Bagaimana Rasanya Menjadi Tua dan Bersiap Menemui Ajal?

Bagaimana Rasanya Menjadi Tua dan Bersiap Menemui Ajal?

Naviri Magazine - Kita yang masih muda, apalagi yang remaja, kemungkinan besar tidak pernah—atau setidaknya jarang—menyadari bahwa kelak, seiring usia yang terus bertambah, kita akan menua. Dari usia yang sekarang, kita akan sampai pada usia 50 tahun, 60, 70, 80, atau bahkan lebih. Kondisi tua nanti tentu saja berbeda dengan kondisi kita sekarang. Tidak ada lagi kesegaran dan kekuatan, yang tertinggal hanya kerentaan dan tubuh yang lemah.

Di seluruh dunia yang sedang berkembang, semakin banyak orang yang hidup lebih lama, yang tentu saja berarti semakin banyak orang menjadi sangat tua pada saat mereka mati. Hampir separuh dari semua kematian di Inggris Raya, misalnya, adalah orang-orang yang berusia 85 atau lebih tua—sebuah kenaikan dari hanya satu dari lima kematian, 25 tahun yang lalu.

Mati di usia yang lebih tua dapat menghasilkan jenis kematian yang berbeda, seperti menjadi lebih lemah secara bertahap dari segi tubuh dan pikiran, dan mengemban banyak masalah kesehatan selama bertahun-tahun. Sementara tahun-tahun setelah pensiun sebelumnya dianggap hanya “usia tua,” rentang hidup yang lebih panjang menimbulkan pelabelan seperti “tua fase muda” dan “tua banget.”

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa orang-orang yang berusia di atas 90 tahun ketika meninggal dunia membutuhkan lebih banyak dukungan dalam kehidupan sehari-hari pada tahun terakhir mereka, daripada mereka yang meninggal di akhir 80-an.

Di Inggris, sekitar 85 persen dari orang-orang yang meninggal di usia 90 atau lebih tua mengalami disabilitas, sehingga membutuhkan bantuan dalam kegiatan perawatan diri mendasar. Hanya 59 persen dari mereka yang berusia antara 85 dan 89 saat meninggal memiliki tingkat kecacatan ini.

Pengetahuan ini memiliki implikasi pada dukungan perencanaan untuk hidup dan mati dalam pengaturan perawatan yang berbeda. Tetapi, apa yang kita ketahui tentang apa yang sebenarnya diinginkan oleh orang yang lebih tua (95+) dalam hal keputusan tentang perawatan mereka, ketika mendekati akhir hidup mereka?

Yang tertua dan paling rapuh dalam masyarakat kita menjadi kurang terlihat, karena banyak orang yang paling membutuhkan dukungan, seperti mereka yang menderita demensia, entah berada di rumah perawatan atau kurang bisa keluar dan beraktivitas. Tetapi, suara mereka sangat penting dalam menentukan layanan perawatan akhir-hayat.

Kematian merupakan bagian dari kehidupan banyak orang yang lebih tua, yang sering mengatakan bahwa mereka menjalani hidup hari demi hari dan tidak terlalu mengkhawatirkan tentang besok. “Hidup dijalani hanya hari ke hari ketika kamu berusia 97 tahun,” kata seorang perempuan. Sebagian besar merasa siap untuk mati, dan beberapa bahkan menyambutnya: “Saya hanya menunggu maut,” kata perempuan lainnya.

Yang lainnya lebih putus asa, ingin mempercepat proses mencapai akhir. “Saya berharap saya bisa mengakhirinya. Saya hanya penghalang orang-orang di jalan,” adalah sentimen khas pada mereka yang merasa bahwa mereka adalah gangguan di masyarakat. Yang lain memohon untuk tidak dibiarkan hidup sampai usianya seratus, mengatakan tidak ada gunanya membuat mereka tetap hidup.

Sebagian besar orang lansia khawatir soal dampak dari kematiannya nanti: “Satu-satunya yang membuatku khawatir adalah adik perempuanku. Saya harap dia tidak akan terlalu sedih dan bisa menerima kepergianku nanti.”

Proses sekarat menimbulkan sebagian besar kekhawatiran. Kematian yang damai tanpa rasa sakit, saat tidur, adalah yang ideal bagi sebagian besar orang. Para narasumber memilih untuk hidup dengan nyaman, alih-alih menjalani perawatan medis, berharap bisa menghindari tinggal di rumah sakit.

Baca juga: Dalam Hidup, Kita Akan Mengalami Tiga Periode Kesepian

Related

Psychology 2705229955828561190

Recent

item