Kisah Kesedihan Charles Darwin Saat Ditinggal Mati Putrinya

Kisah Kesedihan Charles Darwin Saat Ditinggal Mati Putrinya

Naviri Magazine - Selang seminggu setelah putri kesayangannya, Anne Elizabeth atau Annie, meninggal dunia akibat sakit pada 24 April 1851, Charles Darwin menumpahkan rasa sedihnya dalam sebuah memoar.

“Kami kehilangan sukacita dalam rumah tangga dan penghiburan masa tua kami –ia tahu betapa kami sangat mencintainya. Oh, betapa ia mampu merasakan kedalaman dan kepenuhan rasa cinta kasih kami hingga kini dan selamanya untuknya, si wajah pembawa kebahagiaan,” tulisnya, seperti dikutip dari The Life and Letters of Charles Darwin (1887).

Duka cita Darwin berlangsung lama. Ia menjadi tertutup, termasuk kepada istri dan anak-anaknya yang lain. Dalam autobiografinya, ia mengatakan, “Aku tak henti menitikkan air mata setiap terkenang tingkah laku Annie yang manis.”

Banyak orang menyimpulkan, kematian Annie pada usia 10 tahun menjadi faktor yang semakin menjauhkan Darwin dari kepercayaan ortodoks terhadap Tuhan dan penciptaan. Kesimpulan ini dibantah keras oleh para pendukung Darwin.

Teori seleksi alam dan evolusi Darwin, On the Origin of Species by Means of Natural Selection, or the Preservation of Favored Races in the Struggle for Life adalah hasil kerja keras Darwin selama hampir 20 tahun. Karya besar Darwin terbit kali pertama pada 1859 –delapan tahun setelah kematian Annie.

Related

Insight 717192660024794864
item