Sherlock Holmes dan Hercule Poirot, Dua Detektif Legendaris Dunia

Sherlock Holmes dan Hercule Poirot, Dua Detektif Legendaris Dunia

Naviri Magazine - Sherlock Holmes dan Hercule Poirot adalah dua orang yang sebenarnya hanya hidup di dunia fiksi, namun nama mereka dikenang abadi seolah sosoknya benar-benar ada.

Sherlock Holmes dan Hercule Poirot hidup dalam lembar-lembar novel, yang belakangan juga sering diangkat ke layar lebar maupun serial televisi, dan kisah mereka terus diikuti dari zaman ke zaman.

Sherlock Holmes adalah tokoh fiksi yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Sedangkan Hercule Poirot adalah detektif ciptaan Agatha Christie. Holmes pertama kali muncul pada 1887, dalam novel berjudul A Study in Scarlet.

Sedangkan kemunculan perdana Poirot dalam novel The Mysterious Affair at Styles pada 1920. Sherlock Holmes tinggal di 221B Baker Street, sementara Poirot tinggal di 56B Whitehaven Mansions, Sandhurst Square. Keduanya sama-sama berlokasi di London, Inggris.

Pengarang kisah Holmes, Conan Doyle, mengatakan bahwa karakter Sherlock Holmes terinspirasi oleh Dr Joseph Bell. Doyle mengambil nama Sherlock Holmes dari Oliver Wendell Holmes yang sangat dikaguminya, dan dari atlet kriket Inggris bernama Sherlock.

Sedangkan menurut Agatha Christie, nama Hercule Poirot berasal dari dua detektif fiktif lain, yaitu Marie Belloc Lowndes Hercule Popeau dan Frank Howel Evans Poirot.

Kalau dilihat lebih lanjut, ternyata kedua detektif ini memiliki beberapa persamaan. Keduanya sama-sama mempunyai sahabat yang merangkap teman seperjuangan dalam menyelesaikan kasus. Holmes ditemani oleh dr. John H. Watson, sementara Poirot ditemani oleh Kapten Arthur Hastings.

Kisah kedua detektif itu pun sama-sama pernah diceritakaan dari sudut pandang sahabatnya. Selain itu, Holmes dan Poirot punya sekutu yang juga merangkap rivalnya. Seseorang dari Scotland Yard. Inspector G. Lestrade dalam seri Holmes, dan Inspektur James Harold Japp dalam seri Poirot. Baik Holmes maupun Poirot sama-sama tidak menikah.

Holmes pernah dikabarkan tewas, setelah jatuh bersama Profesor Moriarty dari Air Terjun Reichenbach, sementara Poirot pernah dinyatakan tewas dalam novel berjudul The Big Four. Tapi mereka tidak benar-benar mati.

Holmes “kembali hidup” dalam buku kumpulan cerita “Kembalinya Sherlock Holmes”, sedangkan  Poirot menampakkan diri kembali dalam penyergapan Empat Besar di pegunungan Ardennen.

Kematian keduanya sama-sama direncanakan untuk mengelabui lawannya. Dan dalam kematian tersebut, baik Holmes maupun Poirot sama-sama tidak memberitahu sahabatnya (dokter Watson dan kapten Hastings) bahwa kematiannya hanya pura-pura. Poirot benar-benar tewas karena bunuh diri dalam novel berjudul Curtain. Sedangkan kematian Holmes tidak diketahui detailnya.

Ada persamaan, pasti ada pula perbedaan. Begitu pula dengan Holmes dan Poirot. Dalam hal kepribadian, mereka bisa dikatakan bertolak belakang. Holmes berperawakan tinggi besar, sedangkan Poirot pendek-gemuk dan berkumis lebat.

Holmes yang berantakan dan pecicilan, sangat berbeda dengan Poirot yang rapi dan perfeksionis. Dalam menyelesaikan kasus, Holmes lebih suka menggunakan metode deduksi, sedangkan Poirot menggunakan metode psikologi.

Holmes biasa melakukan pemisahan antara fakta yang penting dan yang cuma kebetulan, lalu membuat teori berdasarkan fakta yang tersisa. Dia juga mengumpulkan data-data tentang peristiwa pembunuhan di masa lalu, karena Holmes berpendapat semua kasus pernah dilakukan dan akan dilakukan lagi.

Holmes lebih senang turun langsung ke tempat terjadinya kasus. Holmes tak terbiasa berdiam diri, dia lebih suka mondar-mandir ke sana kemari mencari bukti. Dia juga sering menyamar dalam menjalankan aksinya.

Berbeda dengan Holmes, Poirot lebih menyukai menganalisis aspek psikologis semua orang yang terlibat dalam kasus. Dia tidak terlalu suka berkeliaran mencari petunjuk-petunjuk. Cukup dengan mewawancarai beberapa sumber, dia bisa dengan mudah mengetahui karakter dan kepribadian pelaku.

Poirot sangat terampil dalam membedakan orang yang berbakat menjadi pembunuh dan yang tidak. Dia mengatakan, kejahatan apa pun dapat diselesaikan dengan hanya menempatkan potongan teka-teki secara benar. Dia adalah “detektif kursi”, hanya "duduk diam di kursi dan berpikir". Rasa bangga Poirot akan “sel kecil kelabu” yang dimilikinya adalah salah satu ciri khasnya.

Tentu saja, Holmes dan Poirot punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Karakter Holmes terkesan berantakan, namun unik dan menarik. Sementara Poirot punya sifat unik, yaitu suka membanggakan diri.

Related

Figures 3449854354768424812

Recent

item