Kisah Panjang dan Suram di Balik Kesuksesan Jackie Chan

Kisah Panjang dan Suram di Balik Kesuksesan Jackie Chan

Naviri Magazine - Dialah "pendekar" yang dipuja banyak orang di dunia. Seorang yang dikenal memainkan karakter petarung akrobatik yang suka mengimprovisasi barang-barang di sekitar sebagai senjata dalam perkelahian. Sosok yang menguasai seni beladiri, yang mendedikasikan hidupnya di dunia film sebagai aktor, sutradara, produser, stuntman dan penyanyi.

Namanya Jackie Chan. Nama alias yang begitu dikenal hingga kini, walau ia juga pernah menggunakan banyak nama alias di masa lalunya. Jackie Chan meraih semua kesuksesannya lewat perjalanan hidup yang getir dan kerja keras yang luar biasa. Sampai akhirnya ia diakui sebagai bintang besar yang meninggalkan jejak di Avenue of Stars di Hong Kong hingga Hollywood Walk of Fame di Amerika Serikat (AS).

Jackie Chan lahir di Hong Kong, dari keluarga yang sangat miskin. Sebegitu miskin, orangtuanya terpaksa berutang dari tetangga untuk membiayai persalinannya. Charles Chan dan Lee-lee (ayah dan ibunya) memberinya nama Chan Kong-sang, yang artinya "terlahir di Hong Kong".

Begitu pun, kedua orangtua Jackie bersyukur karena mereka sudah mendapat pekerjaan di Kedutaan Prancis di Hong Kong. Charles bekerja sebagai tukang masak, sementara Lee-lee sebagai pembantu rumah. Mereka tinggal di kediaman sang duta di Hong Kong.

Sejak kecil, Jackie sering diajak ayahnya berlatih kung fu. Sang ayah percaya bahwa kung fu akan membantu membangun karakter Jackie agar lebih sabar, kuat, dan berani.

Dasarnya opera

Ketika Jackie berusia 7 tahun, ayahnya bekerja sebagai kepala juru masak di Kedutaan AS di Australia. Sebelum berangkat, ia membawa Jackie ke Sekolah Peking Opera. Selama 10 tahun, ia didik dengan aturan yang keras. Ia diajari berbagai seni beladiri, akrobatik, menyanyi, dan akting.

Materi pelajaran di sekolah drama bagi anak-anak ini, ditujukan untuk menyiapkan anak lelaki memasuki kehidupan di opera China yang terkenal, Peking Opera. Dalam masa pendidikan itu, Jackie pertama kali tampil di usia 8 tahun, dalam film Kanton "Big and Little Wong Tin Bar" (1962).

Selanjutnya, di usia 10 tahun, ia ikut berperan dalam "The Story of Qin Xianglian" (1964). Dua tahun kemudian, ia berperan dalam "Come Drink with Me" (1966) atau yang kemudian dikenal sebagai Big Drunken Hero. Dan sebelum mengakhiri pendidikannya, ia juga tampil dalam "Master with kracked Fingers vs Little Tiger From Canton (1971).

Semua peran itu dilakukan sebagai kerja sampingan, bermain sebagai pemain figuran atau stunman di film-film Hong Kong.

Di usia 17 tahun, Jackie muda menyelesaikan pendidikan operanya. Sayang, pada masa itu (kurun 1970-an) opera sudah tidak populer lagi. Walau sudah menguasai opera, sepertinya tak ada masa depan lagi di opera. Justru industri film yang melaju pesat di Hong Kong.

Kerja serabutan

Menghadapi kenyataan itu, Jackie Chan dan teman seangkatannya terpaksa kerja keras mencari pekerjaan. Ini cukup sulit, karena selama pendidikan opera tidak ada pelajaran membaca dan menulis. Satu-satunya keahlian untuk bekerja hanyalah kemampuan menjadi pemeran pengganti.

Sementara, setiap tahunnya, banyak film yang diproduksi di Hong Kong. Industri film selalu mencari "daun muda" untuk dilibatkan sebagai stuntman.

Jackie mengambil kesempatan itu, dan mendaftar sebagai stuntman di banyak film Hong Kong. Ia cepat belajar dan dikenal sebagai pemuda yang tak pernah takut.

Reputasinya sebagai stuntman sangat dikenal dunia film. Ia berani mencoba berbagai hal, dan melakukan adegan paling berbahaya. Dari sinilah ia melebur dalam dunia film.

Menuai sukses

Saat industri film Hong Kong lesu, Jackie menyusul orangtuanya ke Australia. Ia bekerja di restoran, dan jadi buruh bangunan. Namun ia tak suka hidup di Australia. Saat mendapat telegram dari seseorang bernama Willie Chan, ia kemudian kembali ke Hong Kong dan membintangi film "New Fist of Fury" (1976).

Namun, kesuksesan sesungguhnya justru ketika Jackie Chan diberi kesempatan untuk ikut serta dalam menggarap naskah dan mengembangkan karakter tokohnya.

Kontribusi Jackie dalam menggarap film tersebut terbukti membuahkan hasil. Ia memberi warna pada genre film, dengan menggabungkan unsur humor dalam seni beladiri.

Sukses pertamanya terbukti lewat film "Snake in Eagle's Shadow" (1978). Disusul dengan "Drunken Master" (1978). Lalu film pertama yang disutradarainya, "Fearless Hyena" (1979), benar-benar sukses besar.

Kesuksesan di Hong Kong ini melambungkan nama Jackie Chan dalam perjalanan karir selanjutnya hingga saat ini.

Baca juga: 100 Film Hong Kong Terbaik Sepanjang Masa

Related

Entertaintment 5637970695492650295

Recent

item