Holocaust, Kisah Pembantaian Terbesar Sepanjang Sejarah

Holocaust, Kisah Pembantaian Terbesar Sepanjang Sejarah

Naviri Magazine - Holocaust adalah sejarah kelam yang terjadi di Jerman, pada era Perang Dunia II, atau sekitar tahun 1939 hingga 1945. Pada masa itu, Nazi pimpinan Adolf Hitler melakukan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi. Peristiwa pembantaian oleh Nazi kepada orang-orang Yahudi itu dilakukan dengan cara genosida, atau pembantaian secara sistematis, untuk menghancurkan suatu kaum.

Pembunuhan ini dipimpin oleh Adolf Hitler, yang merupakan Ketua Partai Nazi atau Nationalsozialistische Deutsche Arbeiterpartei (NSDAP). Pembantaian yang dilakukan oleh Nazi Jerman itu dilakukan di semua wilayah yang dikuasai Hitler.

Lebih dari satu juta anak Yahudi, dua juta wanita Yahudi, dan tiga juta pria Yahudi, tewas dalam pembantaian ini. Penyiksaan dan genosida yang dilakukan dalam beberapa tahap itu dimulai dari sejumlah hukum yang menghapuskan adanya orang Yahudi dari masyarakat sipil.

Hukum Nuremberg adalah hukum paling terkenal ketika itu, dan diberlakukan di Jerman oleh Nazi selama bertahun-tahun. Hal itu dimulai ketika Perang Dunia II.

Nazi juga mendirikan kamp konsentrasi yang di dalamnya para tahanan diharuskan bekerja secara paksa sampai mati, akibat kelelahan atau penyakit. Kemudian, saat Jerman menaklukkan wilayah baru di Eropa Timur, satuan khusus yang disebut Einsatzgruppen membantai musuh-musuh politik melalui penembakan massal.

Nazi lalu memerintahkan orang Yahudi untuk dikurung di ghetto, sebelum dipindahkan dengan kereta barang ke kamp pemusnahan. Ketika orang Yahudi yang selamat di perjalanan, mereka akan dibunuh secara sistematis di kamar gas yang telah disediakan.

Menurut data statistik Eropa, sesaat sebelum Perang Dunia II meletus, total orang Yahudi di Eropa mencapai 6,5 juta jiwa. Setelah pembantaian oleh Nazi Jerman, populasi orang Yahudi di Eropa hampir musnah

Berdasarkan data statistik pemerintah Jerman pada tahun 1939, terjadi migrasi 400 ribu orang Yahudi dari Jerman. Lalu, 480 ribu orang Yahudi dari Austria dan Cekoslovakia, dan dua juta orang lebih pergi ke Uni Soviet.

Pada tahun 1933 hingga 1945, sebanyak 20 ribu kamp dibangun oleh Nazi Jerman untuk memenjarakan jutaan orang Yahudi. Kebanyakan tahanan yang dimasukkan ke dalam kamp konsentrasi oleh Nazi Jerman adalah kaum Komunis Jerman, Sosialis, Sosial Demokrat, orang Roma (Gipsi), penganut aliran Saksi Yehova, kaum homoseksual, dan orang-orang yang dituduh "asosial" atau yang menyimpang perilakunya secara sosial.

Semua fasilitas ini disebut 'kamp konsentrasi', karena orang-orang yang dikurung di kamp tersebut 'dikonsentrasikan' di satu lokasi. Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyebut bahwa anti-Semitisme harus dikalahkan.

Selain itu, Trump juga menyebut bahwa Holocaust sebagai sejarah manusia paling gelap yang terjadi selama ini.

"Di Yom HaShoah, kita melihat kembali bagian sejarah manusia yang paling gelap. Kami berduka, kami ingat, kami berdoa, dan kami berjanji hal itu tak akan pernah terjadi lagi," kata Trump.

Sementara itu, Presiden Israel, Reuven Rivlin, menegaskan bahwa negaranya dan kaum Yahudi memerangi orang-orang yang menyangkal peristiwa Holocaust.

"Saya menyerukan agar perang melawan gelombang penyangkalan Holocaust yang berbahaya di Eropa," tegas Rivlin.

Saat ini, ada 250 museum yang dibangun khusus untuk mengingatkan masyarakat dunia mengenai pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi Jerman. Bahkan peristiwa ini menjadi pelajaran sejarah di Eropa dan Amerika.

Korban selamat (peristiwa Holocaust) mengatakan bahwa museum-museum tempat penyimpanan barang-barang sejarah Holocaust sangat penting. Karena akan menjadi bukti realitas sejarah Holocaust.

"Menurut saya, yang paling penting adalah memastikan bahwa ingatan akan Holocaust tidak dilupakan," tutur Alfred Munzer (75), yang menyumbangkan cincin perak yang sudah bersamanya sejak usia sembilan bulan.

Baca juga: Sangat Mengejutkan, Ternyata Adolf Hitler Keturunan Yahudi

Related

Insight 133564504228277715
item