Mengapa Ada Orang yang Nyaman Tinggal di Tempat Berantakan?

Mengapa Ada Orang yang Nyaman Tinggal di Tempat Berantakan?

Naviri Magazine - Sebagian besar orang mungkin suka tinggal di tempat yang bersih, rapih, dan teratur. Dalam contoh mudah, kita tentu senang kalau mendapati kamat terlihat bersih dan menenteramkan, sehingga kita juga bisa tidur dan istirahat di dalamnya dengan tenang. Bisa jadi, kita tidak nyaman kalau tidur di kamar yang kotor dan berantakan.

Namun, meski begitu, ada pula orang-orang yang kelihatannya nyaman-nyaman saja saat tinggal di tempat yang berantakan. Mereka seperti tidak peduli dengan suasana sekitarnya yang kacau balau, dan sepertinya juga tidak terlalu rajin bersih-bersih.

Pada umumnya, orang yang gemar bersih-bersih cenderung lebih teliti dan sangat memperhatikan detail. Sebaliknya, orang yang kerap menunda-nunda (atau gampangnya, malas) bersih-bersih, cenderung spontan dan kurang terorganisasi.

Aspek psikologis dari efek bersih-bersih pada menurunnya tingkat stres mungkin ada kaitannya dengan evolusi manusia. Ritual—termasuk mengepel, menyapu dan membersihkan WC—untuk mengurangi stres yang disebabkan bagian hidup mereka lainnya, jelas Martin Lang, pakar antropologi evolusi manusia dari Masaryk University di Republik Ceko yang mendalami kebiasaan ritualistik.

“Pikiran manusia senang sekali memprediksi segala hal,” kata Lang. “Kita selalu ingin tahu apa yang akan terjadi. Karena, dengan mengetahuinya, kita bisa selamat dan memanfaatkan sumber daya alam di sekitar kita.”

Makanya, ketika kita kehilangan kontrol—atau menyaksikan sesuatu yang berantakan dan tak bisa diperkirakan—kita bisa resah. Dari sudut pandang evolusi, hal itu dianggap sebagai impuls yang akan menolong manusia. “Kondisi ini memaksa kita untuk berhati-hati, dan berusaha mengontrol lingkungan sekitar kita agar tak dikagetkan oleh hal-hal yang bisa membahayakan kita.”

Tapi, ada beberapa faktor lain yang bisa menjelaskan kenapa kerapihan dan kebersihan bikin kita tenteram. “Jika rumah dan lingkungan tempat tinggal kita bersih dan rapih, kita bisa merasa nyaman dan bisa bergerak dengan bebas,” kata Lang. Ini yang menjelaskan kenapa kebersihan dan kerapihan punya efek menurunkan stres.

Saat bersih-bersih, gerakan dan perilaku kita cenderung mudah diprediksi dan repetitif. Ini saja “sudah jadi mekanisme kognitif yang bisa membantu kita menanggulangi keresahan,” katanya.

Dalam satu penelitian yang dia kerjakan, Lang menemukan bahwa orang yang grogi sebelum berpidato di depan publik, lebih sering kelihatan mengelap sesuatu dengan kain pembersih daripada mereka yang santai-santai saja sebelum tampil di depan banyak orang.

Dalam kondisi ekstrem, hubungan antara seseorang dengan aktivitas bersih-bersih menjadi penanda masalah yang lebih mengkhawatirkan. Ketakutan berlebih akan kuman, obsesi menata barang secara simetris atau mengikuti urutan tertentu, kebiasaan bersih-bersih yang berlebihan, adalah tanda-tanda gangguan obsesif-kompulsif, menurut National Institute of Mental Health.

Sebaliknya, orang yang bisa dengan santai tinggal di lingkungan yang berantakan mungkin mengalami penurunan aktivitas otak di bagian insular cortex dan amygdala, menurut sebuah penelitian.

Related

Psychology 766449095107050096

Recent

item