Kisah Tragis di Balik Perusahaan Pakaian Victoria’s Secret

Kisah Tragis di Balik Perusahaan Pakaian Victoria’s Secret

Naviri Magazine - Victoria’s Secret telah identik dengan pakaian wanita. Selain terkenal di seluruh dunia, Victoria’s Secret juga lekat dengan kesan elegan dan berkelas. Bahkan, ajang fashion show Victoria’s Secret menjadi ajang yang sangat diidam-idamkan banyak model di seluruh dunia.

Di balik penampakan glamor Victoria’s Secret, asal usul perusahaan ini bisa dibilang menyimpan kisah tragis.

Naomi Barr, dalam “The Tragic Story Behind Victoria’s Secret”, menceritakan bahwa satu hari, seseorang bernama Roy Raymond, yang juga lulusan Standford, datang ke toko perbelanjaan guna membelikan pakaian dalam untuk istrinya. Di tengah pencarian itu, ia terintimidasi oleh pegawai toko yang seperti mempertanyakan apa motivasinya mencari pakaian dalam.

Pengalaman “diintimidasi” tersebut terus terpatri dalam pikirannya. Dari situ, Raymond lantas memunculkan ide untuk membikin toko pakaian dalam yang dirancang agar membuat “pria merasa nyaman berbelanja di sana.” Nama “Victoria”, yang terinsipirasi dari Monarki Inggris, dipilih sebagai nama toko supaya kesan elegan bisa dimunculkan.

Pada 1977, berbekal modal yang didapat dari tabungan, serta pinjaman keluarga sebesar 80 ribu dolar, Raymond dan sang istri menyewa ruang di pusat perbelanjaan di Palo Alto, California. Di lokasi inilah Victoria’s Secret lahir.

Tak dinyana, Victoria’s Secret tumbuh cepat. Penjualan mereka terus meningkat. Tujuan Raymond untuk menyediakan toko belanja pakaian dalam yang tidak membikin para pria canggung, perlahan berhasil. Pada 1982, Victoria’s Secret punya omset tahunan senilai 4 juta dolar.

Namun, masih mengutip laporan Naomi, “ada sesuatu yang salah” dalam strategi dan kepemimpinan Raymond yang perlahan berdampak pada kondisi keuangan perusahaan. Di momen ini, datanglah Leslie Wexner, pengusaha perkakas olahraga bernama The Limited—perusahaan yang pada 1977 punya nilai kapitalisasi sebesar 50 juta dolar.

Kedatangan Wexner di Victoria’s bertepatan dengan rencana ekspansi perusahaannya ke produk yang lain. Pada awal 1980-an, ketika mengunjungi toko The Limited di San Fransisco, ia menemukan Victoria’s Secret. Wexner seketika tertarik.

Tanpa pikir panjang, lebih-lebih setelah mendengar kabar Victoria’s yang berpotensi bangkrut, Wexner langsung menyodorkan tawaran pembelian seharga 1 juta dolar kepada Victoria’s. Gayung bersambut; Raymond bersedia menjual Victoria’s ke Wexner.

Wexner kemudian menyusun langkah-langkah perbaikan untuk perusahaan. Ia menganggap bahwa salah satu kegagalan Victoria’s di era Raymond adalah mereka tak punya produk yang “ramah terhadap perempuan”—baik secara kualitas maupun kuantitas.

Wexner pun terbang ke Eropa, guna mempelajari bagaimana butik-butik di sana menghasilkan pakaian dalam yang nampak seksi, tidak murahan, tetap elegan, dan mampu dibeli dengan harga terjangkau.

Sepulang dari perjalanan tersebut, Wexner lalu membikin model pakaian dalam yang sesuai amatannya di Eropa. Hasilnya tokcer. Produk-produk Victoria’s Secret mulai mencerminkan citra baru perusahaan. Misalnya, “Miracle Bra” yang laris manis di pasaran.

Kesuksesan tersebut membuat Victoria’s Secret jadi jenama yang unggul. Produknya menghiasi sampul Vogue hingga Glamour, dan dirayakan jutaan perempuan. Pada 1995, Victoria’s Secret menjadi perusahaan senilai 1,9 miliar dolar, dengan total toko sebanyak 670 buah. Memasuki 2000-an, pendapatan mereka hampir mencapai 5 miliar dolar.

Tapi, ada harga yang harus dibayar dari kesuksesan itu. Kala Victoria’s melesat maju dengan segala pencapaiannya, hidup peletak dasar perusahaan, Raymond, justru berantakan. Lini bisnis barunya, My Child’s Destiny, yang menyasar anak-anak kalangan atas, gagal, pernikahannya kandas, dan akhirnya ia bunuh diri dengan melompat dari jembatan Golden State pada 1993.

Baca juga: Victoria’s Secret Show, Ajang Model Paling Elite di Dunia

Related

Lifestyle 4018668809209588408
item