Hasil Studi, Jam Kerja Bebas Justru Meningkatkan Produktivitas

Hasil Studi, Jam Kerja Bebas Justru Meningkatkan Produktivitas

Naviri Magazine - Setiap pagi, orang-orang berangkat kerja ke kantor atau tempat kerja masing-masing. Ada yang berangkat jam 8 pagi, ada pula yang jam 9. Mereka biasanya akan menghabiskan waktu di tempat kerja selama 8 jam. Ada yang pulang jam 4 sore, ada pula yang jam 5. Kenyataan semacam itu umum terjadi di mana-mana.

Namun, kini, jam kerja semacam itu mulai dipertanyakan efektivitasnya. Benarkah penentuan jam kerja yang teratur seperti itu memang masih sesuai perkembangan zaman?

Di Kanada, sebuah penelitian menyebutkan lebih dari satu dalam tiap enam orang pegawai memalsukan izin sakit mereka, hanya karena kecapaian. Dua belas persen di antaranya beralasan kalau mereka butuh istirahat dari stres yang ditimbulkan pekerjaan, tapi tak mau bilang pada atasan.

Penelitian yang dilakukan oleh perusahaan asuransi Canada Life Group Insurance ini juga menyatakan, 24 persen pegawai meyakini kalau waktu kerja yang fleksibel akan menghindarkan mereka dari izin-izin tak masuk kantor yang tidak diperlukan.

Di Swedia, suster-suster yang bekerja 6 jam sehari tapi digaji sesuai upah kerja 8 jam sehari terbukti lebih produktif. Selama setahun, mereka mengikuti pola ini dalam sebuah penelitian yang dilakukan pemerintah Swedia. Mereka ingin melihat korelasi antara berkurangnya jam kerja dan meningkatnya produktivitas, yang rupanya berbanding lurus.

Studi ini juga menunjukkan para suster 2,8 kali lebih sedikit mengambil cuti, dan setengah kali lebih jarang sakit ketimbang suster-suster di rumah sakit lain yang bekerja 8 jam sehari.

Sementara 2008 lalu, ilmuwan Amerika telah lebih dulu menemukan hal serupa. Dalam Jurnal American Journal of Epidemiology dijelaskan, mereka yang bekerja 55 jam per minggu mengalami performa buruk dalam sejumlah tes kesehatan mental, ketimbang mereka yang bekerja 40 jam per minggu.

Seperti dikutip dari Bloomberg, seorang profesor kesehatan umum dari Universitas Negeri Ohio, Allard Dembe, menemukan, bekerja lebih dari 40 jam per minggu akan mengganggu kesehatan. Bisa menyebabkan gangguan jantung, kanker, encok, dan diabetes.

Temuan terbaru bahkan jelas-jelas menyarankan perusahaan-perusahaan untuk berpikir ulang tentang konsep kerja 9-5 (dari jam 9 pagi sampai 5 sore). Dalam jurnal American Sociological Review, peneliti dari Universitas Minnesota dan MIT menemukan beberapa faktor penting tentang tak efektifnya aturan 9-5.

Di antaranya, keleluasaan pegawai yang mengatur jam kerjanya sendiri menghasilkan tingkat stres yang jauh lebih rendah, psikologis lebih baik, dan tingkat kepuasan kerja yang tinggi.

Studi memang tak mengukur tingkat produktivitas pegawai, tapi berhasil mengaitkan tingkat kebahagiaan pekerja dan kinerja mereka yang berbanding lurus. Dalam sebuah uji coba, selama setahun, 850 pegawai yang dipilih acak dibagi jadi kelompok. Separuhnya dipekerjakan sesuai standar 9-5.

Kurang lebih, mereka akan menghabiskan hidupnya 45-50 jam per minggu di kantor. Sisanya diberikan pekerjaan yang lebih leluasa, mereka bisa mengatur kapan, bagaimana, dan di mana mereka bekerja. Kelompok ini dinamai STAR, akronim dari “support, transform, achieve, results”.

Kelompok STAR baru akan rapat dengan jadwal yang disesuaikan. Sebagian dari mereka bahkan ke kantor pukul 11 siang setelah mengantar anak ke sekolah atau pulang dari gym. Yang lainnya pulang dari kantor tengah hari, untuk bikin janji dengan dokternya.

Jadwal itu tak pernah sama setiap harinya, asal pekerjaan mereka selesai. Dalam penelitian ini, mereka juga diwajibkan untuk lebih fokus pada hasil kerja, dan belajar untuk lebih mendukung dalam kehidupan personal pegawai.

Jelas sekali, program STAR mengubah pola pandang pegawai dan perusahaan. Phyllis Moen, salah satu peneliti dari Universitas Minnesota, mengungkapkan seorang pegawai yang diperlakukan seperti orang dewasa yang paham kapan dan bagaimana menyelesaikan pekerjaannya, ternyata membuat orang-orang merasa lebih baik dalam bekerja.

Namun, Erin Kelly, rekan peneliti Moen dari MIT, sangsi kalau penelitian ini langsung bisa mengubah pola pandang seluruh pegawai dan perusahaan di dunia.

Ia mengatakan, bagi pegawai, melanggar aturan 9-5 yang dibuat perusahaan bisa jadi melekatkan mereka pada stigma pembangkang. Dan kemungkinan dipecat. Sementara banyak perusahaan yang masih berpikir kalau mengubah jam kerja akan berdampak pada penurunan produktivitas yang berpengaruh pada pendapatan.

“Pola kerja hari ini (aturan 9-5) didesain untuk para pekerja di pertengahan tahun 50. Ketika pria-pria berkerah putih dan biru punya istri yang mengurus rumah. Mustahil melakukan pola kerja begini, tanpa jadi sakit dan kewalahan,” kata Kelly.

Baca juga: Pola Pikir Orang Kaya yang Menjadikan Mereka Terus Kaya-Raya

Related

Psychology 8849625421217143661
item