Netizen Indonesia Ribut Gara-gara Ajakan Beberes Setelah Makan

Netizen Indonesia Ribut Gara-gara Ajakan Beberes Setelah Makan

Naviri Magazine - Apa perbedaan makan di rumah dan di restoran? Tentu jawabannya mudah, yaitu bayar dan tidak bayar. Tetapi, bagi sebagian masyarakat Indonesia, ada perbedaan lain yang juga perlu dilihat. Kalau makan di rumah, kita beberes sendiri piring dan gelas kita seusai makan. Sementara kalau makan di restoran, urusan itu akan ditangani karyawan di restoran bersangkutan.

Karenanya, ketika salah satu restoran cepat saji, Kentucky Fried Chicken, menyerukan budaya beberes setelah makan, ajakan itu pun ditanggapi beragam oleh banyak orang.

Di Twitter, hal ini juga jadi bahasan. Sudah pasti ada yang pro dan yang kontra. Simak yuk berbagai pendapat pro dan yang kontra tentang beberes setelah makan.

Pendapat kontra

Pengguna Twitter, N, berpendapat dia termasuk tidak setuju jika harus beberes setelah makan. Alasannya, jika pelanggan yang membereskan semuanya, maka kelak restoran tidak lagi mempekerjakan karyawan, sehingga penyerapan tenaga kerja semakin sedikit.

AK juga menyebut dirinya bukan termasuk yang membereskan meja seusai makan. Ini karena dirinya makan di restoran cepat saji bersama cucu-cucunya, sehingga setelah makan dia menjaga cucunya bermain di playground.

"Jadi urusan beres-beres tidak ikutan, silakan staf KFC yang beres-beres. KFC harus bertanggung jawab terhadap segala sesuatu di area bisnis dia, bentuk pelayanan kepada masyarakat," terangnya.

Ada juga M yang setuju untuk beberes seusai makan, namun dia mengaku terkadang malas melakukannya. Alhasil, yang dia buang ke tempat sampah hanya gelas sekali pakai yang telah digunakan.

Pendapat dengan nada tidak setuju lainnya datang dari MM. "Tim tidak setuju beberes. Karena niat makan di luar biar nggak ribet beberes meja, baik di resto cepat saji maupun di warteg atau rumah makan," ucapnya.

Pengguna Twitter dengan inisial DJP juga tidak setuju dengan seruan beberes usai makan. Alasannya, makan di restoran itu mahal. Nah, harga mahal itu pasti sudah memasukkan semua hal, termasuk layanan beberes sisa makanan.

NA juga tidak setuju. "Mereka bilangnya budaya beberes, padahal strategi buat ngurangin biaya karyawan," ujarnya.

Pendapat yang pro

Sekarang simak pendapat yang pro dengan seruan beberes seusai makan. SP adalah tim yang setuju beberes setelah makan. Baginya, orang-orang yang berpikir tidak perlu beres-beres itulah yang bikin kebiasaan membuang sampah sembarangan di tempat wisata.

"Buat apa buang sampah di tempat sampah, kan nanti ada yang beresin, kan kita sudah bayar parkir sama tiket masuk wisatanya," tulis SP menirukan ucapan orang yang sering buang sampah sembarangan di tempat wisata.

A juga setuju untuk membereskan meja setelah makan. Menurut dia, di beberapa restoran, apalagi restoran cepat saji, terdapat tempat untuk menaruh nampan yang telah digunakan. Selain itu juga ada tempat sampah di sekitar meja pengunjung. "Kalau nggak tahu tempat sampah dan naruh bakinya, seenggaknya beresin dan rapihin," tuturnya.

HYS juga setuju untuk beberes setelah makan. Tapi kata dia, seharusnya budaya ini dibarengi dengan pemberian fasilitas untuk pembuangan atau penyimpanan, selain itu pelayanan dan kenyamanan juga harus sesuai.

AD pun setuju. Selain segera beberes, AD juga menyarankan untuk tidak berlama-lama menggunakan wifi gratisan serta ngerumpi sambil geser meja. "Kadang-kadang kasihan tamu lain yang mau makan di sana," ujarnya.

Tim setuju lainnya, AZ, mengatakan jika tidak bisa menyimpan nampan atau buang sampah bekas makan, maka setidaknya menumpuk sisa makanan dan sampah lainnya di nampan.

"Beresin sendiri, ya namanya resto fast food. Selain makanannya yang cepat saji, tempat duduk juga seharusnya selalu siap dipakai sama pengunjung lain, enggak perlu nunggu dibersihin petugas," timpal T.

Kata KFC si penggagas seruan beberes setelah makan

Hendra Yuniarto, GM Marketing PT Fast Food Indonesia, Tbk, menjelaskan latar belakang seruan budaya beberes setelah makan. Hal ini karena kepedulian pada kelestarian lingkungan yang dimulai dari pemilahan sampah. Dengan langsung membereskan dan membuang sampahnya, maka harapannya orang-orang akan terbiasa memilah-milah jenis sampah.

Tujuan kampanye ini, tegas Hendra, bukan meminta para konsumen untuk membereskan sendiri sisa makanannya, melainkan ajakan memilah sampah untuk menjaga kelestarian lingkungan. "Juga agar konsumen mampu mengaplikasikannya sendiri di rumah," imbuhnya.

Lalu bagaimana merespons pendapat yang kontra dengan seruan ini? "Kembali ke tujuan awal KFC Indonesia, yaitu untuk mengedukasi konsumen agar mereka juga mampu memilah sampah sendiri, di mana hal ini diharapkan tidak hanya berlaku ketika konsumen makan di KFC Indonesia, tapi juga dapat diaplikasikan di tempat lain bahkan di rumah sendiri," tutur Hendra.

Baca juga: Kebiasaan Orang Modern: Malas Makan, tapi Suka Ngemil 

Related

News 6797524568252090707
item