Sejarah Film Gangster Sampai Munculnya Detektif Paling Terkenal

Sejarah Film Gangster Sampai Munculnya Detektif Paling Terkenal

Naviri Magazine - Dalam Gangster & Detektif, Mark Wilshin menampilkan para penjahat yang menjadi berita sensasional selama masa Depresi Besar di Amerika Serikat. Sejak penampilan pertamanya, gangster dalam sinema –dengan penampilan jas garis-garis dan topi berbahan felt– telah menjadi pahlawan fantasi.

Film gangster menjadi pelarian sinematik ke dalam suatu kehidupan mewah, petualangan, dan kejahatan. Film dunia bawah tanah ini dipelopori oleh Griffith dengan film bisu, The Musketeers of Pig Alley (1912).

Diangkat dari aksi sensasional para gangster dalam kehidupan nyata seperti ‘Baby Face’ Nelson (1957), Al Capone (1959), Bonnie and Clyde (1967), dan John Dillinger (1973), film gangster menggambarkan mimpi buruk di kota-kota yang dipenuhi dengan adu tembak, pembantaian, dan pembunuhan antar gang.

“Bonnie Parker dan Clyde Barrow merupakan penjahat yang terkenal. Mereka merampok pom bensin dan bank semasa Depresi Besar. Pada 1934, pasangan buron ini ditangkap di Louisiana, AS. Mereka menjadi terkenal ketika puisi Bonnie yang menceritakan petualangan mereka diterbitkan,” tulis Mark.

Setelah masa-masa kejayaan film gangster, badan sensor Amerika Serikat membatasi seks dan kekerasan di layar lebar pada 1934. Tak ada lagi tempat bagi mafia. Polisi, yang tak berdaya di film-film gangster, diubah menjadi pahlawan.

Bullets of Ballots (1936) yang dibuat untuk menanggapi film-film mengagumkan para gangster, dibintangi oleh Edward G. Robinson. Dia berperan sebagai polisi tangguh yang bergabung dengan mafia untuk menghancurkannya dari dalam.

Dengan menggunakan aktor-aktor terkenal yang sebelumnya berperan sebagai gangster, polisi-polisi ini menjadi idola Hollywood. Contohnya James Cagney dalam G-Men (1935), sebuah film yang mendokumentasikan kelahiran FBI (Federal Bureau Investigation).

Seiring waktu, para penjerat penjahat berevolusi menjadi polisi kotor. Lembaga kepolisian dinodai oleh polisi yang jahat, suap, dan korupsi. Film Serpico (1973), diangkat dari kisah nyata, menceritakan korupsi di lembaga kepolisian New York. Seorang polisi, Serpico, berhadapan dengan para perwira polisi korup yang mendapatkan uang dari para penjahat.

Tak seperti polisi penangkap gangster, para detektif profesional memiliki kecerdasan yang mengalahkan para penjahat lewat penyelidikan pembunuhan di jalanan London yang berkabut dan berlampu minyak di era Victoria, atau di lingkungan kelas atas pada 1930-an.

Sherlock Holmes, detektif profesional ciptaan Sir Arthur Conan Doyle, yang kali pertama tampil pada 1887, merupakan karakter sinema yang paling sering difilmkan. The Guinness World Records mencatat Sherlock Holmes sebagai “karakter yang paling banyak digambarkan” dengan 75 aktor berperan dalam lebih dari 211 film.

 

Related

Film 5951974073387977818
item