Terrafugia Transition, Mobil Terbang yang Akan Dirilis Pada 2019

Terrafugia Transition, Mobil Terbang yang Akan Dirilis Pada 2019

Naviri Magazine - Pernah membayangkan naik mobil yang bisa terbang? Bayangan itu tak lama lagi akan terwujud dengan adanya Terrafugia Transition, mobil terbang yang akan dirilis tahun depan. Tampaknya, kemajuan teknologi kian tak terbendung, hingga kehidupan kita hari ini akan semakin mirip dengan film-film futuristik.

Sekian dekade lalu, keberadaan mobil terbang memang masih sebatas khayalan. Namun, kini mobil terbang sudah jadi kenyataan dengan berbagai prototipe yang sudah berhasil dibuat, bahkan sudah memasuki tahap produksi massal. Perusahaan teknologi berbasis di Amerika Serikat, Terrafugia, sudah siap memproduksi massal dan memasarkan mobil terbang yang dinamai Terrafugia Transition.

Automotive News mewartakan, Terrafugia mengumumkan telah membuka pesanan Terrafugia Transition untuk produksi pertama mobil terbang. Unitnya akan didistribusikan kepada pembeli mulai awal 2019.

Terrafugia Transition dapat memuat dua penumpang. Mobil terbang tersebut menggunakan mesin bensin 4-silinder, yang dikawinkan dengan teknologi hybrid sebagai sumber tenaga. Di udara, mobil tersebut bisa melaju dengan kecepatan 160 km/jam, dengan ketinggian jelajah 9.000 kaki (2.743 meter).

Untuk bisa terbang, Terrafugia Transition memiliki dua sayap yang bisa dilipat saat ada di darat, sirip, dan baling-baling. Melansir Automotive News, Transition bisa beralih dari mode “darat” ke mode “terbang” dalam waktu kurang dari satu menit.

Prinsip kerja mobil terbang Terrafugia tidak seperti helikopter yang bisa terbang tanpa ancang-ancang terlebih dahulu. Butuh landasan pacu jarak pendek sekurangnya 400 meter buat menerbangkan Terrafugia Transition. Digital Trend mencatat, Transition masuk dalam kategori “street legal aircraft”, yang artinya pengemudi kendaraan tersebut harus memiliki lisensi terbang sekaligus izin mengemudi.

Terrafugia menyatakan, produknya terbang sesuai dengan peraturan aviasi yang berlaku di tempatnya beroperasi, sehingga tidak mengganggu penerbangan pesawat udara. Mobil tersebut juga sudah tersertifikasi sebagai lighsport aircraft oleh Federal Aviation Administration (FAA)—regulator penerbangan sipil di AS.

Untuk penggunaan jalur darat, Terrafugia Transition telah mendapat izin operasi dari National Highway Traffic Safety Administration—badan keselamatan jalan raya di bawah Kementerian Perhubungan AS.

Terrafugia Transition diproduksi massal setelah melewati berbagai penyempurnaan. Wujud purwarupa mobil terbang itu kali pertama muncul pada 2009. Selanjutnya, di 2012, Terrafugia memperbarui mobil terbangnya itu, sampai akhirnya siap untuk diproduksi massal.

Beragam penyempurnaan dilakukan pada Transition, mulai dari memperbaiki bentuk jok, sabuk keselamatan, memberikan airbag, dan sistem parasut. Terrafugia berupaya agar mobilnya punya kemampuan sama baiknya, saat melaju di jalan raya dan ketika terbang.

“Mengembangkan teknologi baru ini membuat kami bisa mencoba berbagai jenis mekanisme, dan menghasilkan sejumlah perbaikan selama proses pembuatan,” ujar CEO Terrafugia, Chris Jaran, dikutip Express.

“Kami berada di titik kritis, di mana kami bisa mengimplementasikan rancangan terbaik berdasarkan hasil tes uji jalan dan terbang,” sebut Jaran.

Terrafugia merupakan perusahaan teknologi yang didirikan pada 2006 oleh para lulusan Institut Teknologi Massachusetts, AS. Setahun lalu, perusahaan otomotif Tiongkok, Zheejiang Geely Holding Group, mengakuisisi saham Terrafugia.

Di bawah kendali Geely, Terrafugia akan masuk ke dalam ceruk pasar kendaraan modern. Setelah merilis mobil terbang Transition, Terafugia menyiapkan produk mobil terbang berikutnya, bernama Terrafugia TF-X.

TF-X dapat mengangkut empat orang penumpang. Mobil terbang itu lebih praktis untuk dioperasikan, karena tidak membutuhkan landasan untuk terbang atau mendarat.

“TF-X tidak butuh bandara untuk tinggal landas dan mendarat, dan mobil itu bisa digunakan untuk berbagai jenis jalanan, dan (termasuk) jalan raya—menjadi alat transportasi yang nyaman untuk bepergian,” ujar Jaran sembari mempromosikan karyanya.

Enam tahun lalu, jurnalis teknologi Jeff Wise pernah membuat artikel berjudul "7 Reasons the Terrafugia Transition Isn't Coming to Your Garage" pada Popular Mechanics. Wise termasuk yang pesimistis mobil terbang bisa benar-benar terwujud karena beberapa faktor, salah satunya harga yang tak ekonomis.

Saat itu, harga terendah Terrafugia Transition diasumsikan mencapai US$279 ribu atau sekitar Rp4 miliar lebih (kurs dolar Rp15 ribu). Saat ini, pihak Terrafugia belum memberikan harga yang pasti pada produknya.

Baca juga: Tips Bila Kopling Mobil Mengeluarkan Bau Tidak Sedap

Related

Technology 5937448601299596782
item