Memahami Pentingnya Uang Tunai di Saat Bencana Datang

Memahami Pentingnya Uang Tunai di Saat Bencana Datang

Naviri Magazine - Masyarakat modern sedang diajak menuju sesuatu yang disebut cashless society, yaitu tidak lagi menggunakan uang tunai saat berbelanja. Seiring dengan makin canggihnya teknologi digital, kini pembayaran yang semula menggunakan uang pun diubah dengan cara digital, sehingga tidak lagi bergantung pada uang tunai seperti sebelumnya.

Melakukan transaksi secara nontunai dan mengandalkan teknologi digital memang tampak menjanjikan. Namun, ada masalah besar terkait hal itu, yakni ketika bencana datang, dan listrik mati.

Kenyataan itu sangat terlihat ketika Puerto Rico dihantam bencana badai, dan masyarakat di sana tidak bisa membeli apa pun, karena tidak ada uang tunai. Karena listrik mati, semua transaksi pembayaran nontunai tidak bisa dilakukan.

Sebanyak 85 persen wilayah Puerto Rico masih gelap gulita setelah dihantam bencana alam hebat, badai Maria pada September 2017 lalu. Rusaknya jaringan listrik di salah satu negara persemakmuran Amerika Serikat (AS) ini, membuat nyaris seluruh aktivitas warga lumpuh. Keadaan yang berlangsung selama berminggu-minggu ini, membuat warga Puerto Rico mengalami kesulitan uang tunai.

“Hanya uang tunai. Sistem sedang down, jadi kami tidak bisa memproses transaksi pembayaran dengan kartu,” ucap Abraham Lebron, Manajer Toko Supermax, supermarket di Plaza de las Armas, San Juan, Puerto Rico, mengutip Bloomberg.

Kebutuhan uang tunai yang tinggi, membuat Gubernur The Federal Reserve dari negara bagian New York mengirimkan satu unit pesawat jet berisi penuh uang tunai. “Kami mencoba mengirimkan layanan mobil lapis baja untuk mendistribusi uang tunai dan mengisi ATM, tapi tidak semua bisa terlayani karena mati listrik masih menjadi kendala terbesar,” kata William C. Dudley, melansir CNBC.

Bencana alam yang melanda kawasan AS seperti Puerto Rico maupun negara bagian lain, seperti Texas dan Florida, menunjukkan apa yang terjadi ketika tenaga listrik padam. Imbasnya, jaringan ATM dan juga internet tidak bisa digunakan. Dengan begitu, akses untuk mendapatkan uang tunai maupun penggunaan uang elektronik dan digital, menjadi terputus.

Upaya memasok sejumlah besar uang tunai ke lembaga keuangan adalah hal pertama yang dilakukan oleh kantor cabang Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan, pasca bencana gempa bumi dan tsunami melanda Tohoku, yang berada di timur laut Jepang.

Sepekan pertama pasca gempa dan tsunami, kantor cabang BoJ dan juga kantor perbankan lokal di Tohoku mengucurkan pasokan uang tunai 310 miliar yen atau tiga kali jumlah yang biasa dipasok.

Masaaki Shirakawa, Gubernur BoJ bersama Menteri Keuangan Jepang mengizinkan penarikan deposito di perbankan, meski sertifikat deposito maupun buku tabungan telah hilang karena bencana.

Untuk membantu mengamankan kesejahteraan rakyat paling rentan seperti lansia dan disabilitas, pemerintah Jepang menyediakan transfer uang tunai dengan jumlah sekitar 50 ribu-250 ribu yen, setara $550-$26 ribu per bulan.

Dana itu didistribusikan secara individual ke sebagian orang yang rentan di seluruh Jepang. Laporan berjudul Learning From Megadisasters; Lesson From The Great East Japan Earthquake menyebutkan uang tunai memiliki beberapa keunggulan sebagai insentif saat bencana.

Pertama, masyarakat dapat memilih barang kebutuhan yang mereka ingin beli. Upaya ini membantu memberdayakan masyarakat. “Uang tunai juga memiliki dampak pasar yang besar ketika dibelanjakan di tingkat domestik, sehingga membantu pemulihan dan perputaran uang secara nasional,” tulis Federica Ranghieri dan Mikio Ishiwatari dalam laporan Bank Dunia.


Related

Money 905830099467197353
item