Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati (Bagian 3)

Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Konspirasi Rahasia di Balik Raibnya Naskah Laut Mati - Bagian 2). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Karena ingin mendapatkan keuntungan materi, penduduk Ta'amirah menjelajahi hampir seluruh kawasan tepi Laut Mati, guna menemukan manuskrip-manuskrip lain yang diperkirakan masih tersembunyi di gua-gua wilayah pegunungan.

Pada November 1952, seorang warga Badui Ta'amirah berhasil menemukan gua lain yang di dalamnya terdapat sejumlah besar gulungan manuskrip yang telah lapuk, dan menjadi potongan­potongan kecil. Ia kemudian menjualnya kepada pihak berwenang di Jordan.

Cara pencarian yang dilakukan oleh penduduk Ta'amirah itu kemudian ditiru oleh pemerintah Jordan untuk melakukan eksplorasi di gua­gua Laut Mati, dalam upaya menemukan naskah­naskah yang masih tersisia.

Puncaknya, pada 1965, ditemukan sekumpulan gua yang terdiri dari dua belas buah, juga di wilayah Qumran. Gua-gua baru yang ditemukan itu selanjutnya diberi nomor sesuai urutan penemuan. Warga Ta'amirah menemukan gua nomor 1, 4, dan 6, sedangkan tujuh gua lainnya ditemukan oleh pihak berwenang Jordan.

Di pihak lain, Athanasius—setelah melakukan tes kelayakan arkeologis naskah-naskah Laut Mati—telah memberikan penjelasan kepada Pater De Voux, yang selanjutnya ditunjuk menjadi penanggung jawab ekspedisi arkeologis Jordan dalam upaya menemukan naskah-naskah kuno di Qumran, merangkap penanggung jawab proyek penyiapan dan penerjemahan naskah.

Oleh De Foux, potongan­potongan naskah yang ditemukan di Gua Nomor 1 diserahkan kepada Dominique Partolemi dan Millick, keduanya patner kerja De Foux di French Dominican I'Ecole Biblique. Penerbitan naskah terjemahan dilakukan oleh Oxford University pada 1955.

Menyusul sesudah itu, pada 1961, terjemahan manuskrip yang ditemukan di gua kawasan Muraba'at, arah selatan Qumran, oleh Josef T. Milik, telah dipublikasikan pula. Bagian keempat dari manuskrip Muraba'at yang berisi kitab-kitab Mazmur yang berasal dari temuan di gua nomor 11 itu dipublikasikan pada 1965. Sedangkan bagian kelima yang merupakan potongan-potongan yang berasal dari gua nomor 4 diterbitkan pada 1968.

Pada perkembangan berikutnya, ditemukan pula manuskrip-manuskrip kuno di gua-gua lain di luar kawasan Qumran, antara lain di wilayah Mird, arah barat daya Qumran, Muraba'at (arah tenggara Qumran), dan Masada, sebuah benteng kuno Yahudi di selatan Laut Mati, yang dikuasai pemerintah Israel.

Dalam usaha menemukan manuskrip-manuskrip kuno itu, penduduk Qumran tidak puas dengan pencarian di Qumran saja, mereka bahkan telah menjelajahi hampir seluruh kawasan pegunungan yang membentang sepanjang kawasan pantai Laut Mati.

Pada Oktober 1951, lagi-lagi seorang warga Badui Ta'amirah menemukan sejumlah manuskrip dalam bahasa Ibrani dan Yunani, di sebuah gua di kawasan oase Muraba'at, kurang lebih 15 km selatan gua Qumran yang pertama, lalu ia menjual naskah temuan itu kepada pihak berwenang Jordan.

Pada saat yang sama, sejumlah warga Ta'amirah lainnya menemukan sebagian tulisan-tulisan kristiani di wilayah Mird, dekat Qumran, di antaranya tertulis dalam bahasa Suryani.

Sebuah tim ekspedisi yang beranggotakan para arkeolog Israel, di bawah pimpinan Yigael Yadin, juga melakukan pencarian naskah kuno antara tahun 1963-1965, khususnya di bekas-bekas peninggalan di benteng Masada, dalam wilayah kekuasaan Israel, arah timur laut kota Arikha (AI-Khalil), dan berhasil menemukan beberapa naskah kuno.

Pecahnya Perang Arab-Israel tahun 1967 menyebabkan jatuhnya wilayah Tepi Barat ke dalam cengkeraman pemerintah pendudukan Israel, begitu juga museum Jerusalem, tempat di simpannya manuskrip-manuskrip kuno.

Tidak ada yang terlepas dari penguasaan pihak berwenang Israel selain sebuah manuskrip tembaga, sebab pada saat itu naskah berada di Amman, Jordan. Dan semenjak saat itu, semua aktivitas publikasi naskah kuno praktis terhenti.

Catatan:

Pada saat bahasa Yunani menjadi bahasa yang umum dipakai di wilayah Mediteranian, Kitab Perjanjian lama—Bible berbahasa Ibrani—kurang komprehansif bagi sebagian besar masyarakat.

Karena alasan ini, para sarjana Yahudi menerjemahkan Kitab Perjanjian Lama dari bermacam-macam teks Ibrani, juga dari fragmen-fragmen berbahasa Aramaik, ke dalam bahasa Latin. Inilah yang disebut "Septuagint". Lihat Encyclopaedia Britannica Deluxe Edition 2004.

Baca juga: Memahami Makna Rahasia di Balik Simbol-simbol Illuminati

Related

Mistery 4478910444692228245
item