Pesta Perkawinan Mahal, di Antara Gengsi dan Kehabisan Uang

Pesta Perkawinan Mahal, di Antara Gengsi dan Kehabisan Uang

Naviri Magazine - Pernah mendengar ada orang yang sampai berutang demi bisa menyelenggarakan pesta perkawinan yang mewah dan gemerlap? Mungkin jarang ada orang yang mau mengakui hal tersebut. Namun, urusan utang demi menyelenggarakan pesta perkawinan mewah sudah bukan rahasia lagi.

Ada pula orang-orang yang sampai menghabiskan uang tabungannya demi tujuan serupa. Dengan tujuan memiliki pesta perkawinan yang mewah, mereka rela menghabiskan uang yang telah ditabung bertahun-tahun. Tidak di Indonesia maupun di negara lain, hal semacam itu terjadi. Begitu pula di Cina.

Melesatnya pertumbuhan ekonomi menciptakan situasi yang dilematis bagi pemerintah Cina. Jumlah orang kaya memang naik, dan diklaim sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan. Tapi beragam aktivitas yang bercorak materialis-hedonis juga makin populer sekaligus mulai mengakar.

Contohnya adalah prosesi pernikahan mewah ala "Crazy Rich China". Dalam beberapa tahun terakhir, menurut pemerintah Cina, kompetisi bermewah-mewah ini sudah tak terkontrol.

Tiga tahun silam, Alyssa Abkowitz dari BBC Capital menulis kisah pernikahan mewah Sheng Zuxing dan Zhang Ping di Tianjin, Beijing tenggara. Konsepnya tipikal: kebarat-baratan, terutama dari segi gaun, tapi masih mengikutsertakan elemen tradisional Cina.

Total biayanya fantastis. Untuk sesi pemotretan saja, mempelai menghabiskan 5.000 yuan atau Rp11 juta lebih. Tapi keluarga menganggapnya wajar, sembari merendah bahwa banyak keluarga lain mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar.

Sheng mengungkap prinsip yang barangkali dijalankan oleh muda-mudi asal Negeri Tirai Bambu lainnya. “Hidup hanya sekali, dan semua orang ingin mengabadikan kenangan yang baik. Pernikahan adalah urusan sakral, jadi boleh dong menghabiskan ‘sedikit’ uang dan ambil banyak foto.”

China Wedding Industry Development Report menganalisis pasangan di Cina kini menghabiskan rata-rata 76.141 yuan atau Rp171 juta per pernikahan. Industri ini mendatangkan pendapatan sebesar $80 juta atau Rp1,1 triliun per tahun, pada 2015. Angkanya naik 40 persen dari $57 juta atau Rp800 miliar dari tiga tahun sebelumnya.

Alyssa mencontohkan satu penyedia jasa mengorganisir pernikahan (wedding planner), Wedding Beautiful China. Memulai bisnis dari 0 pada tahun 2011, empat tahun berselang mereka sudah membuka 350 cabang di 39 kota di Cina.

Wedding Beautiful China menyongsong pasar orang-orang elite, yang rata-rata mengeluarkan bujet 200 ribu yuan atau Rp450 juta dalam sekali acara pernikahan. Kebanyakan dari kliennya punya bisnis sendiri, yakni jenis warga kerah putih yang menghuni apartemen mewah di kota-kota besar seperti Beijing atau Shanghai.

Orang-orang ini mengadakan sesi foto pra-pernikahan di Menara Eiffel di Paris, di Kepulauan Fiji, atau objek-objek romantis lain di luar negeri. Berdiri di tebing tepi pantai saat matahari memancarkan semburat jingga, atau berpose mesra di atas yacht, juga sering jadi alternatif. Jika mau aman, beberapa pasangan memilih lebih dari dua-tiga lokasi.

Dimana-mana, pernikahan mewah kerap digerakkan oleh gengsi. Tak terkecuali di Cina. Satu keluarga akan jadi bahan omongan keluarga lain jika tak mampu menyelenggarakan pesta kawinan yang layak. Persoalannya, standar kelayakan itu berubah dari waktu ke waktu, dan makin hari ternyata makin mahal.

Baca juga: Menikahi Wanita Lebih Tua Ternyata Punya Manfaat Tak Terduga

Related

Romance 2168941468037714629
item