Perkembangan Teknologi Digital Indonesia 3 Tahun ke Depan

Perkembangan Teknologi Digital Indonesia 3 Tahun ke Depan

Naviri Magazine - Perkembangan teknologi kerap tak terduga. Yang terjadi sebenarnya bukan lagi perkembangan yang perlahan, tetapi lompatan. Dari satu perubahan ke perubahan lainnya, durasinya semakin cepat dan wujudnya semakin mengagumkan. Bagaimana dengan perkembangan teknologi digital di Indonesia?

Perusahaan riset International Data Corporation atau IDC memaparkan 10 prediksi transformasi digital di Indonesia untuk tiga tahun ke depan atau 2019 hingga 2022.

Head of Operations IDC Indonesia, Mevira Munindra, memperkirakan jumlah belanja industri teknologi dan informasi (TIK) mencapai Rp465 triliun pada tahun ini.

Kesepuluh prediksi tersebut adalah digitalize economy. Vira mengatakan, 61 persen PDB (produk domestik bruto) Indonesia akan diredigitalisasi pada 2022. Pertumbuhan digital ini akan mendorong belanja IT sebanyak US$78 miliar atau Rp1.072 triliun selama tiga tahun.

Selanjutnya, digital-native IT. Pada 2022, 50 persen anggaran belanja IT akan digunakan untuk teknologi platform ketiga. Setengah dari organisasi yang ada akan membangun digital-native guna mengembangkan ekonomi digital.

"Prediksi ketiga adalah expand to the edge. Tiga tahun lagi ada lebih dari 15 persen penyebaran cloud di Indonesia yang akan mengadopsi edge computing. Kemudian, 10 persen sistemnya akan menggunakan algoritma artificial intelligence (AI)," kata Vira.

Kemudian, ada appdev revolution. Ia menuturkan, 40 persen aplikasi baru akan menghadirkan fitur microservices architecture. Prediksi kelima yaitu new developer class, di mana pengembang profesional dapat menghasilkan kode tanpa skrip khusus, sehingga mempercepat transformasi digital.

Prediksi berikutnya digital innovation explosion. Dalam rentang 2018-2023 akan terdapat alat dan platform baru. Dengan begitu akan lebih banyak lagi pengembang yang membuat lima juta aplikasi logis.

Ketujuh adalah growth through specialization, yang tiga tahun kemudian memprediksi komputasi awan akan berdasarkan prosesor non-x86. Kedelapan, ada AI yang memungkinkan UI (user interface) menggantikan aplikasi berbasis layar.

"Lalu, ada 10 peringatan keamanan yang akan ditangani oleh AI dan sekitar 2 juta orang akan memiliki identitas digital berbasis Blockchain. Terakhir, 4 industri komputasi awan terbesar akan menguasai 60 persen IaaS/PaaS (platform as-a-service)," ungkap Vira.


Related

Technology 7014987717477819811
item