Misteri Penembakan Misterius di Indonesia Pada Era 1980-an

Misteri Penembakan Misterius di Indonesia Pada Era 1980-an

Naviri Magazine - Penembakan misterius alias Petrus, atau juga dikenal sebagai Operasi Celurit, dianggap banyak orang sebagai operasi rahasia di masa pemerintahan Orde Baru, untuk menghabisi para gali (gabungan anak liar) dan preman yang dianggap meresahkan dan mengganggu keamanan dan ketentraman masyarakat kala itu. Hingga kini, para pelaku Petrus tidak pernah tertangkap, dan tidak jelas siapa pelakunya.

Kemungkinan besar, operasi ini karena instruksi dari Presiden Soeharto di tahun 1982, saat memberikan penghargaan kepada Kapolda Metro Jaya, atas keberhasilannya membongkar kasus perampokan yang meresahkan masyarakat. Lalu, di tahun yang sama, Soeharto kembali meminta polisi dan ABRI di hadapan RAPIM ABRI untuk mengambil langkah pemberantasan yang efektif dalam menekan angka kriminalitas.

Karena permintaan atau perintah Soeharto disampaikan pada acara kenegaraan yang istimewa, sambutan yang dilaksanakan oleh petinggi aparat keamanan pun sangat serius. Permintaan Soeharto disambut oleh Pangkopkamtib Laksamana Soedomo, melalui rapat koordinasi bersama Pangdam Jaya, Kapolri, Kapolda Metro Jaya, dan Wagub DKI Jakarta, yang berlangsung di Markas Kodam Metro Jaya, 19 Januari 1983.

Dalam rapat yang membahas keamanan di ibu kota, kemudian diputuskan untuk melaksanakan operasi menumpas kejahatan bersandi Operasi Celurit di Jakarta dan sekitarnya. Operasi Celurit selanjutnya diikuti oleh Polri/ABRI di masing-masing kota serta provinsi lainnya. Para korban Operasi Celurit pun mulai berjatuhan.

Petrus awalnya beraksi secara rahasia. Namun, lambat laun, aksi mereka seperti teror menakutkan bagi para bromocorah dan preman di kota-kota besar. Pada tahun 1983, operasi itu menumbangkan 532 orang yang dituduh sebagai pelaku kriminal.

Dari semua korban yang terbunuh, 367 orang di antaranya tewas akibat luka tembakan. Tahun 1984, korban Petrus yang tewas sebanyak 107 orang, tapi hanya 15 orang yang tewas oleh tembakan.

Sementara tahun 1985, tercatat 74 korban Petrus tewas, dan 28 di antaranya tewas karena tembakan. Secara umum, para korban Petrus saat ditemukan dalam kondisi tangan dan leher terikat. Kebanyakan korban dimasukkan ke dalam karung dan ditinggal di tepi jalan, di depan rumah, dibuang ke sungai, hutan, dan kebun.

Yang pasti, pelaku Petrus terkesan tidak mau bersusah-susah membuang korbannya. Karena, bila mudah ditemukan, efek shock therapy yang disampaikan akan lebih efektif. Sedangkan pola pengambilan para korban kebanyakan diculik oleh orang tak dikenal, atau dijemput aparat keamanan.

Akibat berita yang demikian gencar mengenai Petrus yang berhasil membereskan ratusan penjahat, para petinggi negara pun akhirnya berkomentar. Ketika berita serupa hampir tiap hari muncul di seantero Jakarta, dan massa mulai membicarakan masalah penembakan misterius, Benny Moerdani, sebagai Panglima Kopkamtib, seusai menghadap Presiden Soeharto, lalu memberi pernyataan kepada pers bahwa penembakan gelap yang terjadi mungkin timbul akibat perkelahian antar geng bandit.

“Sejauh ini belum pernah ada perintah tembak di tempat bagi penjahat yang ditangkap,” komentar Benny. Dan tak ada seorang pun wartawan yang saat itu berani melanjutkan pertanyaan kepada jenderal yang dikenal sangat tegas dan garang itu.

Kepala BAKIN saat itu, Yoga Soegama, juga memberikan pernyataan yang bernada enteng, bahwa masyarakat tak perlu mempersoalkan para penjahat yang mati secara misterius. Tapi pernyataan yang dilontarkan mantan Wapres H. Adam Malik justru bertolak belakang, sehingga membuat kasus penembakan misterius tetap peristiwa serius dan harus diperhatikan oleh pemerintah RI yang selalu menjunjung tinggi hukum.

“Jangan mentang-mentang penjahat dekil langsung ditembak, bila perlu diadili hari ini langsung besoknya dieksekusi mati. Jadi syarat sebagai negara hukum sudah terpenuhi,” kecam Adam Malik, sambil menekankan, “Setiap usaha yang bertentangan dengan hukum akan membawa negara ini pada kehancuran.”

Tindakan tegas para penembak misterius (Petrus) pada akhirnya memang menyulut pro dan kontra. Pendapat yang pro, Petrus pantas diterapkan kepada target yang memang jelas-jelas penjahat. Sebaliknya, pendapat yang kontra menyatakan keberatan jika sasaran Petrus hanya penjahat kelas teri atau mereka yang hanya memiliki tato tapi bukan benar-benar penjahat.

Bahkan, bisa jadi pembunuhan biasa akan meniru ala Petrus, dan pembunuhan-pembunuhan kriminal asli berikutnya justru akan tak terkontrol.

Pendapat atau komentar yang cukup kontroversial dikemukakan oleh Menteri Luar Negeri Belanda, Hans van den Broek, yang secara kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta pada awal Januari 1984.

Setelah bertemu dengan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, Broek secara mengejutkan berharap bahwa pembunuhan yang telah memakan korban jiwa sebanyak 3.000 orang itu pada waktu mendatang diakhiri, dan Indonesia juga diharapkan dapat melaksanakan konstitusi dengan tertib hukum.

Menlu Mochtar menjawab bahwa peristiwa pembunuhan misterius itu terjadi akibat meningkatnya angka kejahatan yang mendekati tingkat terorisme, sehingga masyarakat merasa tidak aman dan main hakim sendiri.

Atas pernyataan Menlu Belanda itu, Benny yang merasa kebakaran jenggot sekali lagi harus tampil untuk meluruskan tuduhan. Ia kembali menegaskan dengan cara mengelak bahwa pembunuhan yang terjadi karena perkelahian antar geng.

“Ada orang-orang yang mati dengan luka peluru, tetapi itu akibat melawan petugas. Yang berbuat itu bukan pemerintah. Pembunuhan itu bukan kebijaksanaan pemerintah,” tegasnya. Namun, persoalan penembakan itu akhirnya tidak lagi misterius, meskipun para pelakunya hingga saat ini tetap misterius dan tidak terungkap.

Beberapa tahun kemudian, Presiden Soeharto justru memberikan uraian tentang latar belakang permasalahannya, di mana ia mengatakan tindakan keamanan tersebut memang terpaksa dilakukan, sesudah aksi kejahatan yang terjadi di kota-kota besar Indonesia semakin brutal dan makin meluas.

Seperti tertulis dalam bukunya (Benny Moerdani, hal 512-513), Soeharto berujar, “Dengan sendirinya kita harus mengadakan treatment therapy, tindakan yang tegas. Tindakan tegas bagaimana? Ya harus dengan kekerasan. Tetapi kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan, dor-dor! Begitu saja. Bukan! Tetapi yang melawan, ya mau tidak mau harus ditembak. Karena melawan, maka mereka ditembak.

“Lalu ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampui batas perikemanusiaan. Maka kemudian redalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu.”

Related

Mistery 2057001988936467539

Recent

item