Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati (Bagian 2)

Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Bisa dipastikan bahwa di sana masih ada sejumlah naskah yang potongan­potongannya belum terpublikasikan, dan oleh pihak-pihak tertentu sengaja dirahasikan keberadaannya, agar dengan demikian dilupakan kembali oleh sejarah.

Akan tetapi, bagian yang telah dipublikasikan sebelumnya, cukup untuk memberikan penjelasan kepada kita, apa sejatinya misteri yang oleh pihak tertentu sengaja ditutup-tutupi. Inilah yang hendak kita coba untuk mengungkapnya pada bahasan-bahasan berikut.

Manuskrip Laut Mati adalah sekumpulan tulisan tangan kuno yang ditemukan antara tahun 1947-1956 di dalam gua­gua tersembunyi di pegunungan yang terletak di sebelah barat Laut Mati, antara lain kawasan Qumran, Muraba'at, Khirbat, Mrd, Ein Jeda, dan Masada.

Penemuan tersebut, khususnya yang berasal dari wilayah Qumran atau Umran, wilayah Tepi Barat Jordan yang berjarak hanya beberapa kilometer selatan kota Yerikho (Areeha), semenjak setengah abad yang lalu, telah membawa dampak sangat dalam pada pola pikir peneliti-peneliti Yahudi dan Kristen di seluruh dunia.

Selanjutnya, penemuan-penemuan spektakuler itu, secara pasti, telah mengakibatkan terjadinya perubahan pada banyak struktur kepercayaan yang selama ini diyakini di Palestina. Meski demikian, kita masih berada di awal langkah, sehingga belum bisa diharapkan untuk mendapatkan hasil-hasil yang sempurna, kecuali bila seluruh naskah yang ada dipublikasikan dan dipahami maknanya oleh para peneliti.

Ketika Perang Dunia II hampir reda, tepatnya pada Februari 1947, ditemukan gua pertama dekat Laut Mati. Ketika itu, Palestina di bawah perwalian Inggris dan Jerusalem masih dalam genggaman rakyat Palestina.

Awalnya, Muhammad Ad-Dib, seorang anak gembala, kehilangan seekor domba miliknya. Ia berasal dari suku Ta'amirah yang mendiami wilayah yang membentang dari Jerusalem hingga tepian Laut Mati. Dalam usaha menemukan dombanya yang tersesat, anak gembala itu naik ke sebuah batu cadas.

Dari tempat itu, ia melihat celah sempit dari sebuah tebing yang berhadapan dengan lereng gunung. Dipungutnya sebuah batu, ia lemparkan batu itu ke dalam gua, dan sekonyong­konyong terdengar benturan batu yang dilemparkannya dengan benda-benda yang tampaknya terbuat dari bahan tembikar.

Gembala kecil itu kemudian menaiki lereng gunung, dan mengintip dari atas. Dalam suasana remang-remang, Muhammad menyaksikan sejumlah perabot dari tembikar yang tersusun rapi di lantai gua. Esok paginya, Muhammad kembali ke gua, diikuti beberapa orang kawan. Dan benar, di dalam gua itu mereka menemukan seperangkat perabot dari tembikar, dan tujuh gulungan tulisan tangan.

Dalam waktu singkat, naskah manuskrip tulisan tangan itu telah dipamerkan untuk dijual oleh pedagang barang antik di Jerusalem, bernama Kando. Ia membeli barang itu dari seorang penduduk Ta'amirah. Athanasius Samuel, Kepala Biara Katolik Saint Markus di Swiss, yang pada saat itu sedang berada di Jerusalem, membeli 4 buah manuskrip. Sedangkan 3 buah lainnya dibeli oleh Profesor Eliezer Sukenik dari University of Hebrew di Jerusalem.

Ketika Perang Arab-Israel berkecamuk, menyusul proklamasi berdirinya negara Israel pada 15 Mei 1948, Atanasius khawatir akan nasib naskah-naskah kuno yang dibelinya. Ia berniat mengirimkan keempat naskah itu ke Amerika Serikat untuk dijual di sana.

Namun, akhirnya naskah-naskah itu dibeli oleh Yigael Yadin, anak Profesor Sukenik, dengan harga seperempat juta dollar AS, atas nama Hebrew University di Jerusalem. Dengan demikian, tujuh naskah temuan pertama itu berada dalam kepemilikan Hebrew University di Israel.

Ketika dicapai kesepakatan damai Arab-Israel pada 7 November 1949, kawasan Qumran dan sepertiga bagian utara Laut Mati menjadi wilayah teritorial Kerajaan Hashemit Jordania, sehingga dengan demikian pihak berwenang di Jordan dapat leluasa melancarkan rangkaian ekspedisi arkeologis, guna melacak keberadaan manuskrip kuno yang masih tersisa.

Meskipun di pihak lain warga Ta'amirah merahasiakan keberadaan gua­gua misterius itu, namun akhirnya pihak berwenang Jordan berhasil menemukannya pada akhir Januari 1949.

Menyusul penemuan lokasi gua-gua Qumran, pihak berwenang Jordan segera melancarkan ekspedisi pencarian di dalam gua-gua tersebut. Di bawah pengawasan G.L. Harding, seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris yang yang menjabat sebagai Direktur Departemen Arkeologi Jordan, bersama Pendeta Roland de Vaux, direktur French Dominican I'Ecole Biblique, di Jerusalem Timur, ekspedisi itu berhasil menemukan ratusan potongan kecil di dalam gua, berikut benda-benda kuno dari tembikar, kain, dan benda-benda dari kayu.

Benda-benda antik tersebut tentu sangat membantu upaya menentukan masa sejarah tulisan-tulisan tangan dari zaman kuno itu.

Namun, sayangnya, ekspedisi kali ini tidak dilanjutkan hingga mencakup wilayah Khirbat, dataran di bawah lokasi gua, kecuali pada November 1951, ketika ditemukan puing-puing perkampungan kuno yang didiami para pengikut sekte Esenes.

Di dalamnya juga ditemukan benda­benda kuno Romawi, antara lain kepingan uang logam, yang dari masa pembuatannya mengindikasikan gua-gua tersebut dihuni oleh orang-orang tertentu, hingga berkobarnya gerakan pemberontakan Yahudi melawan penguasa Romawi antara tahun 66-70 M, yang berakhir dengan pembumihangusan kota Jerusalem dan diusirnya bangsa Yahudi dari kota tersebut dan wilayah-wilayah lain di sekitar Jerusalem.

Baca lanjutannya: Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati (Bagian 3)

Related

Mistery 6602628610062891586
item