Kisah Menakjubkan Orang Terkaya Sepanjang Sejarah Manusia

Utang Negara Numpuk, Tiap Anak RI Ikut Nanggung Utang Rp13 Juta  Dipecat, Henry Cavill Tidak Lagi Memerankan Superman  Kisah Menakjubkan Orang Terkaya Sepanjang Sejarah Manusia  Populasi Kaya dan Miskin di Dunia yang Makin Tak Seimbang  Ketika YouTube Melanggar Aturan yang Dibuatnya Sendiri  Konsumsi BBM Bisa Boros, Jika Keliru Saat Mengerem Kendaraan  Ngeri, Ilmuwan Menemukan Makhluk Aneh yang Hidup di Dasar Bumi  Panduan agar Mobil Selalu Mengkilap dan Tidak Cepat Kusam  Di Tempat Ini, Buang Sampah Sembarangan Akan Didenda Rp10 Juta  Upaya ‘Gila’ Ilmuwan untuk Menciptakan Sperma Buatan

Naviri Magazine - Perhatikan ilustrasi di atas. Itu barisan para serdadu di padang pasir. Dihujani terik matahari, mereka memakai sutra Persia dengan tongkat berbantal emas. Kilauan cahaya memantul dari logam mulia itu.

Layaknya kafilah, barisan manusia yang membentuk bentangan garis di Padang Pasir itu seperti tak sudah-sudah. Wikipedia menyebutkan jumlahnya 60 ribu orang. Manusia sebanyak itu berarak menyusur padang pasir, yang sejauh mata memandang hanya melihat kegersangan.

Barisan depan tegap melangkah. Mereka adalah para penjaga kerajaan, yang gagah membawa tombak, pedang, dan bendera raksasa yang berkibar ditiup angin. Mereka seperti melindungi rombongan dari segenap marabahaya yang menyergap dari depan.

Di belakang barisan itu, setidaknya 12 ribu pelayan menyusul. Masing-masing orang memikul logam mulia seberat 2 kilogram, sebagai barang bawaan. Iring-iringan 100 ekor unta menambah panjang rombongan kafilah ini. Emas seberat 136 kilogram dipikul di punuk hewan gurun itu.

Sungguh rombongan yang kaya-raya. Dalam sekali perjalanan, rombongan kafilah ini memanggul tak kurang dari 34 ton emas. Silakan membayangkan betapa makmurnya hidup mereka.

Siapakah gerangan pemimpin orang-orang itu?

Namanya Mansa Musa. Sebuah nama dari pesisir barat benua Afrika. Musa adalah seorang raja, yang sekaligus menjadi pemimpin, di sebuah negeri bernama Mali. Raja muslim ini sohor di Afrika. Namanya bahkan harum ke seluruh dunia.

Jika kemudian dia memimpin barisan panjang di padang pasir itu, bersama ribuan serdadu, itu bukan karena Musa sedang ke medan perang, tapi hendak menunaikan rukun Islam kelima, haji ke Mekah. Saking sohornya sang raja ini, banyak kaum pandai di Barat yang menulis kisahnya.

David Tschanz, dalam esainya, Lion of Mali: The Hajj of Mansa Musa edisi Mei 2012, menuliskan, Musa membagikan emas di setiap kota yang disinggahi seperti Kairo, Mekah, dan Madinah. Jika berjumpa dengan orang miskin dalam perjalanan panjang itu, dia dengan sukarela memberi emas. Dia juga hidup saleh. Pada setiap hari Jumat, Musa juga membangun sebuah masjid. Sungguh mulia.

Tak terbayangkan betapa makmurnya hidup sang raja ini. Sampai-sampai harga emas di sejumlah kota yang disiram kebaikan hatinya itu turun tajam. Harga turun sebab persediaan emas mendadak begitu banyak.

Kisah kekayaan Mansa Musa pernah ditulis panjang oleh Majalah Time. Untuk sekali berhaji, begitu Time menaksir, Mansa Musa dan rombongannya membawa harta senilai US$ 400 miliar, sekitar Rp 3.800 triliun. Jumlah itu dua kali lipat dari uang belanja Indonesia selama setahun.

Dengan harta sebanyak itu, Musa digelari sebagai orang terkaya nomor wahid sepanjang sejarah umat manusia. Kekayaannya mengungguli harta keluarga Rothschild (US$ 350 miliar), John D Rockefeller (US$ 340 miliar), dan Henry Ford (US$ 199 miliar).

***

Ekonom dan para sejarawan tak ragu lagi. Semua sepakat bahwa Mansa Musa, raja dari Benua Hitam itu, adalah orang terkaya sepanjang sejarah manusia. Sepanjang umur bumi yang kita huni.

Namun, menghitung jumlah kekayaan tentu bukan perkara mudah. Apalagi hartawan yang diteliti sudah meninggal puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Kian rumit sebab sebagian terbesar informasinya cuma dari omongan, dari mulut ke mulut.

Para wartawan di Majalah Time mengakui kerumitan ini. Tumpukan data yang menggunung harus dipilah-pilah. Diseleksi dan dinilai, untuk menentukan layak tidaknya seseorang didaulat sebagai orang terkaya.

Menghitung kekayaan hartawan melintasi batas waktu lebih rumit lagi. Bukan sekadar hitung-hitungan inflasi. Di era pra-modern, harga komoditas yang berfluktuasi juga harus diukur secara tepat.

Isu lain yang muncul adalah bahwa kekayaan bersifat relatif, terhadap standar hidup. Tengok saja Raja Louis IV yang menjadi orang terkaya pada zamannya. Namun kekayaannya tak bisa memperbaiki struktur giginya. Padahal di era Modern, sikat gigi sudah bisa dipakai hampir semua manusia.

Beruntung, para peneliti kini mempunyai motode yang dipercaya bisa mendekati kebenaran. Namanya Measuring Worth. Metode ini dioperasikan lewat sebuah website yang dijalankan sekelompok ahli ekonomi dan profesor sejarah.

Dengan metode ini, mereka membandingkan jumlah kekayaan yang melewati batas waktu secara lebih akurat. "Metode ini memang tak sempurna benar," kata Jacob Davidson, seperti dikutip Time. “Tapi ini yang paling mendekati kebenaran.”

***

Munculnya nama Mansa Musa sebagai manusia terkaya sepanjang sejarah mengejutkan jagat orang kaya dunia. Bagaimana mungkin seorang dari benua yang dianggap lama “menderita” pernah menyimpan orang paling kaya di muka bumi, mengalahkan orang-orang super kaya di negeri kaya-raya pada zaman modern.

Siapa yang tidak kenal dengan miliarder tersohor semacam Bill Gates, yang selama beberapa tahun menjadi orang terkaya dunia? Atau Mark Zuckerberg, pemuda ajaib pencipta Facebook, yang jadi miliarder termuda? Tapi ternyata, kekayaan mereka tak ada apa-apanya dibandingkan Mansa Musa.

Bukan hanya Musa yang menjadi orang terkaya sepanjang sejarah manusia. Time mencatat ada 9 nama lain yang memiliki kekayaan tak terbilang jumlahnya. Selain Musa, satu di antaranya adalah seorang muslim.

Adalah Jalaluddin Muhammad Akbar, Raja Mughal, penguasa sebagian besar tanah India. Hidup antara 1542-1605 masehi, Mughal sungguh berjasa mengubah India menjadi dinasti berpengaruh di dunia.

Semua dimulai ketika Akbar berani melawan Inggris. Mengubah India dari sekadar penyuplai rempah-rempah Inggris menjadi penentu harga. Tak lagi tunduk hanya pada permintaan rempah-rempah dari negara koloni itu.

Keputusan yang tepat dan berani itu membuat kekayaan kerajaan Mughal menggunung. Sejumlah literatul menyebutkan bahwa hampir 25 persen produk domestik bruto (PDB) dunia saat itu dikuasai Raja Mughal.

Pakar sejarah ekonomi yang terkenal, Angus Madison, menyebut kekayaan Akbar kala itu setara dengan harta Ratu Elizabeth saat ini, meski tidak disebutkan berapa jumlahnya secara pasti. Akbar juga dikenal berjiwa sosial, dan sering menolong orang miskin.

Nama lain yang juga muncul sebagai orang terkaya dunia adalah Moammar Ghadafi. Sepekan setelah meninggalnya, Los Angeles Times menyebutkan aset pemimpin asal Libya itu mencapai US$ 200 miliar atau sekitar Rp 2.400 triliun.

Jumlah yang sangat besar, karena hampir 3 kali lipat kekayaan Bill Gates, atau Andrew Carnegie, dan John D. Rockefeller. Kekayaan mantan penguasa Libya ini tersebar di rekening bank, investasi real estate, dan saham di sejumlah perusahaan.

Baca juga: Populasi Kaya dan Miskin di Dunia yang Makin Tak Seimbang

Related

Money 8569322836722623768
item