Benarkah Umat Manusia Saat Ini Berasal dari Adam dan Hawa?

Benarkah Umat Manusia Saat Ini Berasal dari Adam dan Hawa?

Naviri Magazine - Lazim menjadi pengetahuan banyak orang, bahwa asal usul manusia adalah Adam dan Hawa. Melalui anak dan cucu mereka, lalu berkembanglah manusia hingga menjadi sangat banyak, dan tersebar di berbagai belahan dunia. Setidaknya, agama mengajarkan hal tersebut. Tapi bagaimana dengan sains atau ilmu pengetahuan?

Ada sebuah riset yang dipublikasikan di jurnal Human Evolution pada Mei 2018. Hasil riset tersebut mengklaim bahwa 90 persen spesies yang ada di Bumi sekarang, termasuk manusia, kemungkinan besar berasal dari spesies yang hidup sekitar 100 ribu hingga 200 ribu tahun lalu.

Hal ini kemudian disalahartikan oleh banyak media, yang entah bagaimana menghubungkan hasil temuan ini dengan pemahaman bahwa umat manusia saat ini berasal dari sepasang manusia dewasa, pria dan perempuan, yang hidup 200 ribu tahun lalu.

Hasil riset yang disalahpahami tersebut adalah karya tim peneliti dari Rockefeller University di AS dan University of Basel di Swiss. Dalam riset tersebut, mereka mempelajari kehidupan di Bumi antara 100 ribu hingga 200 ribu tahun lalu.

Para peneliti menduga, ada sebuah kejadian kepunahan yang terjadi di masa itu, dan kejadian tersebut membuat populasi banyak spesies, termasuk manusia, berkurang.

"0,1 persen keragaman genetik umat manusia sekarang sesuai dengan penyebaran manusia modern sebagai spesies berbeda, sekitar 100 ribu hingga 200 ribu tahun lalu," tulis tim peneliti dalam makalah hasil riset tersebut, sebagaimana dilansir IFL Science.

“Hal serupa kemungkinan besar terjadi pada 90 persen spesies di Bumi sekarang," tambah mereka.

Temuan dalam riset tersebut didapat melalui teknik yang disebut DNA barcoding. Teknik ini bisa mengidentifikasi suatu spesies dari sebuah sekuensi DNA pendek, terutama dalam mitokondria. Dalam riset tersebut, para peneliti mempelajari lebih dari 5 juta kode mitokondria dari 100 ribu spesies hewan.

Sayangnya, hasil riset tersebut kemudian banyak diberitakan dengan judul yang dengan jelas membandingkannya dengan Adam dan Hawa. Suatu hal yang dibantah oleh tulisan Michael Marshall, jurnalis senior di bidang sains, di Forbes.

"Riset tersebut tidak menunjukkan hal seperti itu, dan ada banyak bukti kuat lain yang menunjukkan bahwa populasi manusia zaman dahulu selalu lebih besar dari dua orang," tulisnya.

Marshall menjelaskan beberapa alasan untuk membantah kesimpulan tersebut. Pertama, adalah hal yang sulit untuk mengambil sebuah kesimpulan dari DNA mitokondria.

Selain itu, Marshall menambahkan, tidak ada bukti yang mendukung kejadian kepunahan massal 200 ribu tahun lalu. Di samping itu, para peneliti dalam riset tersebut juga tidak benar-benar menemukan sepasang fosil manusia.

Baca juga: Ini 5 Peninggalan Kebudayaan Suku Inca yang Mengagumkan

Related

Science 1647379933585610974
item