Makna Kue Keranjang Saat Imlek, dan Cara Pembuatannya yang Unik

  Makna Kue Keranjang Saat Imlek, dan Cara Pembuatannya yang Unik

Naviri Magazine - Setiap kali perayaan Imlek tiba, kita pasti akan menemukan makanan khas yang mengiringinya. Apalagi kalau bukan kue keranjang. Bukan sekadar makanan, kue keranjang punya makna dan sejarah yang menarik.

Awalnya, kue yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini digunakan sebagai sesaji dalam upacara persembahan kepada leluhur, mulai tujuh hari menjelang Imlek sampai malam tahun baru.

Makna kue keranjang yang bulat dan lengket

Dalam bahasa Mandarin, kue bertekstur kenyal ini disebut juga dengan nian gao, diucapkan dengan nada meninggi pada akhir suku kata. Ini melambangkan pendapatan yang lebih tinggi, posisi yang lebih tinggi, pertumbuhan anak-anak, dan umumnya menjanjikan tahun yang lebih baik.

Sedangkan pada dialek hokkian, kue ini disebut ti kwe, artinya kue manis yang disusun bertingkat-tingkat dengan penyusunan dari bawah hingga atas semakin kecil.

Maknanya adalah peningkatan rezeki atau kemakmuran. Semakin tinggi kue keranjang, menandakan kemakmuran keluarga pemilik rumah.

Mindayani Wirjono, pembuat kue keranjang rumahan dengan label Sido Makmur di Kota Tegal, Jawa Tengah, mengatakan bahwa kue keranjang adalah penutup hal-hal buruk pada saat Imlek berlangsung. Ini juga menjadi lambang keyakinan agar selalu mendapat kebaikan di hari-hari selanjutnya atau pada masa yang akan datang.

Filosofi lain kue keranjang juga terletak pada kelengketannya, yang bermakna persaudaraan yang begitu erat dan selalu menyatu.

Rasa manis pada kue ini juga menggambarkan rasa sukacita, menikmati keberkatan, kegembiraan, dan selalu berusaha memberikan yang terbaik dalam hidup.

Bentuk bulat tanpa sudut pun melambangkan pesan kekeluargaan tanpa melihat ada yang lebih penting, dan akan selalu bersama tanpa batas akhir.

Membuatnya tak bisa sembarangan

Meski terlihat sederhana, membuat kue keranjang tidak mudah. Proses dimulai dari pemilihan ketan sebagai bahan utama. Jika kualitas ketan kurang baik, kue keranjang pun kurang maksimal.

Pembuatan diawali dengan mencuci ketan hingga bersih, kemudian ketan digiling, lalu dicampur dengan gula pasir. Setelah adonan merata, disimpan di dalam wadah dan dikukus selama kurang lebih 14 jam.

Uniknya, ada pantangan untuk membuat kue ini, yaitu tidak boleh dibuat oleh perempuan yang sedang haid, atau mereka yang baru saja melayat orang meninggal. Konon, akan membuat kue tidak sempurna.

"Pasti kuenya tidak masak, hasilnya putih semua, tidak akan berwarna merah. Atau kuenya menjadi cair semua, tidak akan beku walau dikukus berhari-hari," kata Tan Joe Lie, pemilik usaha kue keranjang di Pontianak, Kalimantan Barat.

Saat ayahnya meninggal dunia, Tan Joe Lie pun sempat menghentikan produksi kue keranjang untuk sementara waktu.

Baca juga: Ini Durian Termahal di Indonesia, Harganya Rp14 Juta Per Buah

Related

World's Fact 8986287503254673379
item