Tak Lama Lagi, Dunia Akan Mengenal Mobil dan Taksi Terbang

Tak Lama Lagi, Dunia Akan Mengenal Mobil dan Taksi Terbang

Naviri Magazine - Kita tentu pernah menyaksikan film-film futuristik, yang menggambarkan dunia masa depan yang sangat canggih. Dalam film-film itu ada berbagai jalan raya yang tampak penuh tapi teratur, gedung-gedung tinggi menjulang yang sangat megah, aneka peralatan berteknologi tinggi, juga mobil-mobil yang bisa terbang.

Mungkinkah hal serupa juga akan terjadi di dunia kita? Jawabannya mungkin saja, khususnya terkait mobil terbang.

Di Geneva Motor Show 2018 pada Maret lalu, Audi, Italdesign, dan Airbus, menampilkan mobil terbang hasil kolaborasi mereka. Pop.Up. Next adalah nama mobil tersebut, menggabungkan prinsip kerja drone dengan mobil elektrik.

Mencuplik Express, ada tiga bagian utama pada Pop.Up.Next yang bisa dibongkar-pasang. Bagian pertama, yakni perangkat sasis mobil—terdiri dari motor listrik, roda, dan lainnya, yang dilepas ketika terbang. Bagian kedua, yakni ruang “kapsul” yang berfungsi sebagai kabin penumpang. Bagian ketiga, yakni empat set baling-baling “drone” untuk membawa mobil terbang dan ditanggalkan pada mode darat.

Di jalan darat, mobil dapat melaju secara otonom, mengandalkan teknologi kecerdasan buatan. Pengendalian mobil ketika terbang dijalankan lewat layar berukuran 49 inci, yang tertanam di dalam ruang kapsul. Layar tersebut dapat dijalankan dengan sistem pengenalan wajah, eye-tracking, dan kendali layar sentuh.

“Kreativitas dibutuhkan ketika masalah mobilitas untuk perkotaan dan masyarakatnya yang berbeda membutuhkan konsep baru,” ujar Dr. Bernd Martens, Audi Board Member for Procurement sekaligus Presiden Italdesign. “Pop.Up.Next adalah ambisi masa depan yang bisa mengubah kehidupan urban,” sebut Martens.

Pabrikan mobil asal Inggris, yang juga lekat dengan karakter James Bond, Aston Martin, pun telah memperlihatkan bentuk mobil terbangnya. Aston Martin Volante Vision Concept dibuat sebagai perwujudan kendaraan masa depan, mobil sekaligus pesawat udara berukuran kecil yang bisa disimpan di garasi rumah.

“Konsep ini bertujuan untuk menggambarkan teknologi anyar, material, dan keindahan,” kata Juru Bicara Aston Martin, Matt Clarke, dikutip USA Today.

Toyota pun sudah punya rancangan mobil terbang yang kabarnya akan digunakan pada Olimpiade Tokyo pada 2020. Begitu juga dengan perusahaan transportasi Uber, berambisi menjajal layanan taksi terbang dalam waktu dekat di Dallas, AS, dan Dubai, Uni Emirat Arab.

Mobil terbang diprediksi akan semakin populer dalam puluhan tahun mendatang, menemani mobil otonom. Namun, ada beberapa kendala yang dihadapi mobil-mobil bersayap jika bersinggungan dengan lalu lintas umum.

Mencuplik Forbes, mobil terbang bakal merepotkan jika membutuhkan landasan untuk terbang dan mendarat. Di kawasan perkotaan yang padat, hampir mustahil mendapatkan landasan pacu. Sehingga konsep drone dengan prinsip vertical take-off and landing bakal lebih tepat untuk diterapkan pada mobil terbang. Sehingga mobil bisa terbang dan mendarat dengan praktis, tanpa landasan.

Di udara, mobil-mobil ini tidak bisa berseliweran sembarangan. Jika tidak diatur dengan baik, mobil terbang dapat menjadi ancaman keselamatan massal buat keselamatan penerbangan sipil. Keberadaan air traffic control (ATC) khusus mobil terbang perlu dibuat, jika mobil terbang mulai dilirik oleh masyarakat.

Kerepotan lain yang bakal datang ketika era mobil terbang semakin eksis, yakni kepemilikan lisensi pilot. Para pemilik mobil mau tidak mau harus mengantongi dokumen tersebut agar bisa mengoperasikan mobil terbang dengan tepat. Risiko keamanan mobil-mobil bersayap juga belum teruji.

Baca juga: Terrafugia Transition, Mobil Terbang yang Akan Dirilis Pada 2019

Related

Technology 736875705235728014

Recent

item