Kisah Sopir Bemo Sekolahkan 8 Anaknya Hingga Perguruan Tinggi

Kisah Sopir Bemo Sekolahkan 8 Anaknya Hingga Perguruan Tinggi

Naviri Magazine - Sofyan Sauri (62) tak menyangka, apa yang telah diperjuangkan ia dan istrinya, Siti Nasuha (56), berhasil mengantarkan 8 anaknya mengenyam pendidikan hingga perguruan tinggi.

Sebuah hal tak terbayangkan sebelumnya. Sofyan hanya seorang sopir bemo dan truk. Namun, ia punya keinginan anak-anaknya sekolah hingga menjadi sarjana. Tak ingin anak-anaknya mengikuti jejaknya yang hanya mengenyam pendidikan di bangku SMP.

Kegigihan Sofyan dan Siti, pasangan yang telah menikah selama lebih dari 40 tahun itu, mengantarkan mereka terpilih menjadi juara I dalam Lomba Penilaian Keluarga Sakinah Teladan Tingkat Kota Jakarta Timur.

"Saya dulu gagal, makanya anak saya harus bisa sekolah," kata pria yang akrab disapa Bang Ucup ini di kediamannya, kawasan Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Sebenarnya, Sofyan dikaruniai 11 orang anak dari pernikahannya dengan Siti. Akan tetapi, tiga di antaranya meninggal dunia. Dari delapan anaknya, hanya dua orang lagi yang masih kuliah.

"Sekarang tinggal dua saja yang masih kuliah, salah satunya yang paling bungsu, itu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Dia sudah semester VII," ujarnya.

Ia menyebutkan, beberapa anaknya yang menamatkan perguruan tinggi di antaranya Nur Ali Fikri (Diploma III STIE Indonesia Assyafi'iyah; Safinatunnaja (Magister, Universitas Negeri Jakarta—ia tak menyebut jurusannya); Yusliha Amaliah (S1 STIAMI); Aliyah Farhana (Akademi Bahasa Asing UNAS).

Aliyah dan Amaliah bahkan sempat mengikuti pertukaran pelajar ke Korea selama satu tahun. Aliyah, lanjut Sofyan, saat ini menjadi guru bahasa Korea.

Adapun seorang putranya, Daylami Syukroni, masih berstatus mahasiswa di Universitas Islam Jakarta.

Perjuangan, suka duka, pahit dan manis ibu kota dijalaninya demi pendidikan anak-anaknya. Sofyan menjadi sopir bemo selama 12 tahun, 1971-1983. Penghasilannya kala itu belum mencukupi kebutuhan ekonomi keluarga dengan banyak anak. Ia menyebutkan, penghasilannya saat itu berkisar Rp 1.500 hingga Rp 2.500.

Sofyan pun beralih menjadi sopir truk perusahaan swasta. Penghasilan yang lebih baik diperolehnya. Sofyan mendapat pinjaman dari perusahaan tanpa bunga untuk membantu biaya sekolah anak. Meski demikian, bukan berarti ia luput dari masa-masa sulit, terlebih ketika sebagian anaknya mulai kuliah.

Sang istri pun ikut membantu perekonomian keluarga dengan berjualan es dan kue, demi mendapatkan pendapatan tambahan. Ia mengenang, untuk biaya kuliah salah satu anaknya, pasangan ini rela menggadaikan maskawin pernikahan mereka.

"Saya juga ingat, istri saya pernah goreng telur dua butir, kami bagi delapan. Telur yang dibagi itu sampai kelihatan tipis," ujar Sofyan.

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Beberapa anaknya mendapatkan beasiswa, termasuk putri bungsunya yang kini kuliah di Kairo, Mesir. Dari dulu, kata Sofyan, ia tak pernah khawatir dengan jumlah anak banyak dan kemampuannya menghidupi keluarga.

"Guru ngaji saya dulu bilang jangan takut. Sebab yang mengatur dan memberi rezeki itu Allah," katanya.

Kini, Sofyan dan Siti bisa tersenyum bahagia melihat keberhasilan putra putri mereka. "Kami  sekolah enggak sampai selesai, tapi kami berkomitmen anak-anak harus selesai kuliah," ujar Siti.

Related

Inspiration 8442585666916199714

Recent

item