Rincian Utang Pemerintah Indonesia dari Zaman SBY Sampai Jokowi

Rincian Utang Pemerintah Indonesia dari Zaman SBY Sampai Jokowi

Naviri Magazine - Masalah utang pemerintah kerap menjadi sorotan masyarakat Indonesia. Karena, bagaimana pun, rakyat ikut menangggung beban utang itu melalui pajak yang disetorkan kepada negara.

Saat ini, misalnya, sebagian masyarakat menyayangkan besarnya utang pemerintah Indonesia, meski utang itu dilandasi alasan yang positif, seperti untuk pembangunan infrastruktur.

Jadi, bagaimana perkembangan utang luar negeri Indonesia secara keseluruhan? Bagaimana pertumbuhannya?

Untuk mengetahui perbandingan berapa pertumbuhan total utang luar negeri Indonesia, kita bisa membatasi sejak 2004 hingga 2018, atau dari era Presiden SBY hingga era Presiden Jokowi.

Pada akhir 2004, utang luar negeri Indonesia tercatat sebesar USD141,27 miliar. Utang tersebut sempat berkurang menjadi USD134,5 miliar pada 2005 dan USD132,63 miliar pada 2006. Namun setelahnya, nominalnya bertambah setiap tahun. Sejak 2004 hingga akhir periode pertama SBY menjabat di 2009, total utang luar negeri Indonesia bertambah sekitar USD31,6 miliar (22,4%).

Peningkatan utang tersebut terjadi pada kelompok pemerintah dan bank sentral maupun kelompok swasta. Namun BI mencatat kenaikan utang luar negeri tersebut juga diiringi dengan peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) yang cukup besar, yaitu USD291,8 miliar atau sekitar 113,3 persen.

Pada tahun pertama di periode kedua SBY menjabat sebagai presiden 2009-2014, total utang luar negeri bertambah cukup banyak. Tercatat pada akhir 2010, posisi utang luar negeri sebesar USD202,41 miliar. Angka tersebut meningkat sebesar 17,09 persen dari tahun sebelumnya, sebesar USD172,87 miliar.

Penambahan tersebut lebih banyak disumbang oleh kelompok swasta dari USD73,61 miliar pada 2009 menjadi USD83,79 miliar pada 2009. Sedangkan kelompok pemerintah dan bank sentral meningkat dari USD99,26 miliar pada 2009 menjadi 118,62 miliar pada 2010.

Penambahan utang dengan persentase dua digit terus terjadi hingga akhir periode SBY pada 2014, meskipun pada 2013 sempat menurun dengan penambahan hanya sebesar 5,45 persen.

Pada 2014 total utang luar negeri di posisi USD293,33 miliar. Pada akhir 2015 utang luar negeri tercatat makin membesar hingga USD310,73 miliar, meningkat 5,93 persen dari tahun sebelumnya. Angka tersebut terus bertambah hingga tahun-tahun berikutnya. Bahkan pada 2017, utang luar negeri meningkat 10,27 persen menjadi USD352,88 miliar dari tahun sebelumnya sebesar USD320,01 miliar.

Kenaikan tersebut terutama dipicu sektor keuangan; industri pengolahan; listrik, gas, dan air bersih; serta sektor pertambangan yang menguasai 76,9 persen utang luar negeri kelompok swasta.

Pertumbuhan total utang luar negeri

Jika melihat dari posisi utang luar negeri pada saat ini, memang terlihat besar. Hingga Oktober 2018, utang luar negeri tercatat sebesar USD360,53 miliar. Namun angka tersebut tidak datang dengan sendirinya. Utang tersebut tumbuh sejak era pemerintahan sebelumnya. Total utang luar negeri mengalami pertumbuhan yang berbeda-beda dari masing-masing pemerintahan.

Pada 2009, utang luar negeri tercatat sebesar USD202,41 miliar. Dalam kurun waktu lima tahun, angka tersebut meningkat menjadi USD293,33 miliar pada 2014. Artinya, ada penambahan utang sebesar 90,92 miliar dolar AS atau tumbuh sekitar 44,92 persen. Total utang luar negeri berada USD293,33 miliar pada akhir 2014 dan terus bertambah.

Hingga Oktober 2018, utang tersebut menjadi USD360,53 miliar. Selama 2014-2018, total utang luar negeri bertambah 67,2 miliar dolar AS atau tumbuh sekitar 22,91 persen.

Baca juga: Menghitung Keuntungan dari Investasi Surat Berharga Negara

Related

News 3093492524239705069

Recent

item