Sedona Method, Teknik Mengatasi Berbagai Masalah Hidup (Bagian 2)

Sedona Method, Teknik Mengatasi Berbagai Masalah Hidup

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sedona Method, Teknik Mengatasi Berbagai Masalah Hidup - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Sekarang, kita ingin menekankan agar kita selalu ingat pada 3 analogi di atas sebelum beranjak mengenai proses “pelepasan”. Pelepasan dapat membantu untuk membebaskan diri kita dari sebuah pola prilaku, pikiran, dan perasaan, yang tidak kita inginkan, seperti halnya rasa sakit.

Semua itu hanya membutuhkan keterbukaan diri kita sendiri, kondisi yang benar-benar terbuka, atau gampangnya pasrah. Dan “pelepasan” merupakan teknik yang sangat sederhana, yang membuat kita bebas untuk mengakses pemikiran yang lebih jernih.

Kita bisa memperoleh banyak manfaat dari teknik ini, apabila kita mengizinkan diri kita sendiri untuk melihat secara lebih dalam, mendengar lebih jauh, dan merasakan secara lebih nyata. Praktikkan teknik ini sebaik yang kita bisa, dengan hati, bukan dengan logika.

Memilih untuk "melepaskan"

Cari tempat yang tenang dan bebas gangguan, lalu buatlah diri merasa nyaman, rileks, dan fokuslah ke dalam hati. Mata bisa dibuka atau dipejamkan, terserah mana yang paling nyaman.

Langkah pertama

Fokuslah ke suatu masalah yang ingin kita rasakan. Supaya lebih baik, izinkan diri sendiri untuk merasakan apa pun perasaan yang kita rasakan sekarang.

Coba kenali perasaan tidak nyaman yang kita rasakan sekarang, yang memang tidak kita inginkan, misalnya cemas, risau, takut, marah, benci, dan semacamnya. Lalu, cukup terima saja perasaan tersebut dengan terbuka. Sekali lagi, terimalah dengan benar-benar terbuka, pasrahlah pada perasaan tersebut.

Instruksi ini mungkin terkesan menggampangkan, tapi memang ternyata itulah yang diperlukan. Kenyataannya, kebanyakan dari kita hanya menjalani hidup dari pemikiran-pemikiran, gambaran-gambaran, atau kisah-kisah tentang masa lalu dan masa depan.

Jarang dari kita yang sadar akan apa yang kita rasakan saat ini, di momen ini, pada detik ini, sekarang. Padahal, saat kita bisa melakukan sesuatu mengenai apa pun yang kita rasakan adalah sekarang!

Kita tidak perlu menunggu kekuatan dari dalam diri sendiri untuk muncul sebelum kita bisa melepaskan perasaan yang tidak kita inginkan tersebut. Bahkan, apabila kita sedang merasa mati rasa, hambar, hampa, atau kosong, itu semua merupakan perasaan-perasaan yang bisa dilepaskan, semudah perasaan lainnya.

Lakukanlah sebaik mungkin. Semakin kita sering mencoba proses ini, semakin mudah bagi kita untuk mengenali perasaan apa yang kita rasakan sekarang, dan memilih perasaan mana yang mau dilepaskan.

Langkah kedua

Tanyakan pada diri sendiri, satu dari tiga pertanyaan ini:
"Dapatkah aku melepaskan perasaan ini?"
"Dapatkah aku membiarkan perasaan ini tetap di sini?"
"Dapatkah aku menerima perasaan ini?"

“Ya” atau “tidak”, terserah, tidak ada jawaban yang salah dari jawaban-jawaban tersebut. Berdasarkan pengalaman dari banyak pelaku yang sudah mempraktikkan teknik ini, kita bisa melakukan teknik pelepasan tersebut walaupun jawabannya “tidak”.

Silakan lanjut ke langkah ketiga, entah apa pun jawaban dari pertanyaan pertama tersebut.

Langkah ketiga

Terserah pertanyaan mana yang kita pilih dan jawab, tanyakan kembali ke diri kita, satu pertanyaan sederhana ini: "Apakah aku rela untuk melepaskannya?"

Sekali lagi, jauhi konflik batin atas jawaban-jawaban tersebut. Ingat bahwa kita melakukan ini untuk menjalankan sebuah proses supaya bisa memperoleh kebebasan diri dan kemurnian pikiran.

Jika jawabannya “tidak”, atau jika kita tak yakin, tanyakan ke diri kita kembali: “Apakah aku lebih memilih memiliki perasaan ini, atau aku lebih memilih terbebas dari perasaan ini?”

Walaupun jawabannya mungkin tetap “tidak”, silakan lanjut ke langkah ke empat.

Langkah keempat

Tanyakan ke diri sendiri, pertanyaan sederhana ini: "Kapan?"

Langkah ini adalah sebuah ajakan untuk melepaskan itu sekarang!

Sebenarnya, kitan bisa saja dengan gampang melepaskan perasaan yang tidak diinginkan itu sekarang. Ingat, bahwa “melepaskan” adalah sebuah keputusan yang bisa kita buat kapan saja kita mau.

Langkah kelima

Ulangi keempat langkah di atas sesering mungkin sesuai kebutuhan, sampai kita merasakan kebebasan dari perasaan yang tidak diinginkan tersebut.

Pastinya, setiap pengulangan yang kita lakukan akan membuat kita menjadi jauh lebih mudah dalam melakukan proses pelepasan tersebut (let it go). Hasil pada saat percobaan pertama mungkin tidak begitu kita rasakan.

Tetapi jika kita gigih, mau untuk terus mengulangi langkah-langkah tersebut secara persisten, hasilnya akan lebih terasa, karena pikiran bawah sadar kita akan terus merespons pertanyaan-pertanyaan itu dengan mencari jawaban yang paling bijaksana bagi diri kita sendiri.

Sekali lagi, kita tidak perlu memaksa mencari jawaban ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Ajukan saja pertanyaan-pertanyaan tersebut terus menerus. Bombardir zona kritis (critical zone) kita dengan pertanyaan-pertanyaan di atas. Lakukan pengulangan, terus ulangi lagi dan lagi, sampai perasaan yang tidak kita inginkan tersebut menghilang.

Ya, menghilang, benar-benar menghilang.

Penutup

Sekali lagi, apa hubungan semua ini dengan penyakit? Sebelum melangkah pada penjelasan tersebut, perhatikan kutipan ini.

"When you remove the nerve interface, the power that made the body can heal the body."

Tubuh kita ternyata punya kekuatan untuk menyembuhkan diri. Makanya, cukup lepaskan perasaan sakit yang ada pada saraf sakit itu. Yang paling penting, saat kita sakit, jangan lupa untuk sabar dan ikhlas. Sabar dalam menghadapi sakit kita dengan tetap mensyukuri nikmat-nikmat lain yang Tuhan berikan, dan ikhlaskan penyakit yang kita alami dengan selalu memasrahkan diri sepenuhnya kepadaNya.

Yakinlah bahwa jika dua hal ini sudah kita pegang, maka obat hanyalah pelengkap, dan kesembuhan akan datang pada waktunya. Lester Levenson telah menjadi bukti atas hal ini, juga ratusan ribu orang lain yang sudah mencoba teknik ini dan merasakan keampuhannya.

Lagi pula, kita tentu percaya bahwa Tuhan tidak akan membebani seseorang di atas kemampuannya. Karena itu, sakit yang diderita pasti juga sudah diukur oleh Tuhan. Sesakit apa pun yang kita rasakan sekarang pasti sudah diukur, karena tidak mungkin Tuhan memberikan sesuatu kepada kita yang tidak bisa kita pikul.

Related

Psychology 6269214993909695684

Recent

item