Misteri Rekahan Tanah Sepanjang 40 Meter di Gunungkidul

Misteri Rekahan Tanah Sepanjang 40 Meter di Gunungkidul

Naviri Magazine - Bencana bisa datang dalam berbagai bentuk, dan masing-masing bencana umumnya menunjukkan tanda-tanda tertentu. Bencana longsor, misalnya, bisa ditandai dengan munculnya rekahan pada tanah. Seperti yang terjadi di daerah Gunungkidul baru-baru ini.

Rekahan tanah sepanjang 40 meter ditemukan di Padukuhan Mangkorong, Desa Sampang, Kecamatan Gendangsari, Gunungkidul. Meski lebar rekahan kawasan perbukitan di Gedangsari tersebut masih kecil, tapi sangat berpotensi untuk menimbulkan tanah longsor jika terjadi hujan terus menerus.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mulai memetakan kemungkinan bahaya yang ditimbulkan oleh rekahan tanah tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Eddy Basuki, mengatakan pihaknya mengimbau kepada penghuni rumah yang ada di bawah bukit tersebut untuk meningkatkan kewaspadaan.

Jika nanti terjadi hujan terus menerus, dan intensitasnya cukup besar, pihaknya mengimbau kepada pemilik rumah untuk segera mengungsi. "Barang-barang juga sekiranya ada yang penting, maka dikumpulkan dan dibawa ke tempat yang lebih aman terlebih dahulu," kata Eddy.

Kecamatan Gedangsari memang merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam zona rawan terjadi bencana tanah longsor. Hampir setiap musim penghujan datang, di kecamatan ini selalu terjadi tanah longsor, baik dengan skala kecil, sedang, ataupun skala besar. 

Pemasangan alat deteksi dini tanah longsor, atau sering disebut Early Warning System (EWS), menjadi salah satu upaya yang dilakukan oleh BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta, untuk mengurangi jumlah kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tanah longsor. EWS diharapkan mampu membuat masyarakat semakin waspada.

"EWS tanah longsor sudah tersebar di berbagai wilayah rawan tanah longsor," kata BPBD DIY, Birawa Yusdiyanta.

Puluhan EWS telah terpasang di kawasan rawan longsor, salah satunya di Kecamatan Gedangsari. Namun, dari puluhan EWS tersebut, dua di antaranya mengalami kerusakan. Pihaknya sudah berupaya untuk memperbaiki kondisi EWS tersebut, agar berfungsi kembali.

Ia mengatakan, mitigasi bencana memang sangat diperlukan untuk meningkatkan upaya antisipasi terjadinya bahaya tanah longsor. Untuk mitigasi tersebut, BPBD memang berupaya melibatkan pihak desa. Dan pihak BPBD mendorong kepada desa untuk mengalokasikan anggaran dari APBD mereka, untuk program penanggulangan bencana.

"Kami bentuk desa tanggap bencana (Destana) sebagai upaya preventif terjadinya bencana di desa," ujarnya.

Baca juga: Misteri Suara Aneh di Langit, dari Kanada Sampai Indonesia

Related

News 8006550756732818745
item