Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Tragedi Holocaust

Fakta-fakta Mencengangkan di Balik Tragedi Holocaust

Naviri Magazine - Holocaust adalah istilah terkenal, yaitu kisah pembantaian terhadap orang-orang Yahudi yang dilakukan oleh Adolf Hitler dan pasukannya. Holocaust menjadi bagian tak terpisahkan dari Perang Dunia II. Karenanya, kapan pun kita mempelajari sejarah, mau tak mau kita pasti akan menjumpai istilah Holocaust.

Belakangan, sejumlah pihak meragukan kebenaran kisah Holocaust, dan mulai mempertanyakannya. Benarkah Holocaust terjadi? Atau cuma propaganda?

Sejarah tentang kekejaman Hitler di masa Perang Dunia II menyisakan banyak kisah pahit bagi sebagian orang. Tak terkecuali orang Yahudi. Hitler, yang dikisahkan sangat membenci kaum Yahudi (yang telah merusak perekonomian negaranya), diceritakan telah membantai membantai 6 juta kaum Yahudi.

Apakah Hitler benar-benar membantai kaum Yahudi sedemikian banyak? Jawabannya bisa benar dan salah. Jawaban benarnya, memang Hitler telah membunuh banyak orang Yahudi. Dan jawaban salahnya, Hitler tidak membunuh orang Yahudi sebanyak itu. Ya, tidak sampai 6 juta manusia, tetapi 'hanya' sekitar 200.000 sampai 300.000 orang.

Cerita yang umum beredar

Pada Perang Dunia II, Nazi di bawah komando Hitler telah membunuh banyak kaum Yahudi, sejumlah 6 juta orang. Cerita ini beredar luas di masyarakat (terutama negara-negara timur) tanpa adanya bukti otentik kejadian tersebut, dan tanpa pengakuan dari ahli sejarah yang terpercaya, kecuali orang Yahudi sendiri.

Cerita ini langsung menjadi sebuah dogma yang seolah-olah benar ketika diceritakan berulang-ulang, bahkan film yang 'mendokumentasikan' tragedi ini diproduksi, sehingga seolah-olah tragedi itu benar terjadi. Yang paling sering menipu masyarakat, biasanya, di dalam film atau foto termuat gambar mayat bertumpukkan sangat banyak.

Padahal, mayat itu tidak sampai ratusan ribu jumlahnya. Tidak ada konfirmasi itu adalah orang Yahudi, hanya judulnya saja yang Yahudi, kemudian diberi gambar seperti itu. Masyarakat tertipu bahwa itu orang Yahudi (walaupun tidak sepenuhnya salah) dan berjumlah banyak (langsung percaya pada angka 6 juta karena rata-rata belum pernah melihat mayat sebanyak itu). Lalu seperti apa cerita sebenarnya?

Cerita sebenarnya

Di Perang Dunia II, Nazi melakukan peperangan dengan banyak bangsa. Peperangan itu tentu menimbulkan banyak korban. Bahkan di pihak Nazi sendiri mencapai jumlah 9 juta orang, dan 5,1 juta orang menjadi tahanan (Rana I. Aloy, anggota Komite Pendataan Holocaust AS-Polandia). Musuh Nazi, Rusia (Uni Soviet kala itu), pasukannya dibantai hingga sekitar 25 juta orang.

Oliver Stone membeberkan bahwa lobi Yahudi di Gedung Putih sangat kuat. Ia mengatakan itu ketika diwawancarai Sunday Times.

Lalu berapakah korban dari pihak Yahudi? Seorang pengamat Iran, Doktor Muhammad Taqi Pour, mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya, atas perintah Hitler, telah meninggalkan Jerman sebelum Perang Dunia II berkobar.

Berarti tinggal tersisa sekitar 200 ribu kaum Yahudi di Jerman. Pernyataan ini dikuatkan oleh pernyataan pastor Inggris, Richard Williamson, yang mengatakan bahwa korban di pihak Yahudi hanya sekitar 200 hingga 300 ribu orang. Tidak sampai 5% dari 6 juta.

Selain pernyataan dari pihak-pihak di atas, masih banyak bukti yang membuat tragedi ini semakin ganjil.

Pada era Perang Dunia II, tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang Yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi. Rezim Zionis saja yang terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi.

Bukti lainnya, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust sulit diterima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Zionis mengklaim bahwa para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka di kamp konsentrasi.

Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis, dan akan menelan biaya sangat bear. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu baru kemudian membakar jenazah mereka?

Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya membuang tenaga mereka dan tenaga kerja sia-sia.

Faurisson, dan sejumlah orang yang sepaham dengannya, menilai tragedi Holocaust sebagai dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh rezim Zionis itu sebenarnya ruang sterilisasi atau penyemprotan gas antibakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Yang sebenarnya terjadi, pada era PD II, khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi.

Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganan wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat antibakteri dan membakar pakaian serta jenazah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Baca juga: Armenian Genocide, Peristiwa Sejarah yang Dilupakan Dunia

Related

Insight 8696058370355803005
item