Mitos dan Fakta Seputar Vaksin yang Perlu Anda Tahu

Mitos dan Fakta Seputar Vaksin yang Perlu Anda Tahu

Naviri Magazine - Kontroversi terkait pemberian vaksin tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di berbagai negara, bahkan termasuk di Amerika. Kontroversi terkait pemberian vaksin juga bukan hal baru, karena telah terjadi sejak zaman dahulu.

Kesimpangsiuran informasi mengenai vaksin, yang juga bercampur dengan aneka mitos, menjadikan banyak orang ragu-ragu untuk memberikan vaksin buat anaknya.

Meski vaksin telah terbukti efektif untuk mengurangi kemungkinan anak terserang penyakit, masih banyak yang menentangnya karena beragam hal, mulai dari mitos yang masih dipercaya hingga terkait agama.

Padahal, ada beberapa vaksin yang penting untuk diberikan guna mencegah merebaknya penyakit berbahaya, seperti hepatitis B, polio, dan campak. Berikut ini adalah mitos dan miskonsepsi soal vaksin, serta fakta berdasarkan tinjauan ilmiah yang dirangkum dari berbagai sumber.

Mitos: Vaksin mengandung banyak bahan berbahaya

Fakta: Semua bahan, bahkan air minum, akan menjadi berbahaya jika dikonsumsi berlebihan. Oleh karena itu, produsen vaksin telah memastikan semua bahan pembuatnya bisa dipakai dengan aman oleh masyarakat. Pengawasan dan uji coba secara ketat juga terus dilakukan oleh pemerintah terhadap pembuat vaksin.

Menurut American Academy of Allergy Asthma and Immunology, kalaupun mengandung zat yang dianggap berbahaya bagi manusia—seperti themirosal, formaldehida, dan almunium—kandungannya lebih rendah dari yang biasa dihadapi sehari-hari di lingkungan.

Sementara, mengenai kandungan zat pada babi, yang haram bagi umat Islam namun digunakan beberapa vaksin, Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Komisi Fatwa telah menyatakan vaksin boleh digunakan hingga ditemukan bahan vaksin lain yang lebih halal.

Mitos: Vaksin akan membuat sistem kekebalan tubuh bayi kelebihan muatan (overload)

Fakta: Hanya sedikit bagian dari sistem kekebalan tubuh bayi yang digunakan oleh vaksin untuk balita dan anak-anak. Anak-anak, dijelaskan National Health Service (NHS) Inggris, bahkan lebih sering kontak langsung dengan banyak serangga dalam kehidupan sehari-hari.

Seorang anak, menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), lebih banyak terpapar antigen dari salesma atau nyeri tenggorokan ketimbang vaksin. Vaksinasi kombinasi seperti MMR (measles-mumps-rubella/campak-gondongan-rubela) bisa menghemat waktu, uang, dan anak juga mendapat suntikan lebih sedikit.

Mitos: Anak justru bisa sakit setelah divaksin

Fakta: Mitos ini muncul karena beberapa orang menderita sakit atau demam usai divaksin. Vaksinasi adalah memasukkan bibit penyakit yang telah dilemahkan ke dalam tubuh.

Gunanya agar sistem kekebalan tubuh bisa mengenalinya, lalu memicu respons kekebalan (antibodi). Sakit dan demam adalah efek samping yang tidak berbahaya, jika dibandingkan terkena penyakit akibat tak divaksin.

Selain itu, sebagian besar vaksin adalah vaksin yang tidak aktif (dibunuh), sehingga nyaris tak mungkin terpapar penyakit akibat vaksin.

Beberapa vaksin memang mengandung organisme hidup yang bisa mengakibatkan penerimanya sakit, tapi tidak berbahaya.

Mitos: Vaksin bisa menyebabkan autisme dan sindrom kematian mendadak bayi (sudden infant death syndrome/SIDS), terutama vaksin kombinasi difteri, tetanus, batuk rejan, dan polio.

Fakta: Reaksi tubuh terhadap vaksin biasanya sementara dan tak berbahaya, seperti demam dan sakit pada lengan. Jarang sekali orang yang sakit berat usai vaksinasi. Hingga saat ini penyebab sesungguhnya autisme dan SIDS belum ditemukan.

Belum ada bukti ilmiah mengenai kaitan antara vaksinasi dengan autisme dan SIDS. Walau memang diagnosis biasa dilakukan pada usia yang berbarengan dengan pemberian vaksin pada anak.

Mitos: Berbagai penyakit di dunia sudah mulai hilang dari dunia, bahkan sebelum vaksin digunakan, karena gaya hidup yang lebih bersih

Fakta: Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan memang ada periode naik dan turun dalam wabah penyakit, sehingga mitos di atas banyak didengungkan kelompok anti-vaksin. Namun, hasil beberapa penelitian menunjukkan periode turunnya penderita suatu penyakit justru terjadi ketika vaksinasi gencar dilakukan.

Bahkan, merujuk kepada kasus di Inggris pada 1974, wabah pertusis kembali merebak di negara itu ketika jumlah warga yang divaksinasi pertusis. Hal yang sama terjadi di Jepang.

Jadi, memang ada penyakit yang perlahan menghilang meskipun tanpa vaksin, tetapi jika vaksinasi tak dilakukan, peluang mereka untuk merebak lagi jadi lebih besar.

Baca juga: Gerakan Anti-Vaksin di Dunia, dari Masa ke Masa 

Related

Parenting 3399107763073289558
item