Hati-hati, Terlalu Optimistis Malah Bisa Berujung Kegagalan

 Hati-hati, Terlalu Optimistis Malah Bisa Berujung Kegagalan

Naviri Magazine - Optimisme adalah sikap yakin bahwa segala hal akan berjalan dengan baik, sebagaimana yang diinginkan. Sementara pesimisme adalah sebaliknya. Karena optimisme terkesan positif dan pesimisme terkesan negatif, kita pun diminta agar membiasakan diri untuk bersikap optimis. Sayangnya, banyak orang yang sulit membedakan antara optimis dan realistis.

Sejumlah penelitian ternyata telah membuktikan bahwa rasa optimistis dan pikiran positif mampu membuat orang mengalami kegagalan, meski banyak buku mengenai kepemimpinan menyatakan hal sebaliknya, di mana pikiran negatif dan rasa ragu dapat menghalangi jalan orang menuju sukses.

"Hanya dengan menjadi [orang yang berpikir] positif dan happy go lucky tidak akan membuat hal berjalan dengan baik — [kita] harus mencampurnya dengan realisme," sebut Michael Stausholm, Chief Executive Officer Sprout, sebuah startup yang memiliki kantor pusat di Amerika Utara dan Denmark, seperti dikutip dari BBC.

Apa yang dikatakan Stausholm tidak salah. Gabriele Oettingen, seorang profesor psikologi di New York University, mengatakan bahwa ketika mempelajari pikiran positif (positive thinking), ia menemukan energi (diukur dari tekanan darah) orang-orang yang menjadi subjek penelitiannya jatuh ketika pikiran mereka dipenuhi dengan fantasi mengenai masa depan, seperti ketika mereka bermimpi memperoleh pekerjaan ataupun mendapat uang.

Yang terjadi kemudian, lanjutnya, sering kali orang-orang yang telah jatuh pada khayalan bahwa mereka telah mencapai apa yang menjadi tujuan atau impiannya, tidak memberikan upaya yang cukup untuk mencapai tujuan mereka.

Oettingen dalam studinya menemukan, misalnya, para lulusan universitas yang berkhayal mendapatkan pekerjaan impian, dua tahun setelah lulus akhirnya memperoleh pendapatan dan menerima tawaran pekerjaan yang lebih sedikit daripada lulusan yang peragu dan selalu dipenuhi kekhawatiran.

Ternyata para lulusan optimistis terbukti mengirim aplikasi pekerjaan lebih sedikit dibandingkan para lulusan pesimistis.

"Mereka berfantasi tentang [impian mereka] dan kemudian merasa sudah mencapainya dan bersantai," katanya.

Di sisi lain, Tali Sharot, pengarang buku The Optimism Bias and Direktur Affective Brain Lab, dalam studinya menyadari jika orang memiliki bias yang inheren terhadap optimisme. Bias tersebut kemudian membuat orang cenderung menggampangkan risiko yang mungkin terjadi.

Tidak semuanya buruk, memang. Bias optimisme, yang menurut Sharot, ada pada 80 persen populasi dunia, disinyalir mampu membuat orang termotivasi. Studi juga menunjukkan bahwa para optimistis hidup lebih lama, dan cenderung memiliki kesehatan yang baik.

Terkadang pula doktrin optimisme dapat membuat hal yang didoktrin menjadi terwujud, seperti yang terjadi pada orang yang percaya jika mereka dapat hidup lebih lama, dan hal tersebut menjadi kenyataan.

Yang terpenting dari itu semua, bias optimisme mampu membuat orang bertahan ketika berada pada situasi yang sangat buruk.

Di sisi lain, menurut sebuah penelitian The Institute for the Study of Labor atau IZA, optimisme memiliki hubungan negatif dengan para wiraswastawan.

Studi itu melihat optimisme seperti dua sisi mata uang yang bertolak belakang. Di satu sisi, optimisme terukur mampu membuat karyawan meningkatkan pendapatan mereka. Sebaliknya, hal yang sama membuat mereka yang memutuskan untuk berwiraswasta atau memimpin sebuah bisnis memiliki pendapatan yang terus menurun.

Hubungan negatif antara wiraswastawan dengan optimisme, sebut studi itu, mungkin terjadi karena para wiraswastawan memiliki kebebasan lebih untuk membuat keputusan daripada karyawan. Oleh karena itu, studi tersebut menyarankan agar para wiraswastawan mendasarkan keputusan mereka pada penilaian yang realistis terhadap alternatif-alternatif yang mungkin mereka ambil.

Baca juga: Kapan Seorang Manusia Mencapai Puncak Kecerdasannya?

Related

Psychology 8228411065222391986

Recent

item