuman yang berkafein tinggi.

Pada 2014, seorang laki-laki Jepang berusia 20 tahun meninggal karena overdosis kafein, setelah meminum sejumlah minuman berkafein setiap hari dalam waktu yang lama, untuk melawan kelelahan. Kasus ini merupakan yang pertama kali terjadi di Jepang, menurut Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan.

“Kami belum pernah mendengar tentang keracunan kafein yang fatal,” kata kementerian tersebut, seperti dikutip Japan Times.

Dari beberapa contoh di atas, terlihat jika sebagian besar yang menjadi korban adalah mereka yang mengonsumsi beberapa minuman berkafein tinggi dalam kurun waktu yang berdekatan. Rentang waktu antara meminum satu jenis minuman dengan minuman berkafein lain sesungguhnya memainkan peran penting.

Ketika mengonsumsi kafein, zat tersebut akan diserap masuk ke darah dan jaringan lainnya, dalam waktu 45 menit setelah dikonsumsi. Tetapi, efeknya akan bertahan selama lebih dari 3-4 jam.

Kafein dalam tubuh akan bertahan di atas 5 jam. Dalam kurun waktu 5 jam saja, baru sekitar 50 persen kafein yang dikeluarkan tubuh. Sehingga ketika dalam rentang waktu 1 jam atau 2 jam mengonsumsi beberapa minuman berkafein, maka jumlah kafein dalam tubuh tentu menjadi banyak.

Ketika jumlah kafein melewati ambang batas yang direkomendasikan, maka akan merangsang sistem kerja jantung. Hal itu menyebabkan masalah ritme pada jantung. Masalah ritme ini adalah takikardia ventrikel dan fibrilasi ventrikel.

Takikardia merupakan detak jantung yang semakin cepat dan dapat mencapai 180 denyut per menit, padahal umumnya denyut jantung berkisar antara 60-100 denyut per menit. Adapun fibrilasi adalah denyut jantung yang cepat dan tidak beraturan.

Gangguan pada denyut jantung ini terkadang menyebabkan kematian, menurut Thomas Sweeney dari Christiana Care Health System di Wilmington. Itulah mengapa banyak korban yang meninggal setelah mengonsumsi beberapa minuman berkafein dalam rentang waktu yang berdekatan.

Kafein tak melulu hanya ada pada minuman. Kafein juga ada dalam pil. Misalnya beberapa obat analgetik, seperti Bodrex Extra, Oskadon, hingga Saridon. Kafein juga ada dalam pil-pil diet. Pada 2014, perempuan Inggris bernama Katie Goard meninggal setelah menenggak pil diet yang mengandung kafein tinggi.

Padahal jika kafein dikonsumsi dengan jumlah yang tepat, sesungguhnya dapat memberi manfaat bagi tubuh. Kafein dapat menghalangi adenosin di dalam otak, yang merupakan hormon penyebab rasa lelah. Kafein juga dapat menstimulus glutamin dan dopamin, yang dapat meningkatkan mood dan menghasilkan euforia.

Selain itu, jika merasa sedikit lelah, penelitian telah membuktikan jika kafein dapat memperbaiki tingkat fokus kita. Tergantung pada kita bagaimana mengelola pemanfaatan kafein agar bermanfaat bagi tubuh, bukan menghancurkan atau membunuh.

Baca juga: Tak Terduga, Ini Manfaat Mengonsumsi Matcha dan Teh Hijau

Related

Health 4031069288159998206
item