Sherpa, Pekerjaan Sulit yang Menantang Maut dan Bahaya

Sherpa, Pekerjaan Sulit yang Menantang Maut dan Bahaya

Naviri Magazine - Banyak orang yang ingin menaklukkan puncang Gunung Everest yang ada di Tibet. Gunung itu sangat tinggi, sangat dingin, dan memiliki medan yang sangat terjal dan berbahaya. Para pendaki yang ingin menaklukkan gunung itu kerap sampai tewas karena tergelincir, atau karena dehidrasi akibat kedinginan.

Karena mencapai puncak Everest sangat sulit, para pendaki pun membutuhkan pemandu, yaitu orang-orang lokal Tibet yang secara khusus menyediakan diri sebagai pemandu para pendaki, agar mereka dapat melakukan pendakian dengan aman dan selamat. Para pemandu itu disebut sherpa.

Sebelum terjadi pergeseran makna, kata Sherpa hanya memiliki satu arti: orang-orang dari Timur. Dalam Through A Sherpa Window: Illustrated Guide to Traditional Sherpa Culture (2008), dijelaskan bahwa kata Sherpa berasal dari bahasa mereka, shar berarti timur, dan wa berarti orang. Ini merujuk pada daerah asal mereka, yakni timur laut Tibet.

Suku Sherpa adalah sekelompok orang yang bermigrasi ke Nepal dari Tibet Timur pada abad ke-13 dan ke-14. Adalah industri pariwisata Everest yang membuat kata sherpa (dengan s kecil, untuk membedakan) sinonim dengan porter.

Pergeseran makna Sherpa benar-benar terjadi karena perkembangan industri pariwisata Everest karena bagi orang-orang Sherpa, gunung tertinggi dunia itu adalah tempat suci. Chomolungma—Gunung Dewi Ibu—ada untuk dihormati dari jauh, bukan untuk ditaklukkan.

Namun pada akhirnya, mereka yang tinggal di sekitar Everest tak punya pilihan selain ikut mendaki. Aaron Huey, fotografer National Geographic yang mendokumentasikan kehidupan Suku Sherpa, berujar, “Mereka sebenarnya tidak ingin melakukan pekerjaan ini. Mereka melakukannya karena ada sungai uang yang mengalir lewat desa mereka, dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah dengan menceburkan diri dan ikut hanyut sampai Everest.”

Mereka yang menjalani profesi sherpa melakukannya untuk uang—untuk menjaga dapur tetap ngebul, dan untuk menyekolahkan anak-anak mereka ke Kathmandu atau ke tempat yang lebih jauh, agar mereka tak perlu menjadi sherpa seperti orang tuanya.

Manusia super nan efisien

Tugas seorang sherpa, tentu saja, bukan hanya membawakan barang-barang para pendaki yang menyewa jasa mereka. Lebih dari itu, seorang sherpa bertindak sebagai pemandu dan pemimpin ekspedisi yang multifungsi: mendirikan kemah, memastikan keamanan rute pendakian, memasang tali-temali, sampai berlari mendahului regu agar teh panas tersedia tepat ketika para pendaki tiba di pos pemberhentian.

Dalam perkembangan industri pendakian Everest, pemimpin regu tak selalu seorang sherpa. Orang Barat yang cukup berpengalaman bisa bertindak sebagai sherpa. Namun, di bidang ini, tidak ada suku yang lebih cocok ketimbang Suku Sherpa sendiri.

Baca juga: 3 Jenis Pekerjaan yang Terancam oleh Perkembangan Teknologi

Related

World's Fact 300311603710519061
item