Di Swedia, Makin Sedikit Orang yang Bisa Melihat Uang

 Di Swedia, Makin Sedikit Orang yang Bisa Melihat Uang

Naviri Magazine - Jika ada benda yang setiap hari kita lihat bahkan kita sentuh, benda itu pastilah uang. Pasalnya, kita menggunakan uang untuk berbagai hal, untuk beragam kepentingan dan kebutuhan. Mau beli sarapan, pakai uang. Naik angkutan umum, pakai uang. Mau makan siang, pakai uang. Dan begitu seterusnya. Karenanya, setiap hari bahkan setiap saat kita pasti melihat uang.

Namun, hal berbeda terjadi di Swedia. Di sana, makin sedikit orang yang bisa melihat uang. Pasalnya, di Swedia kini makin marak penggunaan uang nontunai, sehingga tidak perlu menggunakan uang kertas.

Swedia adalah negara dengan perpindahan transaksi digital tercepat di dunia. Catatan International Monetary Fund (IMF) menyebut, selama dekade terakhir permintaan uang tunai telah turun lebih dari 50 persen.

Semakin banyak warga Swedia yang mengandalkan kartu debit maupun aplikasi telepon pintar untuk transaksi pembayaran sehari-hari mereka. Dengan begitu, hanya sebesar 13 persen dari transaksi perdagangan ritel di Swedia yang melibatkan uang tunai.

Cina masih menjadi negara dengan transaksi digital tertinggi di dunia. Data Statista menyebutkan nilai transaksi digital di Cina untuk 2019 diperkirakan menyentuh $1,58 triliun dengan 1,02 miliar pengguna. Diikuti selanjutnya oleh Amerika Serikat (AS) yang mencapai $978,88 miliar, Inggris sebesar $163,39 miliar, Jepang senilai $160,1 miliar, dan Jerman sebesar $121,78 miliar.

Indonesia masih tertinggal dalam hal transaksi digital. Sudah sejak satu dekade lalu BI mulai menyiapkan gagasan tentang masa depan non-tunai. Dalam kajian ”Pembayaran Non Tunai: Dampaknya Terhadap Perekonomian dan Kebijakan Moneter” yang diterbitkan oleh BI, disebutkan bahwa kehadiran alat pembayaran non-tunai bagi perekonomian nasional juga memberi manfaat terhadap peningkatan efisiensi dan produktivitas keuangan, guna mendorong aktivitas sektor riil yang menghela pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara umum. BI bahkan memprakarsai Gerakan Nasional Non-Tunai di tahun 2014.

Data bank sentral menyebutkan volume transaksi uang elektronik di Indonesia per November 2018 sebanyak 330,71 juta transaksi, dengan nilai mencapai Rp41,3 triliun. Statista memperkirakan, total nilai transaksi keuangan digital Indonesia tahun ini bisa naik 18,5 persen menjadi $26,57 miliar, dengan pengguna mencapai 113,4 juta orang.

Baca juga: Fakta, Simbol, dan Misteri Illuminati di Balik Dollar Amerika

Related

World's Fact 1701373824615681484
item