Fakta dan Kontroversi di Balik Model-model Victoria’s Secret

Fakta dan Kontroversi di Balik Model-model Victoria’s Secret

Naviri Magazine - Banyak wanita menggeluti dunia model dan menjadi sosok yang bersinar, baik di negaranya maupun di dunia. Ada banyak ajang model yang memungkinkan siapa pun, khususnya model wanita, untuk makin eksis dan menancapkan popularitas. Dalam hal itu, Victoria’s Secret dianggap banyak model sebagai pencapaian tersendiri.

Ada banyak model ternama yang dilahirkan—atau kian berkembang—bersama Victoria’s Secret. Eva Herzigova, Behati Prinsloo, Helena Christensen, Karen Mulder, Naomi Campbell, Karolina Kurkova, sampai Adriana Lima, adalah beberapa contohnya.

Menjadi model Victoria’s Secret merupakan impian yang diletakkan di langit oleh banyak model. Selain jaminan popularitas, para model Victoria’s Secret juga bakal memperoleh pundi-pundi uang yang menggiurkan. Tengok saja ketika Taylor Hill, generasi baru Victoria’s, yang bisa mendapatkan 4 juta dolar tiap tahun. Atau Alessandra Ambrosio yang mampu mendapatkan bayaran 5 juta dolar per tahun.

Memang terdapat banyak hal duniawi yang dijanjikan Victoria’s Secret. Masalahnya, tidak semua janji duniawi itu berujung manis. Kasus Erin Heatherton bisa dijadikan contohnya.

Dua tahun silam, Heatherton, yang menjadi bagian Victoria's Secret Fashion Show edisi 2008 hingga 2013, mengungkapkan alasan mengapa ia keluar dari Victoria’s. Menurut Heartherton, ia “berulang kali dipaksa” untuk lebih kurus agar dapat masuk catwalk.

“Dua pertunjukan terakhir Victoria’s Secret, saya diberitahu untuk menurunkan berat badan,” kata model dari AS ini, sebagaimana diwartakan Sydney Morning Herald. “Aku langsung berkata, ‘Yang benar saja?’”

Heatherton mengungkapkan, kendati ia sudah melahap menu makanan sehat dan rutin berolahraga, ia merasa apa yang dilakukannya “tidak cukup untuk membikin dirinya tetap berada di gelanggang Victoria’s Show”, saking tingginya tuntutan manajemen.

Praktik semacam itu nyatanya bukanlah praktik baru, terlebih bagi Victoria’s Secret. Dalam “The Weird Atheleticsm of the Victoria’s Secret Model”, yang dipublikasikan The Atlantic, Megan Garber menjelaskan bahwa agar “tampil sempurna,” model-model Victoria’s Secret tak jarang harus melakoni aktivitas fisik di luar nalar.

Mulai dari diet ekstrem, mengurangi pasokan cairan pada 12 jam sebelum pertunjukan, hingga melahap banyak pil nutrisi, merupakan tiga contoh yang wajib ditempuh model Victoria’s atas nama “keindahan tubuh.”

Dampak lain yang ditimbulkan dari pola semacam ini ialah turut bergesernya bagaimana mereka—dan lambat laun juga publik—memandang standar “tubuh yang ideal.” Sekarang, semakin kurus badan Anda, maka semakin besar potensi Anda untuk jadi model tenar.

Pola tersebut dikritik oleh Caryn Franklin, mantan editor majalah i-D sekaligus profesor di Kingston University. Ia menerangkan, dunia fesyen tidak memperhatikan bagaimana pola-pola “membentuk tubuh yang ideal” itu juga turut berdampak pada dunia luar.

“Perempuan didorong untuk merefleksikan diri sendiri karena mereka melihat objektifikasi dalam dunia fesyen,” ungkapnya kepada The Guardian. “Mereka yang terjun dalam fesyen sejak kecil telah diajari untuk memandang diri mereka sendiri sebagai “eksterior.”

Masalah "tubuh ideal" hanya secuil narasi tandingan dari kehidupan model yang sekilas tampak glamor dan menyenangkan.

Memang, para model mendapatkan popularitas dan tumpukan uang. Namun, apakah semua pencapaian itu bermakna ketika eksploitasi kerja, seksisme, hingga ancaman pelecehan seksual jadi sengkarut di jagat fesyen yang sampai hari ini belum bisa diurai satu per satu? Hanya mereka yang bisa menjawabnya.

Baca juga: Kisah Tragis di Balik Perusahaan Pakaian Victoria’s Secret

Related

Lifestyle 725337966965028907
item